Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Bismillah Cinta


__ADS_3

Alkan berusaha memejamkan kedua matanya, namun ternyata dia tetap saja tidak bisa. Diam diam pria berlesung pipi itu, melirik gadis yang sudah terlelap di sisinya.


Alkan menghela napas kasar, kala melihat bahu terbuka Cia. Dengan pelan si Bapak Penghulu tampan, menaikan selimut yang di pakai sang istri lebih tinggi lagi.


Jam di dinding kamar Cia sudah menunjukan pukul 12.10 dini hari. Alkan perlahan menggeser tubuhnya, dia berniat turun dari atas tempat tidur.


Namun sebelum kedua kakinya menyentuh lantai, salah satu lengannya sudah di tahan seseorang.


"Mas Al, mau kemana?" tanyanya serak.


Cia menahan lengan Alkan, dan tidak akan pernah mau melepaskannya lagi. Gadis itu sedikit menggeser tubuhnya mendekat pada Alkan, Cia tidak peduli dengan keadaannya yang setengah naked.


"Mas Al mau ninggalin Cici?" gumam pelan Cia.


Gadis itu menenggelamkan wajahnya di punggung Alkan, entah kenapa Cia merasa, kalau Alkan masih merasa canggung dengan situasi ini.


"Mas mau...," ucapan Alkan terputus.


"Apa Mas Al, terpaksa nikah sama Cici?" suara Cia semakin tercekat, bahkan gadis itu dengan cepat memotong ucapan Alkan.


Cia merasa kalau Alkan masih enggan berdekatan dengannya, bahkan saat kondisinya setengah naked pun, Alkan masih tidak ingin melakukan apa pun padanya.


Perlahan Cia melepaskan dekapannya, dia menahan air matanya sekuat mungkin agar tidak jatuh. Tanpa bersuara, Cia membalikan tubuhnya memunggungi sang suami.


Cia menyelimuti seluruh tubuhnya, sang gadis berpikir tidak ada gunanya walau dia full naked sakali pun saat ini. Alkan masih belum sudi menatapnya, apa mungkin Alkan masih belum siap menikahinya tadi?


Pikiran buruk terus saja menghantuinya, bahkan saat Cia sudah menutup mata pun air matanya masih saja turun. Hingga, tubuhnya menegang kala merasakan dekapan seseorang dari belakang.


Bahkan Cia merasakan kalau orang itu, tengah menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.

__ADS_1


"Kenapa nangis lagi? kamu nangis gara gara Mas, kan? maaf, Mas cuma belum mengerti. Ka-kamu tahu sendirikan, kalau ini adalah pengalaman pertama untuk kita berdua, Mas belum paham cara mainnya." gumamnya pelan.


Bahkan kedua tangan orang yang tengah mendekap erat tubuh Cia, semakin mengerat. Perlahan dia membalikan tubuh sang istri, agar menghadap kearahnya secara sempurna.


Alkan menghela napas pelan, kala melihat kedua mata Cia yang sudah lembab karena air mata.


"Jangan nangis, nanti Tuhan marah sama Mas, gara gara bikin kamu nangis, Cimut." bujuk Alkan lembut.


Satu tangannya terulur untuk menghapus air mata Cia, yang terus saja keluar tanpa henti. Bahkan dengan lembut Alkan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah sang istri.


Cup


Dengan lembut Alkan mengecup dahi Cia, membuat kedua mata wanita itu segera terbuka. Saat ini kedua netra beda warna itu saling menatap satu sama lain. Tanpa berkedip, keduanya terus saja mengagumi satu sama lain.


"Mas tidak pernah terpaksa, apa lagi menyesal menikahi kamu." ucap lembut Alkan.


Bahkan Cia sampai menggigit bibir bawahnya, saat merasakan hembusan napas Alkan menerpa wajahnya. Wangi pasta giginya yang Alkan telan, masih bisa Cia hirup.


"Boleh?" tanya Alkan pelan.


Cia tidak bisa bersuara, gadis itu hanya bisa mengangguk pelan. Kedua matanya tidak mampu lagi berkedip, kala melihat Alkan semakin mengikis jarak pada wajahnya.


Perlahan namun pasti, kedua benda kenyal, lembut serta basah dan yang pastinya, masih sama sama belum berpengalaman itu bertemu. Saling menempel, membuat detak jantung keduanya semakin bertalu kencang.


Melihat Alkan yang pasif, Cia perlahan menggerakkan bibirnya, untuk mengecap bibir sang suami. Pengalaman menonton drama romantis, akan Cia praktekan sendiri saat ini.


Alkan yang memang buta dengan hal ini, bahkan film romantis saja belum pernah dia tonton, terlihat pasrah membiarkan Cia mengambil kendali ciuman mereka. Saat ini biarkan si Cimut yang mengambil alih, setelah sang istri puas dia yang akan mengambil kendali.


"Manis, Cici suka." gumam pelan Cia di sela sela ciuman mereka. Alkan bahkan semakin mengembangkan senyumannya, sembari menekan lembut tengkuk serta pinggang Cia agar mereka semakin menempel erat.

__ADS_1


Entah siapa yang mulai, kini Cia dan Alkan sudah tidak berbusana. Tubuh keduanya tertutupi oleh selimut tebal, kali ini Alkan sudah mengambil kendali, dan Cia semakin kewalahan di buatnya, padahal Alkan belum masuk kedalam hidangan utama.


"Kamu sudah siap?" tanya Alkan lembut, bahkan si Bapak Penghulu masih sempat mengecup dahi Cia dengan penuh cinta.


"Cici siap." sahut Cia pasrah.


Alkan tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang selalu membuat Cia terpesona.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." [Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkan kami dari gangguan setan, dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang engkau rezekikan pada kami]


Alkan membacakan doa sebelum mereka melakukan hubungan penuh cinta, Alkan meniup beberapa kali ubun ubun Cia setelah selesai berdoa.


Dan sekarang keduanya kembali menyelami indahnya surga dunia, dalam cinta serta pahala yang akan mereka dapatkan. Pahala yang akan selalu mereka dapatkan, kala para bibit cinta berbondong bondong, berlarian menuju tempat mereka berkembang, yaitu rahim Grecia.



**TUTUP MATA TUTUP TELINGA


YUHUUUU MAAP YA KALO ADEGAN MP NYA GAK SEHOT YANG LAIN


OTHOR GAK MAU UDAH CAPEK NULIS EH DI HAPUS KAYAK DI DUKU MATENG KEMAREN


JADI SORRY KALAU KALIAN GAK PUAS DENGAN PART INI


SEMOGA BANYAK PELAJARAN YANG BISA KITA AMBIL DARI CERITA INI


JANGAN LUPA DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT TOMORROW

__ADS_1


BABAYYY MUUUAAACCHH**


__ADS_2