
Cia dan Berliana terus saja menatap pada pria yang ada di sebelah Yasmine, pria yang pernah mereka bayar mahal sekali saat DIAMOND QUEEN menyewanya.
Sementara si pria hanya menatap santai dan biasa saja, seakan tidak pernah mengenal mereka berdua. Salah satu tangannya selalu berada di pinggang atau bahkan di bahu Yasmine, interaksinya itu seolah menunjukan kalau dia benar benar mencintai Yasmine. Padahal? entahlah hanya sang model mata duitan dan Tuhan yang tahu.
"Jadi kalian juga akan menikah minggu depan?" Berliana mulai bertanya.
"Iya," sahut santai Elvier.
Sedangkan Yasmine hanya mengangguk, kedua matanya menatap sendu pada Berliana dan Cia.
Berliana menghela napas pelan, kedua tangannya meraih tangan Yasmine lalu menggenggamnya. Kedua mata indah Berliana menatap lembut pada adik sepupunya, Berliana sudah menganggap kedua saudarinya ini sebagai adik kandungnya.
"Kak Bell cuma bisa ngucapin selamat, usia bukan patokan seseorang bersikap dewasa. Tapi hati serta serta jalan pikiran kita yang sangat berperan penting, Kak Bell yakin kamu sudah bisa berpikir seperti itu." tutur pelan Berliana, ibu dua orang anak itu melebarkan senyumannya saat melihat Yasmine mengangguk.
Pandangannya beralih pada pria yang ada di sebelah adiknya, tatapan Berliana yang lembut berubah tajam penuh intimidasi.
"Aku harap kau tidak akan pernah menyakitinya, kalau kau memiliki pikiran buruk seperti itu, aku hanya memberi saran agar kau mengurungkan niatmu. Lebih baik kau kembalikan Melati putih milik Prayoga pada keluarganya, karena kami tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, termasuk kau- suaminya sendiri." ucap datar Berliana.
__ADS_1
Elvier tersenyum congkak, rangkulannya di pinggang Yasmine semakin mengerat.
"Kau jangan khawatir, kakak ipar." sahut Elvier santai.
Pria itu menatap Yasmine yang tidak mampu bersuara, gadis itu tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Yasmine merasa semakin bersalah, dan keputusan yang dia ambil sudah benar. Yasmine tidak akan membiarkan keluarganya selalu berkorban untuknya, terutama Berliana dan DIAMOND QUEEN. Kali ini dia yang akan berkorban, mengorbankan hidup dan masa depannya pada Elvier, sang model internasional yang mata duitan, sombong, arogan, angkuh, narsis, terkenal pemain wanita handal, otoriter bahkan misterius. Entah kenapa Yasmine merasa kalau Elvier bukan sekedar model.
🕊
🕊
🕊
"Cici ambilin makan ya, Mas Al harus makan dikit aja gak apa apa." rayu Cia.
Satu tangannya terus saja mengusap lembut rambut suaminya, interaksi keduanya tidak luput dari pandangan setiap pasang mata yang diam diam memperhatikan.
"Perut Mas masih mual, nanti saja. Mualnya hilang kalau Mas meluk kamu, Cimut." gumam pelan Alkan.
__ADS_1
Alkan bahkan tidak peduli kalau kelakuannya banyak di lihat orang, toh yang dia peluk saat ini adalah kekasih halalnya. Sedangkan Bunda Marwah yang sedari tadi melihat kelakuan sang putra hanya menggelengkan kepala pelan, Bunda Marwah tidak percaya kalau Alkan akan berubah manja seperti itu pada Cia.
Padahal sedari kecil Alkan tidak pernah manja pada siapa pun, tapi sekarang? saat dia sudah mau menjadi seorang Ayah dari ketiga calon bayi di dalam perut Cia- istrinya, Alkan berubah menjadi manja.
"Mantu Bunda jangan kamu peluk terus, nanti Cia sesak. Cucu cucu Bunda juga sesak, udah makan dulu sana. Jangan bikin mantu Bunda khawatir ya, terus stres gara gara mikirin kesehatan kamu. Jangan bikin Cia ikut malas makan, ini Bunda udah ambilin makan dulu!" omel Bunda Marwah.
Wanita paruh baya itu menyodorkan satu sendok nasi pada Alkan, karena pria berlesung pipi itu tidak kunjung menerima piring berisikan makanan yang Bunda Marwah bawa.
"Makan dulu ya, nanti kalau Mas Al gak makan Cici sama si kembar ikut gak-,"
"Iya, Mas makan, tapi kamu jangan pernah lupa buat makan. Jangan lupa minum susu sama vitaminnya, tidak boleh banyak pikiran, kalau ada apa apa ngomong langsung sama Mas jangan pakai kode kodean karena Maa pasti tidak akan mengerti." potong Alkan cepat.
"Iya sayang, ayo makan! biar Cici yang suapin, Bun." sahut Cia antusias.
SATU KATA UNTUK ELVIER
__ADS_1
SATU KATA UNTUK YASMINE