
"Alkan punya sesuatu buat Bunda sama Cia," tutur pelan Alkan.
Pria berlesung pipi itu meletakan sesuatu di atas meja, setelah makan malam mereka bertiga mengobrol ringan di ruang keluarga.
Cia dan Bunda Marwah saling tatap, lalu pandangan keduanya beralih pada lembaran kertas yang ada di atas meja.
"Ini-,"
"Mas beli mobil, maaf kalau Mas belum izin sama kamu dan Bunda juga. Mas pikir mulai saat ini kita akan membutuhkan itu, apa lagi setelah nanti si kembar tiga lahir. Mobilnya memang tidak terlalu mahal, tapi cukup untuk menampung kita ber enam nantinya. Tidak mungkinkan kita ber enam naik motor secara bersamaan, jangankan ber enam kita berdua saja sudah susah duduk." kekeh geli Alkan, memotong ucapan Cia.
Cia dan Bunda Marwah mengangguk, bahkan Cia segera memeluk lengan suaminya erat. Padahal Cia tidak masalah kalau harus naik angkot atau pun taksi saat berpergian, namun ternyata Tuhan memberikan rezeki lebih pada keluarga kecilnya.
"Makasih ya Mas, semoga Tuhan selalu memudahkan semua harapan dan keinginan kita." tutur Cia penuh harap.
Cia tidak pernah meminta lebih pada Tuhan, dia hanya memohon agar Alkan selalu dalam lindungannya, supaya pria berlesung pipi itu terus menemaninya sampai kapan pun. Di saat Cia sedih maupun senang, Alkan akan selalu ada untuknya. Cia tidak peduli Alkan memiliki apa, bagi Cia saat ini adalah Alkan selalu berada di sisinyaย itu sudah cukup.
__ADS_1
"Aamiin," ucap tulus Alkan dan Bunda Marwah.
" Mungkin pihak dealer mengirimnya besok, jadi mulai besok kamu yang memegang kuncinya." lanjut Alkan.
Pria berlesung pipi itu memeluk kedua wanita yang amat berharga dalam hidupnya, kedua wanita yang sudah menempati tahta tertinggi di dalam hati seorang Alkan, dan tidak akan pernah ada yang menggantikannya.
๐
๐
๐
Bahkan Alkan bekerja paruh waktu saat dia masih SMA kelas 3, mulai dari mengajar les anak anak SD dan SMP karena otak jenius yang dia miliki, hingga bekerja di sebuah restoran sepulang dari sekolah.
Tidak terasa air mata Bunda Marwah menetes, dia tidak menyangka kalau di hari tuanya nanti akan sebahagia ini. Memiliki 3 cucu kembar, putra yang berbakti serta menantu yang amat menyayanginya.
__ADS_1
"Bunda kenapa nangis? Bunda gak setuju ya Mas Al beli mobil, kalau memang Bunda gak setuju nanti Cici yang bakalan ngom-,"
"Bunda gak apa apa, Bunda cuma lagi ingat sama Almarhum Ayahnya Alkan. Kalau Ayah masih hidup, pasti sangat bangga melihat Alkan sekarang. Apa lagi kita bakalan punya cucu kembar tiga, Ayah pasti lebih bahagia dari Bunda saat ini." lirih Bunda Marwah.
Dia sedikit berbohong , namun tidak sepenuhnya berbohong bukan. Bunda Marwah memang tengah memikirkan Almarhum suaminya, wanita paruh baya itu berdoa agar Tuhan menempatkan sang suami di surga.
"Cici yakin Ayah bahagia, apa lagi Ayah punya anak laki laki kayak Mas Al. Cici aja sebagai istrinya bangga, apa lagi Bunda sama Ayah sebagai kedua orang tuanya. Udah ya Bunda jangan nangis lagi, nanti kalau Mas Al tau pasti dia sedih. kita doakan semoga kita bisa bertemu Ayah di surga nanti," ujar Cia menenangkan.
Si calon ibu muda itu memeluk Bunda Marwah dengan erat, Cia menghela napas pelan kala melihat Alkan sudah selesai menerima kunci mobil mereka dari pihak dealer.
"Masuk yuk Bun, kita cuci muka sebelum Mas Al tau kalau Bunda habis nangis." ajak Cia pada ibu mertuanya.
ADA YANG KANGEN BUNDA MAR
__ADS_1