Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Tripel A


__ADS_3

"Kapan mereka keluar?" gumam Alkan.


Pria berlesung pipi itu terus saja mengecupi perut buncit Cia, bahkan sesekali tertawa kecil saat merasakan tendangan ketiga anaknya.


"Beberapa minggu lagi, Mas." sahut Cia pelan.


Cia memejamkan kedua mata menikmati sentuhan Alkan, sentuhan yang paling dia sukai setiap malamnya. Alkan akan terus mengelus lembut perutnya sembari melantunkan beberapa surat surat pendek. Bahkan Alkan sering bershalawat sampai Cia tertidur di dalam dekapannya, karena kondisi perut Cia yang besar membuat wanita itu sedikit sulit saat tertidur.


Posisinya tidak sebebas dulu, sekarang Cia hanya bisa berbalik ke kiri dan ke kanan saja. Itu pun harus di bantu oleh Alkan, pria berlesung pipi itu akan segera sigap kala merasakan tempat tidur bergoyang.


"Mas, udah punya nama buat mereka?" tanya Cia.


Kedua mata wanita itu masih terpejam, bahkan sekarang Cia sudah berganti posisi membelakangi Alkan, membuat pria berlesung pipi itu dengan cepat mengelus punggung dan pinggang istrinya.


"Sudah," sahut Alkan lembut.


Usapannya perlahan berpindah, sentuhan tangan Alkan sudah menjalar ke bagian depan. Lebih tepatnya di perut Cia yang kembali berdenyut, membuat wanita itu meringis ngilu.


"Siapa?" tanya Cia lagi.


"Arsyaka, Alzaska, Aisya, gimana menurut kamu?"


Cia tersenyum mendengar nama yang di berikan oleh Alkan, Cia menyerahkan semuanya pada sang suami kalau soal pemberian nama untuk ketiga buah cinta mereka.


"Bagus, Cici suka namanya." sahut Cia antusias.


Sang Nyonya Alkan meraih tangan suaminya, lalu mendekap erat tanpa ingin melepaskannya lagi. Bahkan Cia memberikan banyak kecupan di sana, hingga perlahan kedua matanya tertutup karena semakin merasa nyaman.


🕊

__ADS_1


🕊


🕊


"Bunda mau ke tempat Bu RT dulu, kalau ada apa apa cepat telepon!"


Bunda Marwah mengingatkan pada putranya, untung saja hari ini weekend jadi Alkan ada di rumah dan Bunda Marwah bisa menghadiri acara di rumah bu RT.


"Iya Bunda, Alkan juga ada di rumah hari ini jadi Bunda jangan khawatir. Ayo Alkan antar, sebentar mau izin Cis dulu." ucap Alkan.


Namun langkahnya terhenti kala mendengar ucapan Bunda Marwah," Enggak usah, Bunda jalan aja Nak. Kamu jaga Cici, jangan kemana mana! Cici jangan sampai lepas dari pandangan kamu, mengerti!" cegah Bunda Marwah.


Alkan menghela napas kasar, lalu mengangguk patuh.


"Iya Bun,"


"Ya udah Bunda berangkat dulu, Assalamualaikum." pamit sang Bunda.


Si Bapak Penghulu mendudukan diri di kursi yang ada diteras rumah, pria berlesung pipi itu terus saja menatap punggung sang Bunda tanpa berkedip.


Prang!


Suara gaduh dari dalam rumah membuat Alkan tersadar kembali, tanpa menunggu lama dia segera masuk untuk memastikan. Kedua mata Alkan mengedar kesetiap penjuru rumah, namun sayangnya nihil. Cia tidak ada di setiap ruangan yang dia lewati, dan kini tujuan Alkan adalah dapur.


"Cimut?" panggilnya keras.


Kaki Alkan terpaku saat melihat ceceran susu dan pecahan gelas sudah mengotori lantai.


"M-Mas?" ringis Cia.

__ADS_1


Salah satu tangannya meremas pinggiran meja, kedua mata Cia terpejam saat merasakan gerakan ketiga bayinya secara bersamaan.


"Perut kamu sakit? kamu mau melahirkan? ayo kita ke rumah sakit, sebentar Mas mau ambil barang barang si kem-,"


"Mas, mereka cuma nendang bukan mau keluar. Maaf Cici numpahin susunya, tadi tangan Cici reflek buat pegang perut pas mereka nendangnya serempak, jadi gelasnya lepas." ringis Cia.


Perutnya masih terasa ngilu akibat tendangan brutal ketiga bayinya, entah apa yang tengah ketiganya lakukan di dalam sana.


"Kenapa gak bilang sama Mas aja sih," ujar Alkan penuh kekhawatiran.


Pria itu segera menuntun Cia duduk, lalu segera membersihkan pecahan gelas serta tumpahan susu dilantai.


"Mas kan lagi ngobrol sama Bunda, ya Cici gak en- aaww!" pekik Cia tiba tiba.


Entah kenapa dia merasa kalau tendangan dan gerakan si kembar tiga semakin aktif, bahkan lebih aktif dari biasanya.


"Ci-Cici, gak apa apa," ujar Cici menenangkan, saat melihat Alkan menghempaskan sapu serta kain pel'an ke lantai dan berlari ke arahnya.



BUMIL TERSAYANG MAS AL




**YUHUUUUUUU CERITA KEMBANG KUNTI UDAH UP GUYS, JANGAN LUPA MAMPIR YA! POKOKNYA OTHOR NANTIKAN KALIAN DI SANA


DISINI JUGA SIH HEHEHE

__ADS_1


BAB TAMBAHANNYA BAKALAN UP NANTI SIANG, SEE YOU BABAYY MUUUAACCHH**


__ADS_2