
Semua orang di sana terlihat khawatir, karena Cia tidak kunjung sadar. Lovyna dan Bunda Marwah terus saja berusaha membuat gadis, yang sudah berstatus istri itu terbangun.
Mami Lovy terus saja memijat telapak kaki sang putri, sementara Bunda Marwah mengoleskan sedikit minyak kayu putih, di hidung menantunya.
Bahkan Yasmine pun terus saja menatap prihatin pada saudaranya, gadis remaja itu tidak ingin jauh dari Cia. Yasmine duduk anteng di sebelah tubuh Cia, yang masih tak sadarkan diri.
Sedangkan Alkan, si Bapak Penghulu ganteng itu terlihat menatap khawatir pada Cia, yang tidak kunjung bangun. Alkan yakin kalau Cia pingsan gara gara shock, sama seperti dirinya. Walaupun dia mampu mengendalikan keterkejutannya.
Alkan terus saja berdiri di sisi Nagara- sang Ayah Mertua, yang tengah menatap santai pada Cia. Pria paruh baya itu terlihat menghela napas kasar, Nagara terlihat menoleh pada Alkan.
"Kalau Cici sudah sadar, kabari saja. Papi mau mengurus sesuatu di bawah, pasti si petasan renteng itu akan memaksa pulang sebentar, setelah tahu kejadian ini dari mata matanya," ujar pelan Nagara pada Alkan, pria berwajah bule itu menepuk pundak menantunya pelan. Setelah itu Nagara berlalu, di susul oleh Pace Ilham dan Opa Damar.
Nagara yakin kalau sebentar lagi Galaska akan memaksa pulang, saat mendapat kabar kalau Cia bukan hanya bertunangan, tapi juga menikah.
Para rombongan yang mengantar Alkan tadi, masih berada di bawah.Di temani oleh Barata, Radja, Gentala dan yang lainnya. Masih menikmati hidangan, walaupun si pengantin wanita semaput setelah ijab kobul karena shock.
Alkan kembali mengalihkan pandangannya pada Cia, dahinya mengernyit kala melihat kedua kelopak mata Cia berkedut pelan. Alkan memajukan langkah lebih dekat, saat ini si Bapak Penghulu sudah berdiri tepat di belakang tubuh Sang Bunda.
Dahi Cia mengernyit, perlahan kedua kelopak matanya terbuka. Sepertinya gadis itu masih menyesuaikan cahaya yang masuk, kedalam retina matanya.
Mace Reina dan yang lainnya menghela napas lega, saat melihat Cia sudah sadar, termasuk Alkan. Pria berkemeja abu abu itu menghela napas pelan, dalam hatinya terus saja menggumamkan kata Hamdallah.
__ADS_1
"Mau minum?" tawar Mace Reina cepat.
Wanita bercucu lima itu begitu mengkhawatirkan sang cucu, Mace Reina sangat tahu kalau malam ini, adalah malam yang penuh dengan kejutan.
Cia terlihat mengangguk pelan, kedua matanya kembali terpejam, Yasmine dan Mami Lovy terlihat membantu Cia agar bersandar di kepala ranjang.
"Mam, Yas keluar dulu ya." pamit Yasmine.
Gadis itu memberi ruang, agar si Bapak Penghulu bisa lebih dekat dengan Kakak Sepupunya. Mereka sudah menikah, jadi apa salahnya kalau dekat. Bahkan lebih dari dekat saja tidak masalah, mau guling, gulat, adu otot, adu yang lain juga tidak masalah, sudah halal ini.
Yasmine tersenyum kikuk pada Kakak Ipar sepupunya, gadis remaja berabaya tanpa hijab itu, bahkan sedikit membungkuk kala melewati si Bapak Penghulu.
Bunda Marwah dan Mami Lovyna pun terlihat saling tatap, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Cia, yang masih bersandar di kepala ranjang, sembari memejamkan kedua matanya.
"Mami juga mau nahan sesuatu di bawah, pasti di merecon renteng bakalan pulang sebentar lagi." ucap Mami Lovy terlihat kesal.
Dia masih kesal pada sang Putra, Galaska pasti akan memaksa pulang dari rumah sakit, saat tahu Cia pingsan dan menikah malam ini, tanpa sepengetahuannya. Karena yang Galaska tahu, sang adik hanya bertunangan.
"Kayaknya Bunda juga, mau ada yang di bicarakan sama Bu RT, ayo Besan." ajak Bunda Marwah pada Mami Lovy dan Mace Reina.
Kedua wanita beda usia itu mengangguk, mengiyakan ucapan Bunda Marwah. Ketiganya segera keluar dari kamar Cia, memberikan kedua pengantin baru itu ruang untuk bicara, dari hati ke hati. Mereka tahu kalau saat ini bukan hanya Cia yang shock, namun Alkan juga. Tapi si Bapak Penghulu itu lebih pandai mengontrol emosi serta perasaannya.
__ADS_1
Setelah melihat ketiga wanita dewasa itu keluar dari kamar, Alkan terlihat menghela napas pelan. Perlahan dia melangkah, mengikis jarak dengan Cia, yang masih memejamkan kedua mata.
Alkan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur mahal sang istri, satu tangannya terulur untuk meraih tangan kanan Cia. Lalu perlahan, Alkan memasukan cincin kedalam jari manis sang gadis, membuat gadis itu segera membuka matanya.
"M-Mas Al," ucap Cia terbata.
"Assalamualaikum, Humaira," sahut lembut Alkan, semakin membuat Cia membatu di tempat. Apa lagi saat mendengar, panggilan yang Alkan berikan padanya.
'Please, please, please, jangan bangunkan aku, kalau ini masih di alam mimpi.' pekik keras Cia dalam hati.
KUMIS MU MAS😘😘😘
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**
__ADS_1