
Lovy dan Gara terlihat memasuki loby rumah sakit, ibu dari dua orang anak itu terlihat khawatir, dia terus saja menggenggam erat telapak tangan suaminya.
Setelah mendapat kabar dari Melody, kalau Crystal sudah mereka temukan, dan keadaannya tidak baik. Lovy segera memaksa Gara, yang baru saja pulang mengontrol bengkel pusat untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, tanpa ada bantahan Gara pun mengiyakan keinginan sang istri.
Dan kini keduanya tengah bergegas menuju ruangan, dimana gadis asing itu dirawat. Di ikuti oleh Galaska, yang terlihat malas sekali untuk melangkah.
Kalau saja sang Mami tidak memaksa dan terus saja menatap dingin padanya, Galaska tidak akan sudi ikut ke tempat ini.
"Jalannya pelan pelan saja, Cinta." ucap Nagara penuh peringatan, saat melihat Lovy hampir saja terjerembab karena tersandung. Bahkan Nagara masih memanggil Lovy dengan panggilan sayang, di masa mereka muda dulu.
Ibu dari dua orang anak itu hanya tersenyum tipis pada Gara, namun saat menatap Galaska kedua mata itu terlihat datar.
Tidak lama mereka bertiga akhirnya sampai ruang rawat Crystal, Lovy segera membuka pintu berkaca yang ada dihadapannya. Kedua matanya mengerejab, kala melihat Crystal sudah terbaring lemah, di atas bangkar rumah sakit. Di temani oleh Cia, dan Melody yang ada di sisinya.
"Apa kata dokter?" tanya Lovy tanpa basa basi.
Cia dan Melody menoleh, kedua wanita muda itu masih terdiam, bahkan Cia terlihat menghela napas kasar.
"Kata dokter, dia memaksa untuk mengingat, tapi perbuatannya itu malah menyebabkan cedera di otaknya, bahkan Crystal sampai mimisan karena itu. Dokter menyarankan agar kita tidak memaksa Crystal, untuk mengingat semua yang sudah terjadi sama dia, sebelum Crystal ketemu sama kita." ucap prihatin Cia, kedua matanya menatap sendu, pada gadis cantik yang masih terbaring di ranjang pesakitannya.
Namun saat Cia mengalihkan pandangannya kearah lain, kedua mata sendunya berubah datar, kala bertemu dengan manik mata abu abu Galaska.
"Ngapain orang gak punya hati ini ikut?" sindir Cia pedas.
Galaska mendelik pada sang adik, kedua mata abu abunya menatap tidak suka, pada gadis yang tengah berbaring lemah diatas tempat tidur.
__ADS_1
'Gara gara dia, semua orang menyalahkan aku!' geramnya dalam hati.
"Kalau bukan Mami yang nyuruh, Abang juga ogah kesini, buang waktu! lagian pada ngapain sih ngurusin tuh perempuan, tinggal serahin aja ke kantor polisi, beres! bikin repot aja, nyusahin orang!" ucap Galaska kesal.
Bahkan pria berambut ikal itu, segera meninggalkan ruangan tanpa ingin menoleh lagi. Cia dan Lovy hanya bisa menghela napas kasar, Galaska memang keras hati. Bahkan Nagara tidak ingin ikut campur masalah ini, dia milih netral demi keamanan negara.
🕊
🕊
🕊
Pagi ini Alkan terlihat sudah siap ke kantor, pria berlesung pipi itu tengah memakai sepatunya. Namun kedua mata dark coklatnya, terus saja menatap tak berkedip pada benda pipih yang dia letakan dilantai.
Alkan segera menggulirkan layar ponsel, jari jarinya mengotak atik layar guna mencari nama kontak seseorang, yaitu CIMUT.
Alkan menghela napas kasar, kala benda pipih yang ada ditangannya, menempel sempurna disalah satu telinganya.
"Hallo, Assalamualaikum." sahut Alkan cepat.
📲 CIMUT ["Waalaikumsallam, ya Mas Al?"] sahut seseorang dari ujung telepon.
"Kamu dimana?" tanya Alkan tanpa basa basi.
📲CIMUT ["Cici masih di rumah sakit, nemenin Crystal, Mas Al bel...,"]
__ADS_1
"Oh ya sudah, saya cuma mau bilang kalau besok malam saya sama Bunda, mau bertemu dengan kedua orang tua kamu." Alkan segera memotong ucapan Cia. Alkan tidak tahu harus berbicara apa lagi pada gadisnya, padahal Alkan masih ingin mengobrol lama dengan Cia pagi ini. Namun Alkan belum punya pembahasan, yang akan dia bahas dengan Cia.
Di ujung telepon sana Cia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, membuat Alkan juga terdiam. Keduanya hening, entah apa yang tengah di pikirkan oleh keduanya saat ini.
"Cim...,"
📲CIMUT [" Cici tunggu! Mas Al hati hati bawa motornya, ya udah Assalamualaikum."] Cia mengakhiri percakapan suara mereka berdua.
Dahi Alkan berkerut kala mendengar Cia mematikan panggilannya, pria berlesung pipi itu menatap dalam pada layar ponselnya.
"Waalaikumsallam," sahut Alkan lembut.
Alkan tidak tahu saja, kalau saat ini Cia sudah berguling di lantai, setelah mendengar ucapannya, gadis itu yakin kalau Alkan akan melamarnya besok. Senyuman Cia terus saja mengembang, sembari mendekap erat ponselnya. Cia memang masih di rumah sakit pagi ini, karena kondisi Crystal masih belum stabil.
Ditemani oleh Galaska dan Melody, jangan tanya kenapa Gala mau tetap di tempat itu, jawabannya hanya ada di Mami Lovyna.
**SINI NENG OTHOR HANDUKIN MAS ALðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
YUHUUUU PART TERAAKHIR NIH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU TOMORROW BABAYYY MUUUAAACCHHH**
__ADS_1