Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Hampir Saja


__ADS_3

Galaska menatap ragu pada seorang gadis, yang tengah termenung di dalam kamarnya. Galaska ragu untuk membuka lebih lebar pintu kamar itu, ingin masuk tapi dia takut kalau sang gadis akan bertambah benci padanya. Walaupun sang gadis tidak tahu identitas pengawalnya, namun Galaska tidak mau gadis itu membenci untuk kedua kalinya.


Membenci identitas aslinya dan juga identitas penyamarannya, Galaska menatap dalam pada punggung kecil nan rapuh itu.


"Kenapa kamu gak pertahankan aku, apa sebegitu gak sukanya kamu sama aku," ujar lirih sang gadis, membuat gerakan Galaska terhenti.


Sebenarnya Galaska memutuskan untuk pergi, namun karena gumam lirih sang gadis membuat langkahnya terhenti. Salah satu tangannya kembali meraih kenop pintu, kali ini Galaska membukanya lebar membuat sang gadis menoleh.


Bahkan gadis itu segera bangkit, kala melihat Galaska berani masuk kedalam kamarnya. Sikap waspada nya aktif, saat melihat pria berambut gondrong itu mengunci pintu kamar dari dalam.


"Kenapa pintunya di kunci?" tanyanya khawatir.


Galaska bisa melihat betapa gugup gadis yang ada dihadapannya saat ini, sebenarnya siapa juga yang tidak gugup kalau tiba tiba ada seorang pria masuk kedalam kamarmu, lalu pria itu sengaja mengunci pintunya dari dalam. Sedangkan kamu tidak ada hubungan apa pun dengan pria itu, bahkan baru mengenalnya beberapa hari yang lalu.


"Crystal?" panggil Galaska pelan.


Pria itu semakin mengikis jarang dengan sang gadis, bahkan saat ini posisi gadis itu sudah terdesak tidak bisa bergerak kemana pun.


Tubuhnya mematung kala mendengar suara yang memanggil namanya, suara yang begitu tidak asing di kedua telinganya, suara pria galak yang selalu dia dengar selama beberapa minggu yang lalu.


"Ka-kamu-," bahkan sang gadis tidak bisa berkata apa pun lagi.


Sementara jarak keduanya semakin terkikis, sang gadis hanya bisa berkedip cepat kala tubuhnya makin terhimpit tubuh besar sang pengawal pribadi.

__ADS_1


"Crystal?" tanya Galaska pelan.


Bahkan tangannya sudah bertumpu kedua sisi tubuh Crystal, kedua mata beda warna itu saling terikat. Crystal dengan berani menatap kedua mata abu abu Galaska yang tertutupi softlens hitam.


"B-Bang Gala?" cicit Crystal.


Gadis itu menatap tidak percaya pada pria berpenampilan urakan, yang tengah mengurung tubuhnya di jendela kaca.


Bukannya menjawab, Galaska malah menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


"Siapa Gala?" tanya Galaska.


Pria itu berpura pura tidak mengerti, padahal di dalam hatinya tengah tertawa melihat wajah pucat Crystal.


"Nga-ngapain Abang di sini?" tanya Crystal lagi.


"Siapa?" tanya Galaska polos.


Salah satu alis tebalnya terangkat, menandakan dia tidak mengerti dengan ucapan Crystal. Sementara Crystal, gadis cantik itu menatap kesal pada pria yang tengah mengungkung tubuhnya.


"Kamu Bang Gala kan?" tuduh Crystal tepat sasaran.


Namun sepertinya tidak membuat Galaska terpancing, pria berpenampilan layaknya pengawal itu hanya menampilkan senyuman tipis. Salah satu tangannya terulur, menyentuh gorden tipis yang ada di belakang tubuh Crystal.

__ADS_1


Sreek!


Sekali tarik Galaska menutupnya, kedua mata bersoftlens hitam itu menatap seseorang dari balik jendela kaca. Orang yang tengah mengawasi kamar Crystal dari arah luar.


"Ada yang sedang mengawasi kita," tutur pelan Galaska.


Galaska segera menarik lengan Crystal agar menjauh dari jendela kaca, pria itu membawa Crystal duduk di atas peraduannya. Galaska tidak peduli kalau saat ini sang gadis masih menatap dalam padanya.


"Kamu Bang Gala kan?" tanya Crystal kembali.


Kedua mata biru beningnya menatap Galaska penuh selidik, ingin percaya pada perasaannya namun kenyataan di luar tidak sesuai sama sekali. Kalau benar pengawal ini adalah Galaska, untuk apa dia melakukan hal ini? lalu kenapa Galaska sampai berpenampilan seperti ini. Rambut gondrong, beranting, lengannya bertatto hingga punggung tangan, lalu kedua manik matanya hitam bukan abu abu.


Siapa pria ini sebenarnya? kenapa suaranya mirip sekali dengan Galaska si mulut syaiton, namun penampilannya lebih mirip seorang mafia dari pada pengawal pribadi.


"Istirahatlah Nona, saya akan berjaga di luar." tutur Galaska.


Sebisa mungkin dia menghindar dari Crystal, Galaska tidak akan membiarkan penyamarannya terbongkar secepat ini, sebelum dia menemukan celah untuk membawa Crystal pergi dan percaya padanya.


"B-Bang-," suara Crystal tercekat, kala melihat sang pengawal pribadi keluar dari kamarnya



AKU MULAI CURIGA BANG

__ADS_1



TARIK NAPAS HEMBUSKAN, PINTER BANGET AKTINGNYA


__ADS_2