
Cia terus saja mengembangkan senyum, kedua tangannya mengusap kepala Alkan. Jari jemari lentiknya tenggelam didalam rambut sang suami, kala Alkan bersandar nyaman di atas perutnya.
Pria berlesung pipi itu terus saja memberikan banyak kecupan di sana, bahkan dengan gemas Alkan menduselkan hidungnya di perut Cia. Bahkan setelah mendengar penjelasan sang bidan tadi pun, kedua calon orang tua ini masih tidak percaya.
Apa lagi saat sang bidan mengatakan, kalau tidak hanya ada satu nyawa yang di hidup didalam perut Cia, Alkan semakin tidak percaya mendengarnya. Walaupun mereka belum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan berapa jumlah calon anak mereka, namun Alkan dan Cia sudah merasa bahagia sekali.
"Besok kita ke dokter, Mas akan izin sebentar buat ngantar kamu ke klinik." ucap Alkan, di sela sela kecupannya.
Cia tidak bersuara, si calon ibu itu hanya menganggukkan kepala antusias. Cia tidak menyangka kalau Tuhan akan secepat ini memberikan anugerahnya, bahkan Cia lupa kalau beberapa waktu ini dia tidak datang bulan. Terakhir dia datang bulan seminggu sebelum Alkan melamar, sekaligus menikahinya.
Pernikahannya bersama Alkan baru berjalan dua bulan, Cia yakin kalau calon bayi mereka baru memasuki usia 5-7 mingguan. Cia jadi tidak sabar menunggu besok pagi, dia ingin segera melihat calon bayinya dan berapa jumlahnya.
Bahkan tadi Bunda Marwah hampir saja pingsan, saat sang bidan mengatakan kalau didalam perut Cia ada lebih dari satu nyawa. Wanita paruh baya itu tidak menyangka kalau dia akan memiliki cucu dobel, karena dulu Bunda Marwah begitu sulit untuk mendapatkan Alkan. Makanya sang Bapak Penghulu tidak memiliki saudara, dia menjadi putra tunggal keluarga Syarief.
🕊
🕊
__ADS_1
🕊
"Lihat, ini kantung janinnya. Ada tiga kantung janin, berarti calon bayi Ibu serta Bapak kembar tiga." ucap antusias dokter wanita itu.
Kedua mata sang dokter berbinar, entah kenapa dia juga merasa bahagia melihat wajah berbinar sepasang suami istri ini.
"Usia mereka baru 7 minggu, detak jantungnya sudah mulai terdengar. Yang artinya mereka mulai berkembang dengan sangat baik, kalau dari perkiraan kapan terakhir Ibu Cia datang bulan, hitungannya sudah benar." lanjut sang dokter.
Sedangkan Cia dan Alkan saling tatap, kedua calon orang tua itu berkaca kaca menatap layar monitor, yang menampilkan calon bayi mereka.
"Mereka kembar tiga, Mas." gumam haru Cia.
Alkan tidak bisa berucap apa pun lagi, kedua matanya sudah berembun. Alkan tidak menyangka kalau ucapan asalnya waktu itu di jabah oleh Sang Maha Kuasa. Memiliki anak kembar tiga, tidak pernah ada dalam pikiran atau pun mimpi Alkan sedikit pun.
Memiliki satu saja Alkan sudah bersyukur, tapi ternyata Tuhan memberikan bonus yang cukup banyak dalam satu kali cetak.
"Mas berharap kalian selalu sehat, kalau mau apa pun tolong bilang sama Mas ya. Apa pun, jangan pernah kamu pendam, mau itu makanan, keluh kesah, atau pun semua rasa yang tengah kamu rasakan. Mas gak mau kamu banyak pikiran, yang bisa mengganggu kesehatan kamu dan si kembar tiga." ucap Alkan pelan nan lembut.
__ADS_1
Pria berlesung pipi itu membelai perut polos sang istri, bahkan perut Cia sudah membuncit namun kenapa mereka tidak menyadarinya. Bahkan Cia mengira kalau perut buncitnya ini karena kebanyakan makan, bukan karena kekenyangan si singkong Thailand.
"Nanti kita kasih tau Mami sama Papi ya, Mas." ucap Cia.
Alkan tersenyum dan mengangguk, bahkan dengan lembut si Bapak Penghulu memberikan kecupan di punggung tangan Cia.
"Iya, Sayang," tutur Alkan lembut.
**MAS AL MABOK SI KEMBAR
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABARNYA HARI INI
UDAH HARI SENIN AJA YA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUAACCHH**