
"Sudah kenyang? apa mau nambah lagi serabinya?" tawar Alkan, kala melihat piring serabi Cia sudah habis tak bersisa.
"Udah, Cici kenyang." tolak Cia.
Bagaimana tidak kenyang, lima potong serabi dia habiskan sendiri, bahkan bagian Alkan tadi Cia habiskan juga. Akibatnya Alkan kembali memesannya, bukannya ilfil atau pun terganggu dengan porsi makan sang istri, Alkan justru tersenyum senang melihatnya.
Mereka berdua masih berada di kedai, selain tengah mencerna serabi yang mereka makan, Cia dan Alkan juga sedang menikmati pemandangan alam indah nan asri di tempat ini.
Cia terus saja menatap ke arah pegunungan dan lembah landai. Di bawah bukit sana Cia dapat melihat hamparan sawah dan perkebunan sayur. Rasanya Cia tidak sabar untuk melihat tanaman padi secara langsung minggu depan.
Sedangkan Alkan, kedua mata dark coklatnya terus saja menatap ke arah sebuah pohon, tepatnya pohon kedondong yang berada di seberang jalan. Entah kenapa rasanya dia ingin sekali memakan buah itu secara langsung dari pohonnya. Buah yang terkenal asam dan salah satu buah yang biasa di buat asinan serta manisan itu, terlihat begitu menggiurkan di kedua mata Alkan.
"Mas, kita pulang yuk. Bunda pasti udah nungguin di rumah." suara Cia membuat Alkan tersentak.
Bahkan si Bapak Penghulu menelan salivanya susah payah, entah kenapa ada rasa tidak rela saat dia akan pergi dari sana, sebelum mendapatkan buah kedondong itu langsung dari pohonnya.
Namun Alkan tidak mau egois dan ambil pusing, pria berlesung pipi itu mengangguk pelan pada sang istri. Karena serabi dan teh manisnya sudah lunas di bayar, jadi Alkan tidak perlu repot kembali masuk ke dalam kedai.
🕊
🕊
__ADS_1
🕊
Crystal terus saja mengaduk makanannya tanpa minat, tatapan kosongnya terus saja tertuju pada jendela kaca. Sementara pria berjas klimis dan licin yang ada di sebrangnya, hanya menatap datar pada Crystal.
"Makanan kamu tidak akan habis kalau hanya di aduk, Aluna." suara dalam dan berat itu membuat Crystal tersentak.
Kedua mata biru beningnya terarah pada pria, yang katanya akan menjadi suaminya kelak. Namun tubuh dan hati Crystal bertentangan, di saat kepalanya mengangguk tetapi hatinya menolak.
"Aku tidak berselara," ujar jujur Crystal.
Gadis bergaun abu abu itu meletakan garpu serta sendoknya pelan, salah satu tangannya terulur untuk meraih satu gelas air putih, lalu meneguknya tak bersisa.
Saat ini pengawal pribadinya masih sibuk memasang sesuatu si kamar Crystal, dia mencari kesempatan ruangan itu sepi agar bisa bebas memasangnya.
"Ya Nona?" sahut sang pengawal cepat.
Untung saja dia sudah menyelesaikan semuanya, jadi sang Nona dan Raiden tidak akan mencurigainya.
"Temani aku ke pendopo yang ada di dekat kolam ikan," titah Crystal.
Ini adalah perintah perdana sang gadis pada si pengawal, karena selama beberapa hari ini Crystal hanya acuh tak acuh.
__ADS_1
"Baik," ucapnya patuh.
Sang pengawal membungkukan sedikit tubuhnya, kala melihat Crystal bangkit lalu berjalan mendahuluinya.
"Wah, sepertinya calon istriku mulai dekat dengan pengawal pribadinya?" ucap Rainden tiba tiba, ucapannya terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Crystal.
Gadis berkulit putih susu itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan tersenyum tipis pada pria berjas mahal yang mengaku sebagai calon suaminya.
"Sudah seharusnya aku dekat dengan pengawalku kan? bukannya kau yang memberikan dia untukku, Tuan Raiden?" tukas Crystal.
Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, di susul oleh sang pengawal. Sementara Raiden, pria itu terlihat membanting sendok serta garpu yang dia pegang ke atas piring. Apa caranya salah, karena sudah memberikan gadis itu pengawal pribadi? tapi kalau dia tidak memberikan gadis itu pengawalan ketat, dia takut kalau Aluna Crystal Jtokro'aminoto akan kembali melarikan diri.
"Sialan! awas saja kau Aluna!" desisnya.
CIMUT, MAS AL MU PINGIN KEDONDONG
NGELAMUN TEROOOSSS
__ADS_1