
Sepanjang perjalanan melewati pemukiman warga, Alkan dan Cia menjadi pusat perhatian banyak mata.
Apa lagi para wanita pengagum si Pak Penghulu, kedua mata mereka menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Si Bapak Penghulu pujaan hati mereka, tengah membonceng seorang gadis yang tidak terlihat wajahnya, karena tertutup helm full face.
"Mas Alkan bawa siapa? perasaan selama aku napas, belum pernah lihat Mas Alkan bawa cewek." ucap salah satu wanita muda, yang terus saja menatap tak berkedip pada Alkan dan Cia.
"Apa jangan jangan itu si dokter yang katanya lagi pdkt sama Pak Penghulu? aaakkhhh aku gak rela, anak Bu Sarah cantik sih, tapi kalau dia lewat gak mau nyapa kita." timpal wanita satunya.
"Kalau info yang aku dengar sih, itu gadis yang ada di video." ucap salah satu dari ke empat wanita itu.
"Video?" beo ketiga temannya.
"Iya, video dimana gadis itu nangkap copet di pasar tadi pagi, aku yakin deh. Soalnya Bu Mumun tau, dia ada di sana pas gadis itu nangkap si copet. Terus Bu Mumun juga ikut ngantar dia sama Mak Mar kerumahnya, nah di sana Bu Mumun bisa tau kalau gadis itu adalah, calon Pak Penghulu ganteng kita." wanita itu merengek di akhir kalimatnya.
Di ikuti oleh ketiga temannya, mereka bertiga mengigit bibir masing masing, kala mengetahui kalau si Bapak Penghulu sudah memiliki pawang.
__ADS_1
π
π
π
Cia terus saja mengeratkan pegangannya pada ujung jaket Alkan, kalau dia tidak berpegangan erat, sudah bisa dipastikan kalau Cia bisa terjatuh nanti.
Kedua mata Cia berbinar, kala melihat beberapa pedang makanan kecil di bahu jalan. Ingin rasanya dia menghentikan laju motor, yang tengah Alkan kendarai saat ini.
Namun tangannya tidak seberani Berliana, Cia mengurungkan niatnya untuk menepuk bahu si Pak Penghulu.
Cia yang tengah menatap para pedagang itu, terlihat mendekatkan telinganya pada Alkan.
"Mas Al ngomong apa? Cici gak denger, kehalangin helm." Cia sedikit berteriak.
Suara yang menurut gadis itu biasa saja, namun tidak untuk Alkan, karena si Pak Penghulu tidak memakai helm. Alkan berharap kalau sore ini, para Bapak Polisi lalu lintas tengah berlibur beberapa jam ke depan. Alkan memang sudah melanggar peraturan lalu lintas dengan tidak memakai helm, namun demi si Cimutnya Alkan rela.
__ADS_1
Cia mengernyit melihat Alkan menepikan motor mereka, si Bapak Penghulu berhenti tepat di depan sebuah gerobak sempol. Gerobak sempol yang biasa mereka berdua datangi.
"Wah Mas Ganteng baru kesini lagi, sekali kesini udah bawa yang cantik. Siapa Mas? calon ya?" celoteh Kang Sempol langganan Alkan.
Si Bapak Penghulu menganggukkan kepala, Alkan bahkan tersenyum tipis sembari membantu melepas helm yang Cia pakai.
"Doakan ya Kang." sahut Alkan santai.
Kang Sempol mengangkat satu ibu jari pada Alkan, namun kedua matanya melotot kala melihat wajah gadis yang ada dibalik helm, setelah si gadis melepasnya.
"Loh, ini kan Si Neng yang sering beli sempol saya? wah ternyata sempol saya membawa jodoh, cinta bersemi di kedai sempol, apa jodohku seenak sempol." goda Kang Sempol pada keduanya.
Cia tersenyum malu pada Kang Sempol, satu tangannya yang tidak memegang boneka, terlihat meremas ujung jaket Alkan. Kedua matanya terus saja beralih ke tempat lain, Cia terlalu malu saat di goda seperti ini.
"Doakan, semoga secepatnya Kang, kayaknya sempol Kang Asep memang bawa berkah." sahut Alkan.
Si Bapak Penghulu ikut menggoda Cia, yang terlihat tengah salah tingkah. Sebenarnya Alkan juga sedikit malu karena di goda Kang Sempol, namun dia terlalu pintar menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
__ADS_1
POSENYA MAS, KAGAK NAHANππ