
Cia melangkah malas kala keluar dari area pasar, kini dia dan Bunda Marwah tengah menunggu angkutan kota, yang akan membawa mereka pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, matahari mulai menyengat dan itu membuat kulit putih susu Cia sedikit memerah.
Bahkan saat ini Cia dan Bunda Marwah saling diam, mereka berdua tidak mengeluarkan suara sedikit pun, setelah pembicaraan di kedai tadi.
"Itu angkotnya, ayo!" tunjuk Bunda Marwah, pada salah satu angkutan kota yang baru saja sampai.
Cia tidak bersuara, gadis itu hanya mengikuti langkah calon Ibu Mertuanya dengan lunglai. Jujur hari ini Cia merasa lelah sekali, bahkan Cia yakin kalau nanti malam kedua kakinya akan bengkak, dan harus dia rendam dengan air hangat.
"COPET! COPET! COPET!" teriakan seorang wanita yang tidak jauh dari Cia dan Bunda Marwah, membuat kedua wanita itu menoleh.
Seorang wanita hamil tengah berusaha mempertahankan dompet yang dia genggam, Cia menatap iba pada wanita hamil itu. Kening Cia mengernyit kala tidak ada satu orang pun mau membantu.
'Pada buta apa ya? kenapa diam aja sih?!' kesal Cia didalam hati.
Tanpa peduli lagi, Cia segera meletakan dua kantung belanjaannya, lalu berlari menuju wanita hamil yang tengah mengejar si pencopet.
Bunda Marwah yang melihat Cia berlari, hanya bisa berteriak memanggil gadis itu. Namun sepertinya tidak di gubris oleh Cia, gadis itu melepas sandal jepit yang sedari tadi menyusahkannya untuk bisa berlari cepat.
Bugh!
Salah satu sandal jepit Cia mengenai kepala si pencopet, namun sepertinya tidak berefek apa apa pada si pencopet.
"HEH! PADA BUTA KALIAN YA! BUKANNYA DI BANTUIN MALAH NONTON! APA KALIAN KIRA INI LAGI SYUTING FILM?!" teriak kesal Cia.
Gadis itu berteriak sembari mengejar si pencopet, bahkan setelah Cia berteriak pun belum ada yang mau membantu untuk mengejarnya. Malah Cia melihat beberapa orang merekam aksi kejar kejaran dia dan si pencopet.
Grep!
__ADS_1
Cia berhasil meraih tali hoddie lusuh si pencopet yang menjuntai, dengan sekali tarik Cia berhasil membalikan tubuh itu.
"Mau kemana? balikin dompetnya!" pinta Cia baik baik.
Saat ini dia masih bersabar, Cia berusaha untuk tidak main hakim sendiri. Apa lagi saat melihat si pencopet ternyata masih belia, pasti karena ekonomi dia sampai berbuat nekat seperti ini.
"Enggak! enak aja, udah capek lari malah di minta! kalau mau nyopet sendiri sana!" ucapnya songong.
Cia membelalakkan mata mendengar ucapan bocah abg ini, si bocah menyuruh dia mencopet? gila saja, apa kata Alkan nya nanti.
"Balikin baik baik, atau...,"
"Atau apa huh?" bocah itu memotong ucapan Cia, bahkan terlihat semakin songong.
Si bocah menganggap Cia hanya wanita lemah yang banyak bicara, bahkan senyuman remeh terpatri di kedua sudut bibirnya.
Kretek!
"AAAKKKKKHHH!" jeritnya.
Satu pitingan yang Cia lakukan, berhasil membuat si bocah songong menjerit, karena salah satu tangannya terpelintir kebelakang.
"Mau di patahkan, atau di buat bengkak selama satu bulan? pilih yang mana?" ucap santai Cia.
"Aaakkhhh emakkk sakittt!" jerit bocah laki laki itu.
Bahkan orang yang tengah menonton aksi Cia, hanya melongo. Termasuk Bunda Marwah dan si Wanita hamil yang ikut berlari tadi. Bahkan Bunda Marwah melupakan sejenak kalau dia memiliki penyakit jantung, yang menuntut dia untuk tidak terlalu lelah.
Tapi apa tadi? Bunda Marwah ikut berlari kala melihat Cia berlari mengejar si pencopet songong.
__ADS_1
"Ayo balikin!" titah Cia.
Kretek!
"Aaakhhh iya iya! sakit jangan di kayak gituin lagi, emaaakkkk!" jerit pasrah si pencopet songong.
Satu tangannya yang bebas terulur memberikan dompet merah pada Cia, dengan cepat Cia meraih dompet itu, namun masih tetap di posisinya.
"Tapi lepasin tangannya, sakit. Entar kalau patah gimana?" rengek si pencopet songong.
Cia tidak menggubris, dia lebih memilih untuk membawa remaja itu mendekat pada si wanita hamil, yang dia ambil dompetnya tadi.
"Minta maaf!" ucap Cia tegas.
Gadis itu memegangi bagian belakang Hoodie si pencopet, agar si pencopet bisa berhadapan langsung dengan si korban.
"Harus minta maaf juga?" tanya si pencopet.
Cia mendelik tidak suka, saat mendengar penuturan remaja labil yang tengah dia cengkram.
"Iya iya, jangan melotot gitu." ringisnya ngeri.
Sementara Bunda Marwah yang tidak jauh dari mereka, hanya bisa menatap tak berkedip pada Cia, dan kedua orang yang ada di dekat gadis itu.
Tatapan Bunda Marwah tertuju pada kaki telanjang Cia, yang terlihat sedikit berdarah, mungkin karena lecet saat dia berlari tadi.
TI ATI NYEBUR MAK, BERABE ENTAR
__ADS_1