
Cia terus saja menengadahkan wajahnya ke atas langit, saat perjalanan pulang dia dan Alkan terjebak hujan.
Alhasil Cia dan Alkan harus menumpang berteduh di salah satu rumah warga, hujan masih cukup deras. Bukan hanya mampu membuat seluruh pakaian Cia dan Alkan basah, tapi juga bisa membuat keduanya sakit.
Waktu sudah menunjukan pukul 2 sore, mulai dari zhuhur hingga sekarang hujan belum berhenti juga. Di saat Cia tengah menikmati hujan, Alkan terlihat sibuk mengotak atik ponselnya.
"Kapan hujannya berhenti, kalau hujan terus gimana kita pulang. Bunda sendirian di rumah, pasti Bunda lagi khawatir sekarang." gumam pelan Cia.
Namun masih mampu di dengar oleh Alkan, pria berlesung pipi itu menatap pada sang istri, Alkan bisa melihat jelas wajah khawatir Cia saat ini.
" Mas sudah ngabarin Bunda, kalau kita masih kejebak hujan. Berdoa saja biar hujannya cepat reda, maaf ya gara gara Mas mengajak kamu ikut jadi kehujanan." ucap Alkan pelan.
Kedua mata dark coklatnya menatap lembut terkesan sendu pada Cia, sepertinya tekad Alkan semakin kuat untuk membatalkan pembelian lahan yang sudah direncanakan, Alkan akan membeli kendaraan roda empat terlebih dahulu.
Berhubung Cia bisa menyetir sendiri, Alkan tidak akan kesusahan apa bila ada kepentingan mendadak, namun dirinya tidak ada di rumah.
"Kenapa Mas ngomong kayak gitu, Cici seneng kok di ajak kerja sama, Mas. Cici bisa jalan jalan, bisa lihat sawah, perkebunan sayur, sungai, terus orang yang lagi nunggu padi, Cici belum pernah lihat secara langsung," balas Cia antusias, tidak ada penyesalan dari ucapan dan raut wajahnya.
Cia bahkan tersenyum manis pada Alkan, kalau saja mereka sedang berada di rumah, Cia tidak menjamin kalau Alkan akan selamat dari terkamannya.
"Kamu mau lihat sawah sama perkebunan coklat kita?" tanya Alkan lembut.
Satu tangannya terulur untuk membenarkan jaket jeans yang tengah Cia pakai, jaket yang terlihat over size di tubuh istrinya.
Kedua mata Cia berbinar, dengan cepat dia mengangguk penuh semangat. Cia bahkan semakin melebarkan senyumannya pada Alkan.
"Cici Mau, kapan kita ke sananya?" ucap Cia antusias.
Alkan bisa melihat kedua mata indah itu begitu berbinar, hanya karena akan dia ajak ke kebun saja Cia begitu senang. Padahal biasanya kalau wanita dari keluarga mampu, akan lebih senang ketika di bawa jalan-jalan ke luar negeri oleh pasangannya, bukan ke sawah atau pun perkebunan terpencil.
__ADS_1
"Minggu depan, kita ajak Bunda juga." sahut Alkan lembut.
Satu tangannya meraih tangan Cia dan memasukannya kedalam kantong jaket, agar istrinya merasa hangat tanpa harus dia rengkuh. Alkan masih sadar dan waras posisi mereka di mana saat ini, walaunpun sebenarnya dia ingin sekali memberikan kehangatan yang hakiki pada Cia.
🕊
🕊
🕊
Sudah pukul 18.15 sore, Alkan dan Cia masih berada di perkampungan. Hujan makin turun dengan derasnya, bahkan Ketua RT setempat mengajak Alkan dan Cia untuk menginap di kediamannya.
Karena tidak ada pilihan lain, Alkan dan Cia akhirnya menerima ajakan pak RT. Alkan pun segera menghubungi Bunda Marwah, kalau mereka tidak bisa pulang karena terjebak hujan. Bahkan secara sembunyi sembunyi Cia menghubungi Melody agar bisa memantau ibu mertuanya.
Saat ini Cia dan Alkan tengah mengobrol ringan dengan tuan rumah, untung saja Bu RT memiliki tubuh hampir sama dengan Cia, jadi sang Nyonya Alkan bisa memakai gamis panjang milik wanita paruh baya itu.
"Iya Pak, terimakasih atas bantuannya. Kalau tidak ada Pak RT mungkin saya dan istri saya akan nekat pulang." sahut Alkan tak kalah santun.
"Sama sama Mas Alkan," ujarnya lagi.
Ke empat orang dewasa itu terlibat obrolan ringan, bahkan Pak RT menceritakan keadaan kampungnya. Kampung asri dan damai ini ternyata masih menyimpan masalah, banyak pernikahan dini terjadi di kampungnya.
"Biasanya para orang tua akan menikahkan anak gadisnya setelah mereka lulus SMA bahkan SMP, para orang tua hanya menghindari anak anak mereka dari zina. Ya walaupun bertentangan dengan hukum negara, yang mengharuskan para calon pengantin berusia di atas 21 tahun, tapi saya juga tidak bisa apa apa Mas." tutur Pak RT.
Pria paruh baya itu seakan bingung harus bagaimana, di satu sisi tindakan para orang tua memang sangat mulia, namun di sisi lain masa muda anak anak mereka di pertaruhkan. Kedewasaan memang tidak di lihat dari usia, namun dari kesiapan hati serta mental. Namun kalau bisa, mental, hati dan usia harus bisa sejalan.
" Assalammualaikum, Pak RT?" suara seruan seseorang dari luar, membuat Alkan dan yang lainnya saling pandang.
"Sebentar ya, Mas Alkan," ujar Pak RT.
__ADS_1
Pria paruh baya itu bangkit, kedua kakinya melangkah menuju pintu masuk, dan segera membukanya.
"Mang Sholeh? ada apa Mang?" tanya Pak RT.
"Gawat Pak RT, itu Den Denis ngancam keluarga Pak Jamal, katanya kalau dia tidak dinikahkan sama Neng Kemala anak bungsunya Pak Jamal malam ini, Den Denis bakalan nekat bawa kabur Neng Kemala." ucap Mang Sholeh gugup.
"Waduh repot ini mah, kabur gimana? kawin lari maksudnya? kenapa macam macam aja tuh anak juragan Kadir. Bikin kepala saya makin cenut cenut, tunggu atuh ya saya mau ganti celana dulu." sahut Pak RT.
Pria paruh baya itu segera masuk kembali kedalam rumah, saat melihat Alkan Pak RT terlihat berpikir sejenak.
"Mas Alkan ikut saya ya!" ajak Pak RT.
"Ikut kemana Pak?" tanya Alkan penasaran.
"Nikahin anak orang," sahut Pak RT cepat, dan itu membuat Cia serta Alkan tersentak. Sementara si pak RT melenggang masuk kedalam kamar.
'Nikahin anak orang?' maksudnya pak RT gimana? menikahi atau menikahkan anak orang.
"Mas Al," rengek Cia, otaknya belum terkoneksi cepat masih loading lama sekali.
"I-iya Cimut," sahut Alkan gugup, si Bapak Penghulu pun terlihat masih mencerna ucapan Pak RT.
AUTO PASANG KUDA KUDA
MAS JUGA NDAK NGERTI
__ADS_1