
"Bunda?" panggil Aisya.
"Ya, Sayang?" sahut Cia lembut.
Sedangkan Bunda Marwah tersenyum tipis melihat kedua mata bulat sang cucu cantiknya, kedua mata yang sedari tadi terus saja menatap penasaran pada kegiatan Cia dan dirinya.
"Ais mau nait," ujar Ais.
Kedua tangan balita cantik itu terulur meminta di gendong, bahkan kaki kecil Aisya sudah berjinjit.
Bunda Marwah menggelengkan kepala pelan, dengan sigap wanita paruh baya itu segera meraih tubuh kecil Aisya. Lalu mendudukkannya di atas kursi makan, balita cantik itu bahkan mengecup pipi Bunda Marwah dan mengucapkan terimakasih pada sang nenek.
"Ais?"
Kedua mata bulat itu mengerejab cepat, bahkan Ais kembali turun dari kursi setelah mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Bunda Marwah tidak bisa berkata apa pun saat melihat cucu cantiknya turun dengan susah payah dari atas kursi.
"Ayah?" seru Aisya saat melihat Alkan- sang Ayah berjalan mendekat ke arahnya.
Interaksi keduanya membuat Cia dan Bunda Marwah mengukir senyum, Ais memang begitu dekat dengan Alkan. Walaupun Shaka dan Aska juga dekat Ayahnya, namun Ais lah yang paling begitu lekat. Mungkin karena Aisya anak perempuan, karena Sakha dan Aska justru lebih dekat pada Cia- sang Bunda.
"Ais sudah mandi?" tanya Alkan gemas.
"Udah, cama Nenet." sahut Ais antusias.
"Nenek," ralat Alkan.
"Iya, cama Nenet," Ais tetap ngeyel.
Alkan tidak menyahuti, pria beranak tiga itu malah memberikan banyak kecupan di seluruh area wajah Aisya.
Logat cadel Ais sering di ejek oleh Shaka hingga menangis, walaupun pada akhirnya mereka berdua kembali berbaikan. Bahkan Ais lebih senang tidur bersama Shaka dan Aska dari pada bersama Cia dan Alkan.
🕊
🕊
🕊
__ADS_1
"Ciniin bola na Bang, dangan di lempal! aakkhh bola na masut." heboh Ais kala bola yang di tendang Shaka masuk kedalam gawang kecil.
Hari libur seperti ini biasanya mereka bertiga akan bermain di halaman rumah, kalau Alkan sudah selesai dengan tugasnya di hari minggu, dia juga akan ikut bermain bersama ke tiga buah cintanya.
Sedangkan Aska, pria kecil itu tengah sibuk memetik cabai bersama Sang Nenek dari pada bermain bola bersama Shaka dan Ais.
"Nenek?" panggil Saka.
"Apa ganteng," sahut Bunda Marwah enteng.
"Besok kalau Aska udah besar, bakalan beli'in kebun cabe buat Nenek." celetuk si bocah.
Bunda Marwah menoleh sembari mengulum senyuman geli, cucu keduanya ini memang selalu serius dalam hal yang sedang dia kerjakan.
"Aamiin, doa'in Nenek selalu sehat biar bisa nanam cabe sama kamu nanti." ucap Bunda Marwah.
🕊
🕊
🕊
Suara klakson mobil dari arah jalan membuat Shaka dan Ais menoleh, kedua bocah itu menatap lekat pada mobil besar yang berhenti tepat di depan rumah kosong, yang beberapa bulan ini tidak berpenghuni.
"Sayang, ayo minum susunya dulu."
Suara sang Bunda membuat Shaka dan Ais mengalihkan pandangannya dari mobil di sebrang jalan itu.
"Bunda?" panggil Shaka.
"Apa, Sayang?" sahut Cia lembut.
Sembari memberikan satu gelas susu coklat pada putra pertamanya.
"Rumah itu sekarang ada yang nempatin ya, tadi Shaka sama Ais lihat orangnya bawa barang barang." oceh Shaka.
Bocah itu menceritakan apa yang dia lihat bersama Aisya, dan Ais pun menganggukkan kepala membenarkan ucapan sang kakak.
__ADS_1
"Masa sih? coba nanti Bunda lihat. Oh ya dimana Aska? bukannya tadi lagi main sama kal-,"
"Bunda lihat, Aska dapat cabe banyak merah merah lagi." ucapan Cia terhenti saat mendengar ucapan Aska, yang datang membawa satu plastik cabai.
"Terimakasih gantengnya Bunda, ayo minum susunya. Bunda mau ke depan sebentar, kalian habiskan susu sama rotinya." ucap Cia.
Wanita beranak tiga itu ikut penasaran dengan ucapan Shaka, apa benar di rumah kosong itu sekarang ada penghuninya.
Sesampainya di depan pagar, Cia bisa melihat orang orang sibuk menurunkan barang dari atas mobil box. Cia juga bisa melihat seorang wanita yang seumuran Maminya tengah mengatur para pekerja. Sedangkan bocah laki laki yang ada di sebelahnya terlihat menatap sendu ke arah rumah yang akan mereka tinggali.
"Assalamualaikum," sapa Cia ramah.
Cia mendekat pada wanita paruh baya itu, mau bagaimana pun mereka akan menjadi tetangga nantinya bukan, jadi tidak ada salahnya ramah tamah pada calon tetangga.
"Waalaikumsallam," sahut sang tetangga tak kalah ramah.
"Ibu yang menempati rumah ini?" tanya Cia terkesan ramah dan ingin tahu.
Sebenarnya tidak enak bertanya nya, tapi saat melihat wanita itu mengangguk dan tersenyum tipis Cia merasa lega.
" Iya Nak, saya menempati rumah ini. Oh iya perkenalkan saya Imma, ini cucu saya Arion." ucap ramahnya lagi.
Cia tersenyum lalu menunduk untuk melihat bocah laki laki tampan yang ada di hadapannya. Mungkin usia bocah ini tidak jauh dari ketiga anaknya, Cia perkirakan 5- 6 tahunan.
"Hallo Arion, perkenalkan Tante namanya Cia. Selamat datang di permukiman kita, semoga nanti Arion bisa bermain sama anak anak tante ya." ucap Cia ramah dan penuh ke ibu'an.
"Aku Arion tante," sahut pelan sang bocah.
**AIS BIDADARI KELUARGA SYARIEF
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH**
__ADS_1