
Setelah membeli sempol, akhirnya sepasang sejoli itu sampai di kediaman Nagara, Alkan segera membantu Cia melepaskan helm berat itu.
Cia mendes*ah lega kala merasakan kepalanya ringan kembali, dengan senyuman lebar Cia mengangkat beberapa bungkus makanan di tangannya. Tadi dia dan Alkan membeli makanan kesukaannya, bukan hanya sempol.
Alkan dengan sabar mengikuti langkahnya, mengabsen setiap gerobak para pedagang kaki lima. Hingga akhirnya banyak makanan ringan yang Cia beli, mulai dari cilok, cilor, cimol, pisang molen ,ayam krispi, bobba sampai sate jeroan semua Cia beli, dan yang membayar ya Alkan, siapa lagi.
"Ayo masuk!" ajak Cia.
Alkan menganggukkan kepala, kedua sudut bibirnya tertarik kala melihat langkah riang Cimutnya. Alkan tidak menyangka, kalau Cia yang terlahir sebagai anak orang kaya sejak dalam embrio, mau jajan di pinggir jalan seperti dirinya.
Karena yang Alkan tahu, kalau gadis dari keluarga kolomerat itu, lebih suka nongkrong di cafe atau starbuck.
"Assalamualaikum, Cici pulang! Mamiiiii!" seruan Cia menggema didalam rumah, karena sudah kebiasaan Cia sampai lupa kalau saat ini, ada Alkan di belakangnya.
"Mamiiiii Cici bawain sempol buat Mami!" seru Cia lagi.
Alkan yang sedari tadi mengikuti langkah gadis nya, hanya menggeleng. Ternyata gadis ini hobi sekali berteriak, pantas saja saat di pasar tadi, si Cimut berani berteriak kencang pada orang orang.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa pulangnya malam sih Sayang. Emangnya DIAMOND QUEEN gak tutup? tuh perusahaan buka 24 jam?!" cecar Lovy kala melihat Cia baru pulang.
Lovy tidak tahu kalau hari ini Cia tidak ke DIAMOND QUEEN, melainkan ke pasar tradisional untuk mengantar calon Ibu Mertuanya berbelanja dan menangkap copet.
"Cici gak ke DIAMOND QUEEN Mam, kayaknya nih bocah ke pasar, daftar jadi keamanan pasar." Galaska segera menyela, kala Cia hendak membuka mulutnya.
Bahkan pria bernetra abu abu terang itu, melemparkan sebuah i-pad ke atas meja. Di sana memperlihatkan Cia, tengah mengejar seorang remaja laki laki yang jadi copet.
"Ngapain kamu ke pasar? gak pakai sandal lagi! Abang yakin kalau kaki kamu luka kan sekarang!" cecar Galaska.
Pria berambut ikal itu segera mendudukkan Cia di sofa, sang Adik pun terlihat pasrah melihat kelakuan Abangnya.
"Mas Al gak tau apa apa ya Bang, gak usah mulai! Cici tadi bantuin ibu ibu hamil waktu di copet, di sana gak ada yang mau bantu, bahkan mereka malah lebih memilih ngerekam dari pada ngejar copetnya. Tadi Cici memang gak pergi ke DIAMOND QUEEN, Cici pergi ngantar Bundanya Mas Al ke pasar. Jadi please, Abang jangan ngomong apa pun tentang Mas Al, disini Cici yang salah!" ucap Cia meluruskan kesalah pahaman ini.
Cia menatap penuh permohonan pada Galaska, dia tidak mau kalau sang Abang salah paham pada Alkan. Karena Alkan memang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tadi.
"Udah udah, ayo Nak Alkan duduk. maafin Abang ipar kamu ya, maklum dia udah kelamaan jomblo. Jadi emosinya gak pernah stabil, doain aja biar di cepat dapat jodoh. Biar nanti kamu yang nikahin dia." Lovy segera mencairkan suasana tegang ini. Lovy dan Nagara sudah tahu kalau Alkan berprofesi sebagai Penghulu, dari mana mereka tahu? ya dari Galaska memangnya dari siapa lagi.
__ADS_1
Nagara dan Lovy tidak mempermasalahkan apa profesi Alkan, yang terpenting pria itu baik, bertanggung jawab, serta mencintai dan menyayangi tuan putri mereka. Bahkan Nagara sempat terkagum, kala melihat profil Alkan. Ternyata calon menantunya ini lulusan S2 hukum, jalur beasiswa. Yang berarti Alkan adalah pria berotak cerdas, dan Nagara suka itu.
Dan sayangnya saat ini Nagara sedang tidak ada, pria beranak dua itu tengah memenuhi panggilan sang Mami kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Mace Reina.
"Mam!" protes Galaska.
Pria berambut ikal itu memilih pergi meninggalkan ketiganya, Sang Mami memang selalu tega padanya. Bukannya sudah pernah Gala bilang, kalau dia tidak mau repot dengan yang namanya perempuan.
Selain mereka cerewet, perempuan juga berisik, merepotkan, cengeng, suka merengek, manja, dan Galaska tidak suka dengan itu semua. Cia dan Yasmine saja sudah membuat dia keder, untung saja personil mereka sudah hilang satu, kalau tidak bisa cepat botak Gala nanti.
"Ck merepotkan!" desisnya.
Kala Galaska melihat seorang gadis tengah menatap langit malam, di balkon lantai dua rumahnya.
CRYSTAL DINANGISIN BANG GALAK
__ADS_1
LAGI NGAPAIN GELAP GELAPAN BANG