
"Sayang?"
Galaska terus saja merengek pada Crystal, sang istri itu terus saja mendiamkannya semenjak pulang dari rumah sakit.
Sama seperti yang di lakukan Cia padanya dan Alkan, mungkin kalau Cia yang mengabaikan serta mendiamkannya, Galaska tidak akan ambil pusing. Tapi ini Crystal? tidak Galaska tidak akan membiarkan istrinya itu terus mendiamkan dirinya seperti ini.
"Sayang, oke Abang minta maaf kalau memang ada salah. Tapi please ngomong dong Yang, Abang gak bisa baca pikiran kamu." ucap frustasi Galaska.
Pria bertato di lengan itu mendekap tubuh Crystal dari belakang, bahkan Galaska terus memberikan banyak kecupan di tengkuk serta pundak Crystal yang tertutupi kaos.
"Awas, aku lagi cuci piring." ketus Crystal.
Wanita itu berusaha melepaskan dekapan Galaska, namun tidak berhasil karena sang suami mendekapnya erat.
"Kenapa kamu diemin Abang, coba bilang kenapa?" cecar Galaska.
Crystal menghela napas kasar, dengan cepat wanita itu membasuh kedua tangannya yang penuh dengan busa sabun. Crystal meraih kedua tangan Galaska yang melingkar erat di perutnya, lalu secara perlahan melepaskannya.
Crystal berbalik menghadap Galaska, kedua mata biru beningnya menatap serius pada sang suami.
"Aku marah sama Abang," ujar Crystal serius.
Wajahnya cantiknya terkesan datar dan kesal, bagaimana Crystal tidak kesal kalau kelakuan jahil suaminya hampir saja membuat adik iparnya mengalami kontraksi dini, ralat bukan hampir tapi Cia mengalami kontraksi dini karena terkejut.
"Sorry," sahut Galaska, dia menyadari apa kesalahannya. Galaska yakin kalau kemarahan Crystal karena kejadian kemarin.
__ADS_1
Crystal tidak menyahut, wanita itu memilih untuk kembali menyibukkan diri. Sedangkan Galaska hanya tersenyum kecut melihat reaksi istrinya, pria itu bersandar di tepi pantry sembari menatap dalam wajah Crystal.
"Minta maafnya bukan sama aku, tapi sama Cici. Abang sadar gak, kalau kejahilan Abang kemarin hampir saja membuat kita kehilangan keponakan, tiga Bang. Aku aja shock melihat Cici kesakitan, apa lagi Cici yang merasakannya. Jadi, kalau Abang belum minta maaf dengan tulus pada Cici, aku belum bisa maafin Abang." final Crystal.
Wanita itu segera meninggalkan Galaska yang terdiam, bahkan pria itu terlihat meraup wajahnya kasar.
🕊
🕊
🕊
"Ayo makan dulu, Mas suapin ya." bujuk Alkan.
"Cici gak mau," tolak Cia pelan.
Wanita yang tengah mengandung si kembar tiga kembali memejamkan kedua matanya, satu tangan Cia terus saja mengusap perut buncitnya.
Tubuhnya semakin rileks saat merasakan ada tangan lain ikut mengusapnya, sudah dua hari ini dia dan Alkan berada di rumah sakit. Anggota keluarga Cia pun baru saja pulang setelah mereka menjenguk suaminya, bahkan tadinya Pace Ilham dan Mace Reina akan menginap namun Cia melarangnya. Cia menyuruh ke dua orang paruh baya itu pulang bersama Om nya Gentala dan Bara, sayang Yasmine tidak ada bersama mereka, Elvier- suaminya membawa Yasmine ke Dubai setelah mereka menikah beberapa minggu.
Kini mereka hanya bisa berkomunikasi lewat virtual saja, tapi tidak apa Cia dan Berliana serta keluarganya hanya bisa berdoa semoga Yasmine dan suaminya selalu bahagia di sana.
"Mau peluk," cici Cia tiba tiba.
Alkan yang sudah memejamkan kedua mata, kembali membukanya. Pria berlesung pipi itu semakin mendekat pada Cia. Dia tidak peduli kalau nanti ada perawat atau pun dokter jaga yang masuk, yang terpenting baginya saat ini Cia dan ke tiga buah cintanya nyaman.
__ADS_1
Bahkan Alkan melupakan Bundanya sejenak, wanita paruh baya itu hanya bisa menonton interaksi antara putra serta anak menantunya dari atas sofa.
"Sudah, mau apa lagi hm?" bisik pelan Alkan.
Kedua tangannya merengkuh tubuh Cia posesif, bahkan Alkan tidak sungkan untuk membubuhkan banyak kecupan di pelipis serta pipi Cia.
"Cici mau- eemm mau, mau singkong Thailand." sahut Cia antusias, namun ragu untuk mengatakannya.
"Cimut?"
Alkan menatap tidak percaya pada istrinya, Cia meminta hal yang tidak mungkin bisa dia berikan di sini.
"Bercanda, jangan serius gitu mukanya, bukannya kemarin Mas udah mulai ketularan jahilnya Bang Gala. Kenapa sekarang balik lagi ke mode kaku." cibir Cia.
Alkan tidak menjawab, si Bapak Penghulu malah menelengkubkan kepalanya di bahu Cia.
"Mas, kapok," gumamnya pelan.
PUSING KAN LU BANG
MAU SINGKONG THAILAND
__ADS_1