Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Galaska Murka


__ADS_3

Alkan menuruni anak tangga dengan perlahan, pria berlesung pipi itu terlihat menghela napas kasar. Setelah Cia tertidur sembari memeluknya tadi, kini Alkan kembali kelantai bawah.


Si Bapak Penghulu menghentikan langkahnya, kala mendengar suara keributan dari arah ruang tamu. Alkan segera mempercepat langkahnya, saat mendengar suara keributan itu semakin keras.


"Apa Mami sama Papi udah gak mikirin perasaan Gala lagi?! apa di rumah ini Gala udah gak di anggap ada? kalian menikahkan Cici tanpa memberitahu Gala, nelpon apa sms kan bisa. Udah lah, semua orang yang ada di sini gak pernah menganggap Gala ada, gak ada yang sayang sama Gala! kalian bahkan lebih menyayangi wanita asing itu, dari pada Galaska!" ucap lantang Galaska.


Alkan yang baru saja sampai, hanya menatap pada Kakak iparnya, yang saat ini tengah di peluk oleh Mace Reina. Pria berambut ikal itu terlihat menatap tajam, pada seluruh anggota keluarganya.


"Mace sayang sama Gala, Gala jangan ngomong kayak gitu. Apa Gala gak sayang sama Mace? Mace nangis nih, kalau Gala terus marah marah." bujuk Mace Reina pada cucu tampan nan galaknya.


Namun sepertinya Galaska tengah di kuasai amarah saat ini, dia menulikan pendengarannya. Pria bermata abu abu bening itu melepaskan dekapan Mace Reina, Galaska segera pergi dari sana. Bahkan saat dia melewati Alkan, kedua sorot matanya menatap tajam, pada sang adik ipar.


"Setidaknya kalau kau mau menikahi adikku, kau izin dulu pada Kakaknya! apa kalian menganggap aku ini sudah mati, sampai tidak memberitahukan apa pun!" sarkas Galaska.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Galaska segera meninggalkan semua orang yang ada disana. Bahkan Nagara harus menahan Lovyna, kala Lovyna ingin mengejar sang putra.


Nagara membisikan kata penenang untuk sang istri, Nagara akan membiarkan Galaska sedikit menurunkan emosinya terlebih dahulu saat ini.


Ada rasa bersalah di hati mereka, namun ini memang tidak ada dalam rencana mereka, terutama untuk Alkan dan Cia. Mungkin karena takdir Tuhan, Alkan dan Cia harus menikah malam ini.


"Sudah biarkan saja, Gala sedang emosi saat ini. Nanti biar Pace yang bicara dengan dia, maafkan Galaska ya Nak Alkan. Kakak Ipar kamu memang begitu sifatnya, nanti secara perlahan kamu akan terbiasa kalau sudah dekat dengannya. Untuk Ibu Marwah, maaf atas keributan yang di dilakukan cucu pertama saya." ucap bijak Pace Ilham.


Pria berkepala enam itu merasa tidak enak, pada besan serta cucu menantunya. Ini juga salah keluarganya, yang lupa untuk mengabari Galaska di rumah sakit. Namun Ilham dan yang lainnya yakin, kalau Gala akan cepat mengetahui kabar ini, dan lihat sekarang Galaska tahu sendiri bukan.


" Dia memang sifatnya kayak gitu, mohon di maklumi ya Bu. Sebaiknya Ibu Marwah istirahat, ayo saya antar ke kamar." ucap ramah Lovyna pada sang besan.


Bunda Marwah sedikit melirik pada Alkan, yang masih berjarak cukup jauh dengannya.

__ADS_1


Alkan tersenyum ramah pada Pace Ilham, si Bapak Penghulu terlihat mengikis jarak pada Bunda dan kedua mertuanya. Para tamu sudah pulang terlebih dahulu, sedangkan Alkan dan Bunda Marwah di paksa menginap oleh Mami Lovy dan Mace Reina, malam ini.


"Bunda istirahat ya, ini sudah malam. Ingat kesehatan Bunda," ujar lembut Alkan pada sang Bunda.


Bunda Marwah mengangguk, lalu tersenyum tipis pada Mami Lovyna. Setelah itu Bunda Marwah mengikuti langkah sang besan. Sementara Alkan, si Bapak Penghulu terlihat menatap kearah tangga.


"Kamu juga istirahat! jangan dipikirkan ucapan Kakak iparmu itu, besok Gala akan baik dengan sendirinya." ucap Nagara.


Pria berwajah bule itu menepuk pundak sang menantu, memberitahukan kalau Galaska akan baik baik saja.


Alkan mengangguk, setelah itu dia kembali berbalik. Karena semua keluarga Cia sudah masuk kedalam kamarnya masing masing. Meninggalkannya yang masih berpikir, harus melakukan apa dia setelah ini? Alkan bahkan sampai bingung harus pergi keruangan mana, saking banyaknya pintu di rumah besar ini.


__ADS_1


BANG GALAK NGAMBEK KUADRAT


__ADS_2