
Cia menatap tak berkedip, pada bangunan yang ada dihadapannya saat ini. Detak jantungnya semakin menggila, bahkan seberapa pun banyak udara yang Cia hirup saat ini, belum mampu membuatnya rileks.
"Ayo! Bunda sudah menunggu." ucap pelan Alkan, membuat Cia menoleh pada pria yang tengah tersenyum tipis padanya.
Ingin rasanya Cia menggenggam telapak tangan besar itu, untuk sekedar menenangkan saat ini. Namun sepertinya, itu hanya ada didalam angan.
"Ayo!" ajak Cia yakin.
Keduanya berjalan berdampingan, tidak ada pegangan tangan atau pun rangkulan mesra, selayaknya seorang kekasih pada umumnya. Bahkan keduanya terlihat menjaga jarak, agar lengan mereka berdua tidak sampai bersentuhan.
Alkan benar benar menjaga hubungan ta'aruf mereka, agar tetap lurus, tanpa ada belokan serta tikungan tajam.
"Assalamualaikum!" seruan salam Alkan, membuat wanita berkerudung hitam yang ada diruang tamu menoleh.
"Waalaikumsallam." sahutnya pelan.
Kedua netra wanita paruh baya itu, memindai seorang gadis yang berada tepat disebelah Alkan, putranya.
Alkan segera membawa Cia masuk, mengabaikan tatapan menyelidik sang Bunda, pada gadis disebelahnya. Alkan segera meraih tangan kanan Marwah, dan menciumnya takzim. Begitu juga dengan Cia, walaupun ada rasa ragu, karena wanita berkerudung hitam ini terus saja menatapnya, tanpa berkedip sedikit pun.
"Ini Grecia, Bunda." ucap Alkan tenang.
__ADS_1
Marwah segera tersadar, wanita berkerudung hitam itu mengerejabkan kedua matanya berkali kali. Terlihat sekali kalau Marwah menghela napas pelan, untuk menetralkan rasa di dadanya.
"Silahkan duduk," ujar Marwah pelan.
Cia yang masih tidak nyaman dengan tatapan Marwah, hanya menganggukkan kepalanya pelan, bahkan senyuman tulus Cia terbit.
"Bunda, ini yang namanya Cia. Dia gadis yang saat ini tengah Alkan perjuangkan, Alkan dan Cia meminta restu Bunda. Doakan kami, agar bisa segera bersatu dalam ikatan suci." Alkan memulai pembicaraan, secara pelan dan perlahan. Apa lagi saat melihat raut wajah sang Bunda, yang belum terbaca olehnya.
Alkan takut kalau sang Bunda akan membuat Cia semakin gugup, dan Alkan juga tidak ingin melihat sang Bunda tersinggung, serba salah bukan.
"Ayo kita ke dapur!" ajak Marwah tiba tiba.
Cia yang masih belum paham menoleh pada Alkan, kedua mata bening yang sedari tak berkedip, kini malah mengerejab berkali kali, mendengar ucapan calon Ibu Mertuanya.
"Kenapa kalian diam saja, ayo ke dapur bantuin Bunda masak, buat makan malam kita!" lanjut Marwah.
Wanita paruh baya itu menatap kesal pada sang putra, dan si gadis yang katanya, akan menjadi calon menantunya ini.
"Bunda, mau Alkan masakin?" tanya Alkan.
Si Bapak Penghulu berlesung pipi itu, belum mengerti apa kemauan sang Bunda.
__ADS_1
"Kamu, ayo ikut saya ke dapur." Marwah melirik pada Cia yang masih terlihat bingung.
"Ayo!" ajak Marwah lagi.
Dan itu sukses membuat Cia segera bangkit dari duduknya, tubuhnya masih kaku kala melihat tatapan si calon ibu mertua.
"I-iya," ujar Cia tergagap.
Cia tersenyum meringis pada Alkan, yang masih terduduk ditempatnya, sebelum dia mengikuti langkah Marwah. Kedua wanita beda usia itu, melangkah menuju dapur, Marwah serius membawa Cia ke dapur.
"Kamu ambil bahan bahan yang ada di kulkas!" titah Marwah pada Cia.
"Ah- i-iya." ucap Cia masih gugup.
Cia segera melangkah menuju lemari es, yang tidak jauh dari posisinya. Berkali kali Cia menghembuskan napas pelan, saat dia sudah berhadapan dengan si benda dingin.
"Ambil daging ayam, kembang kol, cabe hijau, bakso, arcis, wortel juga." titah Marwah lagi.
Cia hanya bisa menganggukkan kepala patuh, wajahnya tenang namun tidak dengan hatinya saat ini.
'Ya Tuhan, kenapa rasanya kayak lagi ikut kontes masak, terus di juri'in sama chef galak.' pekik hati Cia.
__ADS_1
SABAR YA CI