
"Ca-calon, is-tri?" ucap Dokter Elina terbata, kedua matanya menatap bergantian pada Alkan dan Cia.
Bahkan dokter cantik itu, terlihat sedikit linglung. Elina segera berpegangan pada sisi wastafel.
"Bi-bilang, kalau itu tidak benar, ya kan Mas Alkan?" Elina benar benar belum mempercayai, ucapan gadis berjaket hitam, yang tengah tersenyum tipis padanya.
Tunggu! jaket?
Kedua bola matanya semakin membulat, kala melihat jaket hitam, yang tidak asing baginya.
"Mas Al, aku duluan ya, jangan lama lama cuci tangannya, aku udah lapar." ucap manja Cia, bahkan dengan genit, dia mengedipkan sebelah mata pada Alkan, sebelum Cia meninggalkan si Bapak Penghulu dan si dokter.
Senyuman lebar Cia terus saja terpatri di bibirnya, dia akan memberi ruang untuk Alkan dan Ibu Dokter berbincang, sebentar. Hanya sebentar, tidak lebih! Cia hanya membiarkan Alkan, mengobrol dengan calon tetangganya.
"Mas?" panggil Elina.
Alkan yang sedari tadi menatap kosong kearah punggung Cia, sedikit menoleh pada Elina, yang tengah menatap penuh harap padanya. Berharap kalau ucapan gadis yang lebih muda darinya itu, tidak benar sama sekali.
__ADS_1
"Iya, saya sedang dalam proses ta'aruf dengan dia." ucap tenang dan pelan Alkan, membuat Elina semakin merasakan sesak di dadanya.
"A-apa, apa Bunda sudah tau?" tanya Elina, sedikit tercekat.
Alkan tersenyum tipis, salah satu sudut matanya terarah pada Cia, yang tengah duduk, sembari memainkan ponsel.
"Secepatnya, mungkin lusa atau besok, saya akan membawanya pada, Bunda," ujar Alkan santai.
"Apa, Dokter Elina sudah selesai mencuci tangannya? kalau sudah selesai, boleh geser sedikit." lanjut Alkan lagi.
Elina terlihat memejamkan kedua mata, rasa sesak di dadanya semakin menjadi, kala mendengar ucapan tak acuh Alkan.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Dokter Elina. Kalau memang dia banyak kekurangan, maka saya yang akan melengkapinya. Begitu pula dengan saya, saya bukan manusia yang sempurna, anda tahu bagaimana saya dulu kan? pasti Bunda sudah menceritakannya pada anda, saya bahkan pernah di cambuk puluhan kali oleh Almarhum Ayah, karena saya begitu penasaran untuk mencoba minuman beralkohol, saat saya masih SMA, jadi saya juga masih banyak kekurangan. Manusia itu bagaikan bunglon, yang terlihat jahat, belum tentu dia jahat. Yang terbuka, belum tentu dia kotor, dan begitu pula sebaliknya. Saya sudah selesai, silahkan kalau Dokter mau mencuci tangan." ucapan panjang lebar Alkan, membuat Elina mematung.
Si Bapak Penghulu tampan itu, meraih beberapa tissue untuk mengeringkan tangannya, sebelum dia berlalu meninggalkan Elina sendirian.
Ucapan Alkan benar bukan, manusia itu seperti bunglon. Yang terlihat baik belum tentu baik, yang terlihat jahat belum tentu jahat. Bahkan yang terbuka sekali pun, belum tentu dia kotor. Tapi, kenapa masih banyak manusia, yang merasa dirinya paling bersih dan sempurna.
__ADS_1
"Lama banget sih, Pak Penghulu!" gerutu Fathur.
"Maaf Mas, wastafelnya cuma satu, jadi harus antri dulu." kilah Alkan, sedikit masuk akal.
Fathur terlihat percaya, pria yang usianya satu tahun lebih tua dari Alkan itu, menganggukkan kepalanya.
Sementara, di meja yang tidak jauh dari Alkan, Cia terlihat menatap si calon imannya tanpa berkedip. Sebenarnya Cia penasaran, dia ingin tahu apa saja yang tadi dibicarakan oleh Alkan, dan si dokter wanita itu.
Karena, saat si dokter kembali ke mejanya, terlihat sekali kalau dia tengah menahan sesuatu. Entah itu rasa marah, kesal, sedih, atau pun bahagia. Walaupun Cia tidak tahu pasti, rasa apa yang tengah ditahan oleh si dokter. Yang pasti Cia tahu sekali, kalau saat ini si dokter wanita yang terlihat, tengah melirik kearahnya itu, sedang menahan sebuah rasa.
**KU KASIH YANG SEGER AJA AH BIAR MELEK
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUAACCHH**