
Alkan menghela napas pelan, kedua sudut bibirnya terangkat. Tersenyum manis, di depan cermin kecil yang ada didalam kamarnya.
Setelah semalam suntuk, Alkan menjelaskan panjang lebar pada sang Bunda. Sore ini, Alkan bersiap untuk menjemput Cia di kediamannya. Alkan bahkan harus membaca berkali kali, alamat yang di berikan oleh Cia.
Takut penglihatannya salah, saat membaca alamat itu, dahi Alkan sedikit berkerut, kala melihat di maps.Komplek perumahan elit? bahkan Alkan belum pernah memasuki komplek perumahan itu, selama dia hidup.
"Semoga saja, aku tidak salah," ucapnya pelan.
Si Bapak Penghulu berlesung pipi itu, segera meraih jaket denimnya. Hari ini Alkan menyewa sebuah mobil, karena dia tidak mungkin, membonceng Cia dengan motor trail kesayanganya.
Selain tubuh mereka berdua pasti bersentuhan, jok motornya tidak akan muat untuk di duduki berdua. Mungkin kalau berdempetan bisa saja, tapi kan sekarang mereka masih dalam masa jaga jarak.
Alkan tersenyum tipis kala melihat sang Bunda, tengah menyiram bunga anggrek kesayangannya.
"Bun?" panggil Alkan.
"Hm," Marwah hanya menyahuti sang putra seadanya, entah karena masih marah, atau karena hal yang lain.
"Alkan berangkat dulu ya, doakan semoga perjalanan Alkan lancar." ucap pelan Alkan, sembari meraih tangan kanan Marwah, lalu menciumnya takzim.
"Assalamualaikum," pamit Alkan.
Pria berkumis tipis itu, segera meninggalkan sang Bunda, yang masih mematung. Bahkan Marwah belum sempat membalas ucapan salam Alkan.
"Waalaikumsallam," sahut Marwah pelan, wanita paruh baya itu menghela napas kasar.
Semalam, dia memang menyetujui Alkan membawa gadis itu, untuk bertemu dengannya. Namun, perkataaan Elina masih tertanam di otak serta hatinya. Bahkan si dokter cantik itu sampai menangis, kala dia menceritakan kalau Alkan yang sudah membuat dia menangis, hanya karena gadis yang baru dikenal oleh sang putra.
__ADS_1
π
π
π
Alkan mengedarkan seluruh pandangannya, kesetiap pintu gerbang besar yang dia lewati, di perumahan elit ini.
si Bapak Penghulu bahkan harus menghela napas kasar berkali kali, dahinya mengerenyit kala melihat nomor rumah yang sedari tadi dia cari.
Alkan menatap bingung pada pintu gerbang besar, yang ada dihadapannya saat ini. Bahkan pria itu sedikit tersentak, kala melihat pintu gerbang tinggi dan besar itu, terbuka sendiri.
"Kenapa terbuka sendiri? jangan jangan aku salah rumah?" tanya Alkan bingung.
Mobil sewaan yang dia bawa saat ini, bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Hingga, telepon genggam yang ada disakunya, tiba tiba saja berbunyi.
[Masuk aja Mas!]
Sebuah pesan dari Cia, membuat Alkan kembali mengalihkan pandangan ke arah depan.
"Bismillah, kenapa deg degan begini?" monolognya.
Tanpa membalas pesan dari Cia, Alkan segera menyalakan mesin mobil kembali. Perlahan, si Bapak Penghulu memasuki kawasan kediamanan keluarga Nagara.
Alkan berkedip berkali kali, kala melihat ada beberapa pria berbaju hitam, serta berbadan lebih besar darinya, tengah berpatroli.
Alkan segera keluar dari dalam mobil,Β si Bapak Penghulu bahkan menelan saliva susah payah, kala melihat rumah besar nan mewah, berlantai tiga, dengan bergaya eropa modern, menjulang tinggi dihadapannya saat ini.
__ADS_1
"Nona Gercia, sudah menunggu anda didalam."
Suara seseorang, dari salah satu manusia berbadan kingkong itu, membuat Alkan sedikit terperanjat.
"Mari!" ucapnya lagi, membuat Alkan hanya menurut.
Bahkan Alkan sempat merunduk, serta menyunggingkan senyuman tipisnya, pada beberapa manusia raksaksa yang dia lewati. Karena terlihat tidak sopan, kalau melewati orang yang lebih tua, dengan badan tegap angkuh.
"Silahkan masuk!" ucap pria berkepala botak, serta berbadan besar itu.
Bahkan si raksaksa botak, terlihat membukakan pintu besar itu, untuk Alkan.
'Bissmillah," gumam Alkan didalam hati, rasanya masuk kedalam rumah ini, lebih seram dari pada memasuki rumah hantu, yang ada dipasar malam.
Perlahan langkah Alkan, membawa dia semakin masuk kedalam. Bahkan, si pria botak yang ada didepannya, terlihat dua kali lebih menyeramkan.
"Mas Al?" panggil seseorang, membuat Alkan menghela napas lega.
"Saya permisi, Nona Muda." pamit si raksaksa botak.
Orang yang dipanggil Nona Muda itu, memganggukan kepala pelan, sembari mengucapkan terimakasih.
"Makasih Om Erik, ayo! Mami sama Papi udah nunggu!" ucapan si Nona Muda, membuat Alkan kembali tersadar.
'Bismillahirohmanirohim.' gumam Alkan lagi, didalam hati.
__ADS_1
OM BOTAK DAN KAWAN KAWANNYAπππ