Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Tidak Masalah


__ADS_3

"Sudah berapa lama kalian kenal?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Marwah, membuat gerakan tangan Cia terhenti.


Gadis bergaun panjang nan indah itu, menoleh pada wanita berkerudung hitam, yang tengah memetik tangkai cabai.


"Baru beberapa bulan, I-Ibu," ujar Cia pelan, bahkan terdengar gugup.


"Baru beberapa bulan?" Marwah mengulang pertanyaannya.


Cia hanya mengangguk, entah kenapa suaranya terasa tercekat, lidahnya terasa kelu.


"Kenapa kamu mau sama, putra saya? kamu sudah tahu kan, apa pekerjaan dia dan keadaan hidupnya. Kalau kamu nanti menikah dengan putra saya, kamu tidak akan hidup enak. Honor yang Alkan terima dari pekerjaannya sebagai Penghulu, hanya cukup untuk makan kami sehari hari." Marwah berbicara panjang lebar pada Cia, namun kedua matanya tetap fokus pada cabai di tangannya.

__ADS_1


"Kamu pasti tidak akan bertahan, hidup susah dengan kami. Gadis jaman sekarang banyak kebutuhannya, bukan? dari mulai skincare, bodycare, dan masih banyak lagi. Saya yakin, Alkan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kamu nanti." lanjut Marwah.


Wanita paruh baya itu berbicara apa adanya, dengan keadaan hidup dia dan sang putra saat ini.


"Jangan mentang mentang Alkan S2 sarjana hukum, terus kamu berpikir kalau putra saya banyak uang. Kamu salah, Alkan bisa sekolah setinggi itu karena perjuangan dia sendiri, bukan biaya dari orang tuanya. Semenjak Ayahnya meninggal, saat Alkan masih berada di SMA kelas 3, Alkan mati matian belajar sambil bekerja. Dia membiayai hidup saya, yang sering sakit sakit'an, sendirian. Untung saja, Alkan berotak cerdas, dia mencari beasiswa full untuk kuliah hukumnya. Kalau biaya kuliah dia tidak berasal dari beasiswa, mana mungkin Alkan bisa sekolah setinggi itu, kami orang tidak mampu. Apa kamu tidak akan menyesal, kalau menikah dengan Alkan, nanti?" Marwah terus saja berbicara, tanpa memberikan Cia untuk menyelanya.


"Apa kam...,"


Lidah Cia sudah gatal ingin sekali berbicara. Hingga entah keberanian dari mana, dia segera menyela ucapan Marwah, yang tidak memberikan kesempatan berbicara padanya, sedari tadi.


Marwah terdiam, dia menoleh pada gadis yang ada di sebelahnya. Kedua netra Marwah terus saja menatap tak terbaca pada Cia, entah apa yang tengah di pikirkan oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Kamu yakin, dengan semua yang kamu ucapkan itu? kalau saya lihat-lihat, sepertinya kamu sudah terbiasa hidup mewah. Mana mungkin kan kalau kamu bisa beradaptasi cepat, dengan kehidupan susah suami kamu nanti." cecar Marwah terus menerus.


Cia perlahan menghirup napas dalam, dan dengan pelan dia menghembuskanya.


"Ibu benar, sedari kecil saya memang sudah hidup berkecupan. Tapi, jangan hanya karena saya sudah terbiasa hidup berkecupan, orang lain menilai saya, tidak bisa hidup sederhana. Keluarga besar saya, tidak pernah gila dengan harta maupun jabatan. Hidup saya memang lebih dari cukup, tapi kalau untuk di ajak hidup sederhana, atau bahkan kekurangan, saya tidak masalah." ucap tenang Cia, bahkan gadis itu terus saja mengembangkan senyuman tipisnya pada Marwah.


Wanita berkerudung hitam itu hanya bisa berkedip, mendengar ucapan Cia. Bahkan gerakan tangannya terhenti sejenak, kedua matanya masih menatap tak berkedip pada Cia.


Setelah puas menatap, Marwah segera mengalihkan pandangannya kearah depan, tanpa berkata apa pun. Kedua wanita beda usia itu, kembali sibuk dengan acara masak mereka. Tanpa ada suara seedikit pun yang mereka keluarkan, setelah pembicaraan mereka tadi. Hingga Cia dan Marwah tidak sadar, kalau sedari tadi Alkan mendengar pembicaraan kedua wanitanya, tanpa terlewat sedikit pun.


__ADS_1


DENGERIN YA MAK


__ADS_2