Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Amarah Tertahan


__ADS_3

"Gimana, Dok?" tanya Cia penasaran.


Saat ini Cia dan Bunda Marwah tengah berada di kamar tamu yang di tempati ibu mertuanya, bahkan Alkan pun tidak tahu kalau Cia memanggil dokter spesialis jantung untuk memeriksa kesehatan sang Bunda.


Pria itu masih berada di ruang Gym bersama Galaska, karena hari ini akhir pekan jadi Alkan tidak bekerja, hujan gerimis pun masih mengguyur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7.05 pagi. Saat ini didalam kamar hanya ada Cia, Mami Lovy, Nagara, Bunda Marwah dan Dokter Hanna.


Nagara yang tadi baru saja keluar dari ruang Gym, begitu penasaran melihat dokter keluarganya tiba tiba datang. Nagara pikir terjadi sesuatu pada Lovyna atau anggota keluarga lainnya, maka dari itu Nagara mengikuti langkah sang dokter.


"Jantung Ibu Marwah baik baik saja, ya walaupun memang Ibu Marwah ini ada riwayat sakit jantung. Tapi sejauh ini sehat, Ibunya juga terlihat segar, terus kenapa Nona memanggil saya? apa tadi mertua Nona ada keluhan," ujar tenang sang dokter yang berusia 30 tahun itu.


Cia menghela napas lega, salah satu tangannya meraih beberapa botol obat yang sering di konsumsi Bunda Marwah.


"Ini obat apa ya, Dok? dua hari yang lalu dokter yang biasa memeriksa Bunda memberikan ini, katanya ini vitamin, apa benar?" Cia memberikan botol botol obat itu pada sang dokter.


Mereka semua menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Dokter Hanna, dan Cia berharap itu jawaban baik, tidak seperti yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Ketiga botol obat ini memang obat jantung," ujar Dokter Hanna pelan.

__ADS_1


Dan itu bisa membuat mereka menghela napas lega, terutama Cia. Bahkan terlihat sekali kalau Bunda Marwah menatap heran pada menantunya. Kenapa Cia memanggil dokter cantik ini, apa Cia mencurigai Dokter Elina yang selama ini mengobatinya? tapi tidak mungkin kan kalau Dokter baik itu, memberikan sesuatu yang akan membahayakan hidup pasiennya sendiri.


"Tapi- botol yang ini kenapa isinya berbeda, wadahnya botol vitamin tapi isinya obat jantung berdosis tinggi? padahal jantung Ibu Marwah baik baik saja sejauh ini, mengkonsumsi vitamin dan obat jantung berdosis rendah saja, itu sudah cukup. Karena kalau Ibu Marwah sampai mengkonsumsi obat berdosis tinggi, akan bahaya untuk kinerja jantungnya. Bahkan mungkin penyakit jantung yang di derita Ibu Marwah akan semakin parah." ucapan Dokter Hanna, membuat Cia dan yang lainnya membatu, terutama Bunda Marwah.


Wanita paruh baya itu sampai memegangi dadanya sedikit sesak, karena benar benar terkejut. Bunda Marwah tidak menyangka kalau vitamin itu ternyata obat berdosis tinggi, pantas saja setiap habis mengkonsumsinya detak jantungnya bekerja lebih cepat, bahkan berdebar berlebihan.


"Ada apa ini? Bunda kenapa?" tanya seseorang dari ambang pintu, bahkan wajahnya terlihat khawatir.


"Mas Al?" panggil Cia pelan.


"Kenapa ada dokter? siapa yang sakit?" Alkan terus saja bertanya, kedua sorot matanya terlihat khawatir.


Alkan menatap lembut pada sang istri dan sang Bunda, pria berlesung pipi itu terlihat menuntut jawaban dari mereka semua.


"Maaf, tidak ada yang sakit disini. Saya hanya memeriksa kesehatan jantung Ibu Marwah, Alhamdulilah jantungnya sehat sejauh ini. Hanya saja, sepertinya ada kesalahan yang di lakukan oleh dokter yang menangani Ibu Marwah sebelumnya. Dokter itu memberikan obat jantung berdosis tinggi, tapi anehnya kenapa diletakan di botol vitamin? apa ini ada unsur kesengajaan, atau kelalaian?" ucap Dokter Hanna lagi.


Ucapan dokter wanita itu membuat Alkan membulatkan kedua matanya, apa lagi saat dokter itu kembali menjelaskan kalau obat jantung berdosis tinggi sangat berbahaya, apa bila di konsumsi oleh pasien yang memiliki riwayat sakit jantung biasa dan sedang.

__ADS_1


Kedua tangan Alkan terkepal erat, pria berwajah teduh itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan saat Cia mendekat, Alkan masih menatap datar pada beberapa botol obat yang biasa di konsumsi oleh sang Bunda.


"Mas?" panggil Cia pelan.


Wanita itu membelai lembut lengan atas Alkan, Cia tahu kalau saat ini sang suami tengah menahan amarahnya.


"Apa kita bisa menuntut dokter dan kliniknya?" tanya Alkan to the poin.


Cia, Bunda Marwah Lovyna dan Nagara segera menatap pada Alkan, kedua mata mereka membulat mendengar ucapan dingin si Bapak Penghulu, yang terkenal sabar, ramah, baik, dan pandai mengendalikan amarahnya.


Cia menatap tak berkedip pada sang suami, bahkan kedua matanya semakin membulat kala mendengar ucapan sang Papi.


"Bisa, Papi yang akan bantu kamu." ucap Nagara yakin.



MAS AL MAH GAK GAMPANG MARAH, TAPI SEKALI MARAH😭😭😭,MARAHNYA ORANG SABAR NGERI

__ADS_1


__ADS_2