
📲Unknown number
[Assalamualaikum, apa benar ini dengan, Cici?]
Suara lembut seseorang yang ada diseberang telepon, membuat Cia membatu. Kedua matanya tidak mengerejab, bahkan Cia tidak dapat mengeluarkan suara sedikit pun, walau hanya menjawab salam.
Cia terlalu terkejut, suara orang yang sedari dia pikirkan, akhirnya bisa dia dengar.
📲Unknown number
[Hallo, Assalamualaikum, maaf kalau saya salah sambung, saya akan tutup tel..,"]
"Wa-Waalaikumsallam," sahut Cia terbata.
Namun, kedua sudut bibir Cia terangkat, dan itu membuat Yasmine menaikan sebelah alisnya. Apa lagi, saat mendengar suara orang yang ada diseberang telepon, suara seorang pria, namun terkesan lembut sekali.
📲Unknown number
["Cici?"] panggilnya lembut.
Cia sudah memejamkan kedua mata, mendengar panggilan itu, hatinya terlalu rapuh, kala berurusan dengan suara lembut serta membuatnya candu.
"I-iya, Mas Al?" ucap Cici tergagap, senyuman di bibirnya semakin lebar, bahkan secara tidak sadar, Cia mengeratkan jaket Alkan, yang tengah dia pakai saat ini.
📲Unknown number
["Apa besok, kamu mau bertemu dengan Bunda? tapi, kalau kamu belum siap, tid...,"]
__ADS_1
"Bunda? Bundanya Mas Al? b-bisa! bisa kok. Nanti Mas Al, chat aja ke nomor ini, udah ya Cici masih sibuk, iya sibuk Assalamualaikum!" putus Cia.
Bip!
Gadis itu segera mematikan sambungan telepon, entah kenapa detak jantungnya semakin berdentum kencang. Kedua matanya, menatap kosong pada ponsel, yang masih dia genggam.
"Kenapa dimatiin, ogeb?" ucap gemas Yasmine.
Ingin rasanya, Yasmine mencubit manja Cia saat ini. Bukannya dia sedang merindukan si Bapak Penghulu, lalu kenapa malah dimatikan panggilannya.
"Mas Al, Mas Al mau ngajak aku ketemu sama Bundanya?" cicit Cia, resah gelisah dan serba salah.
"Ya bag...," ucapan Yasmine terputus.
"ASTAGA DRAGON BALL, ANJANI SUHERMAN! AKU HARUS APA TUHAN! TOLONG BANTU HAMBA MU INI!" pekik keras Cia tanpa sadar, bahkan Yasmine pun harus menutup kedua telinganya, mendengar pekikan Cia.
Kedua wanita itu menoleh kearah pintu, bahkan Yasmine segera melompat kedalam pangkuan Cia, kala melihat Melody tengah menodongkan senjata api kearah mereka.
"Ada apa, Nona? mana orangnya?!" ucap dingin Melody, bahkan wajah si wanita robot itu terlihat serius.
"MELODY SUMBANG! GANTI PINTU KANTOR KAK BELL!" pekikan keras Cia, untuk kesekian kalinya.
🕊
🕊
🕊
__ADS_1
"Kenapa dimatikan?" monolognya, kedua alisnya bertaut sembari menatap heran pada si ponsel.
Pria itu menghela napas kasar, jari jemari besarnya terus saja mengotak atik layar ponsel, terlihat tengah mengetik sesuatu.
💌to Cici [Besok saya jemput, pukul 4 sore,Waalaikumsallam.] Send
Cukup singkat, pesan yang dikirimkan nya, pada gadis yang saat ini, akan berta'aruf dengannya.
Ting📩 Cici
[Aku tunggu]
Pesan balasan dari sang gadis, membuat kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Perlahan dia menarik napas dalam, semoga besok pertemuan dia dan keluarga Cia, akan berjalan lancar.
"Bismillah hirrahmanirrahim." gumamnya pelan.
"Mas Alkan? kita makan dulu, udah siang nih!" panggil seorang pria.
Pria yang sedari tadi tengah menghirup napas dalam, terlihat mengangguk. Dia segera meraih kunci motor, ponsel serta dompet yang ada didalam tas kerja miliknya.
"Ayo! mau makan dimana kita?" tanya Alkan, pada rekan kerjanya yang bernama Fathur.
"Nasi padang kayaknya enak, ayolah sekali sekali. Gak mungkin kolesterolkan, kalau cuma makan sekali." kekeh pria itu lagi.
Sedangkan Alkan, dia hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, pada rekan kerjanya.
__ADS_1
ADUH ADUH ADUH ADUH, MELEHOI NENG BANG