
Semua orang menatap pada pria berlesung pipi yang masih terlihat tenang, sedangkan Cia yang ada di sebelah sang suami terlihat semakin melekatkan tubuhnya.
Cia berkedip cepat kala melihat tatapan warga mengarah ke arah suaminya. Apa mereka tidak menerima ucapan serta saran yang Alkan ucapkan?
"Kamu siapa?" tanya si pria paruh baya arogan tadi.
Bahkan terlihat sekali kalau dia tidak menyukai ucapan Alkan tadi, kedua matanya memicing tajam pada si Bapak Penghulu.
"Maaf kalau ucapan saya tidak berkenan di hati anda, nama saya Alkan tamu di kampung ini. Saya dan istri saya malam ini terpaksa menginap di rumah Pak RT karena terjebak hujan. Tadi pagi saya menikahkan sepasang kekasih di sini, dan mungkin malam ini saya akan kembali menikahkan," ujar tenang Alkan.
Bahkan si pria berlesung pipi itu melirik Denis lewat sudut matanya, pria muda itu terlihat menatap kosong ke arah jendela kamar. Sebagai pria, Alkan juga bisa merasakan apa yang saat ini Denis rasakan. Hubungan tidak di restui pasti sangat menyesakan, itu lah yang dulu Alkan takutkan saat menjalin ikatan bersama Cia.
Namun ketakutan hilang, saat keluarga besar Cia merentangkan kedua tangan mereka, memberikan sambutan hangat padanya dan sang Bunda. Mereka tidak memandang status dan derajat keluarganya, padahal Alkan sempat tidak percaya diri kala melihat istana sang gadis pujaan.
"Saya rasa saran yang di berikan Mas Alkan benar, lebih baik masalah ini di selesaikan secara baik baik, dari hati kehati. Mungkin Juragan, Den Denisย dan keluarga Pak Jamal bisa berbicara terlebih dahulu, secara kekeluargaan." lerai Pak RT.
Sebagai aparat desa, Pak RT tidak bisa membela pada satu pihak saja. Dia harus adil agar masalah keluarga ini bisa cepat di selesaikan.
"Baiklah, mari kita bicarakan di dalam." tutur Pak Jamal.
Dia mencoba menyingkirkan ego nya terlebih dahulu, Pak Jamal ingin melihat seberapa serius pria muda ini terhadap putri bungsunya. Dengan status dan derajat mereka yang berbeda, apa mungkin keluarga Denis sudi menerima sang putri sebagai menantu mereka nanti?
๐
๐
__ADS_1
๐
Crystal terus saja membolak balikankan tubuhnya, malam ini kedua matanya enggan terpejam. Hujan di luar masih turun, bahkan sesekali guntur bersahutan.
Kedua matanya tertuju pada tirai jendela kaca, Crystal melihat siluet seseorang tengah memandanginya. Dengan rasa penasaran yang sudah di ubun ubun, Crystal segera menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Kedua kaki telanjangnya membawa Crystal ke arah jendela kaca, dengan cepat Crystal menyibakan tirai putih yang bergoyang di terpa angin malam.
Deg
Kedua matanya membulat kala melihat siapa yang tengah berdiri di tengah hujan.
"B-Bang Gala?" bisiknya pelan.
"Kenapa dia hujan hujanan?" lirih Crystal.
Gadis bergaun malam itu segera berbalik, Crystal berencana untuk keluar menemui si pria galak itu. Mungkin dia nanti akan memarahinya, tidak peduli kalau Galaska juga akan berbicara pedas padanya.
Namun belum sempat Crystal melangkah, terdengar suara tembakan dari arah luar. Gadis itu segera menoleh, kedua matanya membelalak kala melihat Galaska sudah terduduk sembari memegangi dadanya. Sementara di hadapan Galaska, terlihat Raiden tengah berdiri angkuh sembari mengacungkan sebuah pistol ke arah kepala Galaska.
DOR
"Bang Gala!" Crystal berteriak sekuat mungkin, saat melihat Raiden menekan pelatuk pistolnya.
"Crystal? hei kamu kenapa?" panggil seseorang.
__ADS_1
Crystal segera membuka kedua mata, keringat di dahinya mengalir deras. Bahkan tenggorokannya terasa kering saat ini.
"Ayo minum dulu," orang itu memberikan segelas air putih pada Crystal.
Namun sepertinya gadis itu masih syok, mimpi yang dia alami terasa begitu nyata sekali. Crystal menghirup napas perlahan, lalu menghembuskannya pelan.
Kedua mata biru Crystal menatap pria yang tengah memberikan segelas air putih padanya, Crystal menatap lamat lamat wajah berjambang itu, suara, bentuk wajah, bahkan postur tubuhnya kenapa mirip sekali.
"Sebenarnya kamu ini siapa?" lirih Crystal.
Bahkan satu tangannya sudah terulur untuk menyentuh wajah sang pria, namun belum sempat jari jemari lentik itu sampai, sang pria sudah mencekal lengannya pelan.
"Tidurlah, ini masih malam." tuturnya pelan.
Sang Pria kembali menaikan selimut tebal hingga dada Crystal, setelah itu dia bangkit lalu keluar kamar meninggalkan Crystal sendiri.
'Bang Gala?' lirih hati Crystal.
DEK CRYSTAL KENAPA? MIMPI BURUK
BANG GALAK STAY COOL
__ADS_1