Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Bukan Pacar


__ADS_3

Dahi Cia berkerut, mendengar ucapan Alkan. 'memiliki kekasih?' memangnya kapan dia memiliki kekasih?


Namun seperdetik kemudian, kedua matanya membulat, perlahan senyuman kecil terbit dikedua sudut bibirnya. Cia baru menyadari, kalau kemarin bukannya dia dan si Bapak Penghulu ganteng ini, sempat pandang pandangan seperti adegan film India.


Sebelum dia dibawa masuk kedalam mobil Reky, si mantan pacar saat Cia masih SMA. Gadis itu berdehem, guna menghilangkan serak, serta rasa mengganjal di tenggorokannya.


Cia memiringkan kepala, agar bisa melihat wajah Alkan secara sempurna. Alkan sendiri masih terdiam sembari menatap lurus, kearah lautan lepas. Menunggu jawaban dari gadis, yang tengah menatapnya tanpa berkedip.


"Perasaan aku gak punya pacar deh, kalau aku punya pacar, bisa bisa tuh cowok di instrograsi dulu sama Bang Gala." ucap Cia tidak sadar, bahkan gadis itu segera menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri.


Ucapan Cia membuat Alkan menoleh, pria itu menatap heran pada gadis yang tengah menutup mulutnya sendiri.


"Di instrogasi? kenapa?" tanya Alkan penasaran.


Bukannya menjawab, gadis berambut panjang itu malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Menghindari, tatapan menuntut dari pria yang ada disebelahnya.


"Emm- y-ya gak apa apa, cuma-cuma ya gitu deh, Abang Gala cuma mau kenal, iya mau kenal." alasan yang cukup bagus Cia, tapi tidak perlu gugup begitu.


"Oh," sahut Alkan biasa saja.


"Buat yang jadi pacar kamu saja, kan?" lanjutnya.


Kedua sudut bibir Alkan terangkat, kala melihat dahi Cia kembali berkerut. Bahkan kedua mata beningnya, menatap padanya tanpa berkedip.


"Iya," ujar pelan Cia.

__ADS_1


"Berarti saya tidak perlu di introgasi, oleh Abang kamu." ucap Alkan tenang, bahkan masih dengan senyuman manisnya, yang terus dia tunjukan pada Cia.


"Hah? ah iya, ah enggak." ucap Cia bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi bukannya Gala memang tidak mengistrogasi Alkan, dia dan si Bapak Penghulu kan memang tidak pacaran.


"Kita kan tidak pacaran, kita ta'aruf. Yang artinya masa perkenalan lebih dekat menurut islam, saling kenal satu sama lain, antara diri pribadi dan keluarga kita. Mungkin, besok atau lusa, saya mau kenalin kamu ke Bunda," ujar tenang Alkan.


Namun tidak tenang untuk Cia, gadis cantik itu semakin menatap dalam pada Alkan. Kedua matanya mengerjab cepat, pria ini ingin membawanya kehadapan sang Bunda. Cia menelan saliva susah payah, jantungnya berdetak tiga kali lebih kencang.


'Haduh, gimana kalau ibunya gak suka sama aku, anaknya aja solehot kayak gini, gimana ibu sama bapaknya? aku harus pakai apa nanti, pakai gamis, gaun, apa pakai celana jeans sama kemeja?' monolognya dalam hati.


Cia bahkan mengigit kuku cantiknya gugup, kedua mata bening itu menatap kosong kearah Alkan, yang tengah menikmati deburan ombak dihadapannya.


Kriiiing!


"Ya Assalamualaikum, saya sebentar lagi ke kantor. Mas Fathur urus dulu sebentar oke, saya baru mau jalan. Terimakasih Mas, waalakumsallam." Alkan menghakhiri pembicaraan.


Pria itu kembali memasukan ponsel kedalam kantung celana bahannya, kemudian pandangannya mengarah pada Cia, yang juga tengah menatap padanya.


"Saya harus kembali ke kantor, kamu masih mau disini? atau mau pulang?" tanya Alkan lembut.


Cia terlihat mengedarkan seluruh pandangan kesemua area pantai, dia tidak melihat sang Mami, dimana pun saat ini. Gadis itu menghela napas pelan, lalu tidak lama menganggukan kepala.


"Emm- aku masih mau disini. Oh iya, kalau M-Mas Al ngira aku punya pacar, itu salah besar, aku gak punya pacar kok. Kemarin itu man...,"


"Saya tahu," potong Alkan cepat, dan itu membuat dahi Cia berkerut.

__ADS_1


"Tadikan kamu sudah mengatakannya, ya kan?" lanjut Alkan, bahkan pria itu kembali tersenyum lembut pada Cia. Membuat Cia semakin meleleh, seperti es krim yang tersengat matahari.


Rasanya ingin sekali menusuk lesung pipi si Bapak Penghulu, yang sedari tadi menggodanya.


Cia tidak mau berkata lagi, dia hanya menganggukan kepala pelan, senyuman tertahan Cia bahkan mampu membuat Alkan, semakin melebarkan senyumannya.


"Kalau begitu, saya duluan. Kamu hati hati, pakai saja jaketnya jangan dilepas sebelum kamu sampai dirumah!" ucap pelan Alkan, namun terkesan tidak ingin di bantah.


Akhirnya, senyuman Cia yang tadi tertahan seketika terbit. Kedua matanya bahkan sampai menyipit, Cia tidak bisa mengungkapkan apa pun lagi, yang pasti hari ini adalah, hari yang paling membahagiakan untuknya.


"Mas Al, hati hati dijalan, d-dadah." Cia melambaikan satu tangan pada Alkan, membuat pria itu tersenyum kembali.


"Kamu juga hati hati, dan satu lagi, saya suka panggilan dari kamu, Mas Al." ucap Alkan, khas dengan senyuman tipis nan manis,yang mampu membuat Cia ter Alkan Alkan.



**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


UDAH HARI SENIN AJA YA


JANGAN LUPA DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**

__ADS_1


__ADS_2