Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Lebih Dari Satu


__ADS_3

Hoek


Alkan terus saja mengeluarkan seluruh isi perutnya, setelah sarapan tiba tiba dia merasakan gejolak aneh, lalu merambat ke tenggorokan dan akhirnya keluar semua.


"Tuh kan, Cici udah bilang jangan makan buah asem itu, nanti Mas kena asam lambung." omel Cia.


Wanita itu menatap khawatir pada Alkan, yang masih berjongkok di toilet. Dengan pelan Cia memijat pundak Alkan, agar suaminya bisa merasa nyaman.


"Kalau Mas Al sakit, kita batalin aja ya perginya. Minggu besok aja gak apa apa, Cici takut kalau nanti sakitnya tambah parah." ucap Cia khawatir.


Cia membantu Alkan bangkit, tubuh suaminya terlihat lemas, bahkan kedua mata Alkan terpejam kala Cia menyeka lembut butiran keringat di dahi serta pelipisnya.


"Perut Mas mual, tapi susah di keluarin." gumam Alkan.


Kedua tangannya mendekap tubuh Cia, si Bapak Penghulu menumpukan kepalanya di pundak Cia dengan nyaman.


"Ya udah, Mas istirahat ya. Cici mau bikin teh hangat dulu, kasian banget sih kesayangan Cici, masa gara gara makan buah asem itu langsung sakit," tutur Cia prihatin.


Alkan tidak menjawab, pria berlesung pipi itu melangkah lunglai kala Cia membawanya keluar. Alkan merasakan seluruh persendiannya lemas tidak bertenaga, bahkan penciumannya tiba tiba saja menjadi sensitif.


"Ayo Bu Bidan masuk, anak saya ada di dalam." Cia dan Alkan menoleh, saat mendengar suara Bunda Marwah.


Dengan terpaksa Cia mengurungkan niatnya membawa Alkan ke kamar mereka, Cia membawa Alkan ke arah sofa ruang keluarga lalu mendudukkan suaminya di sana.


"Bun, Mas Al ada di si-,"


"Nah ini anak saya Bu Bidan, silahkan di periksa ya. Maklum mereka pasangan baru, jadi belum paham dan mengerti." ucap Bunda Marwah tiba tiba.

__ADS_1


Bahkan Cia mengedipkan mata berkali kali, saat melihat Bunda Marwah membawa sang bidan ke arahnya, melewati Alkan yang masih memejamkan kedua mata.


"B-Bun, bukan Cici yang sakit tapi Mas Al," protes Cia.


Namun dia tidak bisa berbuat apa apa saat Bunda Marwah menuntunnya duduk, lalu dengan perlahan ibu mertuanya itu merebahkan dirinya di sofa.


"Maaf ya Sayang, Ibu periksa dulu." tutur lembut sang bidan pada Cia.


Wanita yang seusia ibu mertuanya itu terlihat mengangkat kaos Cia hingga dada, lalu menempelkan stetoskop di perutnya. Rasa dingin benda itu membuat seluruh permukaan kulit Cia meremang.


Dahi Cia mengernyit kala melihat bu bidan berhijab ini tersenyum padanya, namun sang bidan tidak kunjung mengakhiri pemeriksaannya.


Bahkan Cia semakin bingung kala melihat sang bidan memberikan gel bening di perutnya, lalu sebuah alat aneh yang belum pernah Cia lihat sebelumnya, kembali menyentuh permukaan kulit putih mulus miliknya.


Rasa dingin dan geli bisa Cia rasakan secara bersamaan, Cia terlihat sudah pasrah dia tidak bergerak atau pun bersuara saat bu bidan kembali melakukan tugasnya. Dahi Cia semakin berkerut, kala mendengar suara aneh saling bersahutan dari benda persegi putih kecil milik sang bidan.


Sementara Bu Bidan dan Bunda Marwah tersenyum haru, kedua wanita paruh baya itu saling pandang.


Di saat Bu Bidan dan Bunda Marwah tersenyum bahagia, Cia malah terlihat loading. Dia benar benar shock mendengarnya, kedua mata abu abu beningnya menatap pada Alkan yang juga sama bingungnya seperi Cia.


πŸ•Š


πŸ•Š


πŸ•Š


Galaska terus saja meringis sembari memegangi telinganya, bahkan pria berambut ikal itu tidak berani untuk menatap sang Mami sekarang.

__ADS_1


"Jadi?" ucap Lovyna penuh intimidasi.


Galaska menghela napas kasar, salah satu sudut matanya melirik pada Crystal yang tengah memakan buah anggur dengan santai.


"Gala akan menikahi Crystal secepatnya, Mi. Kita udah sepakat, ya pokoknya kita berdua bakalan nikah secepatnya," ujar Galaska yakin.


Pria itu bingung harus berbicara apa pada Sang Mami, Galaska sepertinya sudah termakan ucapan serta karmanya sendiri. Bahkan sumpah Cia sepertinya tengah on the way mendekat padanya.


Doa serta sumpah serapah Cia, yang selalu mendoakan Galaska menjadi budak cinta hingga aliran darah, sebentar lagi akan terjadi.


Lovyna menatap serius pada putra sulungnya, kedua mata abu abu Lovyna menatap secara bergantian antara Crystal dan Galaska.


"Kamu yakin Sayang, mau menerima anak Mami yang bermulut petasan renteng ini, untuk jadi suami kamu?" tanya Lovyna pada Crystal.


"Mami?" rengek Galaska, kala sang Mami hendak mempengaruhi Crystal.


"Ck, berisik kamu Bang! ya udah, pokoknya seminggu lagi kalian menikah, terus resepsinya nanti kita barengin sama Cia dan Alkan." final Lovyna tidak bisa di ganggu gugat.



CIEE CI CALON PAPA GANTENG



**CIEE CI CALON BUCINπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


YUHUUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORRO


BABAYYY MUUUAAACCHH**


__ADS_2