Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Saya Suaminya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Cia terus saja berceloteh, dia tidak peduli Alkan mendengar ucapannya atau tidak. Kedua tangan Cia terus saja memeluk erat tubuh Alkan, tanpa ingin mengendurkannya sedikit pun.


Suasana sore yang cerah setelah hujan sedari pagi, membuat jalanan cukup padat. Cia dan Alkan bahkan beberapa kali terjebak lampu merah, namun itu sama sekali bukan masalah bagi Cia.


Biarpun pan*tatnya terasa kebas karena jok motor yang dia duduki keras, itu tidak membuat Cia kapok. Justru suasana saat ini membuatnya ingin selalu dia nikmati sepanjang waktu.


Apa lagi saat Alkan membelai lembut kedua telapak dan punggung tangannya, kala mereka terjebak lampu merah, Cia benar benar ingin menaiki motor setiap hari.


Laju motor trail Alkan semakin sedang, kala tempat yang mereka tuju sudah terlihat. Waktu menunjukkan pukul 16.35 sore, para pedagang kaki lima sudah stanbay di lapak masing masing. Semoga saja Kang Sempol cinta Alkan dan Cia dagang hari ini.


"Mau beli apa dulu?" tanya Alkan lembut.


Salah satu tangannya membantu Cia untuk membuka helm super mahal milik Galaska, karena si Bang Galak sedang tidak ada di habitatnya, jadi Cia meminjam helm itu tanpa izin. Helm full face yang harganya mencapai puluhan juta itu, membuat Cia terus mendekapnya erat.


"Helm Abang kita bawa aja ya, Mas. Takut ilang, nanti kalau ilang Cici bisa kena amuk,"ujar Cia pelan.


Alkan mengangguk, satu tangannya meraih helm yang ada di dalam dekapan sang istri, sedangkan satu tangannya lagi Alkan gunakan untuk menggenggam tangan Cia.


"Cici mau sate ati ampela." pinta Cia.


"Oke, ayo kita cari." ajak Alkan.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu berjalan menyusuri setiap lapak para pedagang, entah sudah berapa bungkus makanan yang Cia pegang. Satu tangannya penuh dengan plastik makanan dan beberapa cup minuman.


Karena Kang Sempol Cinta tidak dagang hari ini, Cia sedikit kecewa. Namun wanita itu tidak memikirkan yang tidak ada, masih banyak makanan yang bisa dia coba.


"Ayo kita mencari tempat duduk," ajak Alkan pada Cia.


Dia tahu kalau istrinya sudah merasa pegal karena terus berkeliling, dan ingin segera menikmati makanan yang mereka beli.


Setelah menyusuri tempat itu guna mencari tempat duduk kosong, akhirnya Cia dan Alkan bisa bernapas lega. Cia segera memberikan satu cup bobba pada Alkan, setelah mereka duduk dengan tenang.


Cia terlihat menikmati suasana ini, bahkan raut wajahnya tidak bisa berbohong kalau Cia begitu bahagia. Dengan telaten Cia menyuapi Alkan, bahkan sesekali tertawa kecil kala melihat pipi suaminya menggembung.


"Cia?" panggil seseorang.


Tawa kecil Cia dan Alkan terhenti kala mendengar seseorang memanggil  nama Cia, dahi Cia berkerut kala melihat seorang pria mendekat ke arahnya dan Alkan.


"Kenapa kamu ada disini? ini sudah sore, ayo aku antar pulang! tidak baik anak gadis berduaan dengan pria di tempat sepi." ucap orang itu lagi sedikit menyindir.


Bahkan dengan lancang dia memegang lengan Cia, tanpa memperdulikan tatapan datar pria yang tengah bersama Cia.


"Memangnya kenapa? apa itu merugikan kamu, Reki?" tukas Cia tidak suka.

__ADS_1


Apa lagi saat pria masa lalunya itu memegang lengannya, Cia bahkan segera menghempas kasar tangan Reki yang mencekal lengannya.


"Cici, kenapa kamu berubah? Cici yang aku kenal gak begini, dia gadis baik dan sangat menjaga jarak dengan laki laki. Terus kenapa kamu berdekat-," ucapan Reki terputus


"Mau kamu apa? tau gak,  kamu itu ganggu waktu berdua aku sama-," Cia segera menyela cepat, Namun kembali terputus.


"Kamu berdua sama laki laki, itu gak baik Ci! ayo pulang! aku anterin kamu pulang," ujar Reki lagi.


Bahkan pria itu kembali meraih lengan Cia, dan kali ini berhasil membuat Alkan meradang. Pria berlesung pipi yang sabarnya kebangetan itu, akhirnya runtuh kala melihat lengan mulus wanitanya di cengkram kasar oleh pria lain. Bahkan Alkan saja tidak berani menyakiti wanitanya, dan pria yang dia kenal sebagai mantan kekasih sang istri, berani menyakiti wanitanya.


Alkan mencekal kuat lengan Reki, agar pria itu melepaskan cekalan tangannya dari Cia.


"Lepaskan tangan anda baik baik, atau saya paksa. Saya suaminya, jadi anda tidak perlu khawatir Cimut bersama siapa sekarang," ujar pelan Alkan, namun mampu membuat Reki membatu di tempatnya.


Bahkan cekalannya di lengan Cia mengendur, dan perlahan terlepas.


"Su-suami?" beonya tidak percaya.



GUE LAKIK NYA, MAU APE LU HUH

__ADS_1


__ADS_2