Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Untuk Masa Depan Kita


__ADS_3

Alkan terlihat mengotak atik laptopnya, dahi pria berlesung pipi itu sedikit berkerut kala melihatĀ  grafik di layar datar itu.


Salah satu tangannya terulur meraih cangkir teh safron buatan Cia, namun kedua matanya terus saja terarah pada satu titik.


"Mas?" panggilan manja seorang wanita, membuat Alkan menoleh.


Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat si Cimut kesayangannya mendekat, bahkan Alkan melambaikan tangan meminta agar Cia mendekat.


"Sudah masaknya?" tanya Alkan lembut.


Satu tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan sang istri, sementara kedua mata dark coklatnya terus saja menatap wajah lelah Cia.


"Ayo, Mas makan dulu. Matiin laptopnya, perasaan dari tadi main laptop terus." omel Cia.


Wajah wanita cantik itu terlihat mendung, Cia sedikit kesal karena di waktu libur seperti ini saja Alkan masih mengotak atik ponsel dan laptopnya. Padahal Cia menginginkan waktu Alkan sepenuhnya hanya milik dia, disaat weekend seperti ini.


"Sebentar ya, Mas masih mantau penjualan gabah sama biji coklat yang di kirim Pak Dartim." ucap lembut Alkan.


Pria berlesung pipi itu mencoba memberi pengertian pada Cimut kesayangannya, bahkan kedua tangan Alkan sudah menggenggam erat telapak tangan istrinya.


Sementara Cia menatap Alkan tak percaya, kedua netra abu abu beningnya mengerejab cepat mendengar ucapan sang suami.


"Gabah? Mas Al punya sawah? apa lagi bisnis padi?" cecar Cia penasaran.


Kedua matanya beralih pada layar laptop milik suaminya, Cia menatap lamat lamat grafik yang sama sekali tidak di mengerti olehnya.


"Ini garis apa?" tanya Cia, salah satu tangannya menunjuk layar datar itu.


Bahkan Cia menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat dengan jelas.


"Itu grafik hasil penjualan gabah kita," ujar pelan Alkan.

__ADS_1


Satu tangannya meraih pinggang sang istri, agar Cia bisa duduk di atas pangkuannya. Sementara salah satu tangan Alkan yang menganggur terlihat mengotak atik mouse.


Cia yang memang tidak suka membuang kesempatan, segera memeluk leher suaminya dengan erat. Bahkan dengan gemas Cia terus saja membubuhkan kecupan di pipi sang suami.


"Mas Al bisnis gabah?" tanya Cia lagi.


Dia benar benar belum mengerti sepenuhnya, Cia tahu apa itu gabah tapi tidak tahu dari mana Alkan mendapatkannya.


"Bisa di bilang begitu," ujar tenang Alkan.


Satu tangannya yang melingkar di pinggang ramping Cia semakin mengerat, bahkan dengan nyaman Alkan bersandar di dada istrinya.


"Sawahnya punya siapa?" tanya Cia bingung.


Kedua netra wanita itu menatap wajah suaminya, bahkan dengan gemas Cia meraih wajah Alkan dengan kedua tangannya. Hingga wajah keduanya saling berhadapan tanpa penghalang sedikit pun.


"Punya kita," sahut Alkan.


Sedangkan Cia masih terdiam, bahkan saat Alkan menggigitnya gemas pun, otak cantik Cia mssih berkelana bebas.


"Lihat, ini buat masa depan kamu dan anak anak kita nanti. Mas memang tidak memiliki perusahaan seperti orang kebanyakan, tapi Mas punya sawah dan perkebunan coklat. Alhamdullilah, ini bisa mencukupi kehidupan kita kedepannya, pengobatan Bunda, sekolah anak kita nanti." jelas Alkan.


Kedua matanya beralih kembali pada Cia yang masih mematung, Alkan tersenyum lebar hingga menampakan lesung pipinya saat melihat kedua netra indah Cia berkaca kaca.


"Kamu kenapa, Cimut?" tanya Alkan lembut, bahkan si Bapak Penghulu mengusap pelan salah satu pipi chubby milik istrinya.


Bukannya menjawab, Cia malah kembali memeluk leher sang suami. Cia memberikan banyak kecupan di seluruh wajah prianya.


Cia terlihat begitu agresif, bahkan tanpa ragu dia mencium bibir suaminya dengan lembut dan menuntut. Keduanya terhanyut makin dalam, Alkan pun semakin tergoda untuk meminta lebih kala salah satu tangan Cia, sudah bergerilya di area dadanya.


Ciuman mesra dan manis mereka semakin dalam dan dalam lagi, kedua tangan Alkan sudah merengkuh tubuh Cia posesif. Begitu pun dengan Grecia, wanita itu membenamkan kesepuluh jari jemarinya di rambut sang suami.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu pun tidak membuat aktifitas mereka terganggu sedikit pun.


Hingga...


"Cici, ajak suami kamu makan dulu!" suara teriakan Bunda Marwah, membuat tautan bibir keduanya terlepas.


Alkan dan Cia saling bertukar pandang, lalu secepat mungkin keduanya menjauh, Alkan maupun Cia tidak akan membiarkan sang Bunda berteriak untuk kesekian kalinya.


"I-iya Bun, Mas Al nya masih main laptop." sahut Cia, wanita berdaster pendek itu segera keluar dari kamar, namun sebelum Cia benar benar menjauh dia masih menyempatkan diri untuk mencuri kecupan di bibir Alkan.


"Nanti kita lanjut lagi, sekarang isi bensin dulu." ucap jahil Cia, bahkan dengan genit dia mengerling pada suaminya.


Alkan menghela napasnya kasar, dengan lunglai pria berlesung pipi itu menangkubkan kepala di meja kerjanya.



**OTHOR JUGA SUKA BULUNG LOH MAS AL


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


UDAH SENIN AJA NIH, GIMANA KABAR KALIAN


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**

__ADS_1


__ADS_2