Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Di Perjalanan Pulang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Cia terus saja mendekap tubuh Alkan dari belakang, selepas sholat subuh Alkan dan Cia memutuskan segera meninggalkan perkampungan..


Bahkan mereka berdua harus menolak secara halus permintaan Pak RT dan istrinya, saat meminta mereka berdua sarapan terlebih dahulu. Alkan merasa tidak enak kalau terlalu merepotkan, dia dan Cia akan mencari sarapan di perjalanan nanti.


"Mau sarapan apa?" tanya Alkan.


Karena laju motor trail mereka pelan, jadi Cia masih bisa mendengar dengan jelas suara sang suami. Apa lagi saat ini Cia tidak memakai helm, jadi telinga dan kepalanya masih bisa singkron.


"Terserah Mas aja, mau sarapan pakai bubur, nasi uduk, soto ayam, yang penting perut Cici kenyang." sahut Cia pelan.


Salah satu pipinya sudah menempel di punggung suaminya, Cia begitu menikmati perjalanan pulang mereka. Walaupun udara pegunungan masih terasa dingin menusuk kulit, namun bagi Cia tubuhnya masih terasa hangat saat berdekatan dengan Alkan.


Sementara si pria berlesung pipi, sedikit menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban sang istri. Apa lagi saat dia merasakan pelukan Cia semakin erat, satu tangan Alkan menggenggam kedua tangan Cia yang melingkar di perutnya.


Tangan mulus dan lentik itu terasa dingin, Alkan mengusapnya perlahan untuk memberikan rasa hangat di sana. Matahari pagi perlahan naik, terlihat begitu indah di kedua mata Alkan, baru kali ini dia melihat sang surya muncul dari balik bukit.


"Ada tukang serabi, kamu mau gak?" tanya Alkan.


Cia yang sedari tadi memejamkan kedua mata, begitu malas untuk melihat area sekitar. Wanita itu lebih menikmati kehangatan tubuh suaminya, dari pada sarapan pagi.


"Mas Al mau?" Cia malah balik bertanya.


Senyum tipisnya mengembang saat melihat Alkan mengangguk, Cia pun ikut mengiyakan kemauan suaminya.

__ADS_1


"Cici juga mau, tapi yang asin ya." pinta Cia.


Alkan semakin mengurangi kecepatan motornya, saat kedai serabi sudah tidak jauh lagi dari jangkauan mereka. Sepertinya kedai ini begitu populer, masih pagi saja para pembelinya sudah antri.


"Kamu duduk disini, Mas mau pesan dulu." titah Alkan.


Si Bapak Penghulu berlesung pipi itu mendudukkan Cia di sebuah bale bale bambu, sedangkan Alkan sendiri masuk kedalam kedai.


Cia menghirup napas dalam, kala merasakan udara pagi ini begitu segar. Kedua matanya terus saja menatap kedalam kedai, bahkan Cia sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Alkan dengan jelas.


Bibir tipisnya tertarik, kala melihat Alkan tengah berbicara dengan pedagang serabinya. Namun senyumannya luntur saat melihat para pembeli lain menatap Alkan penuh puja, terutama para wanita.


Cia menghela napas kasar, mau di mana pun Alkan berada pasti ada saja mata mata gatal yang minta Cia colok.


"Mas sudah pesan, kita tunggu saja." Cia segera membuka kedua mata, kala mendengar suara Alkan sudah di dekatnya.


Senyuman lebar Cia kembali terbit, bahkan tanpa malu Cia segera merangkul lengan Alkan erat. Seolah tengah menegaskan kalau pria berlesung pipi ini sudah memiliki pawang, memiliki hak paten, dan sudah di stempel negara.


"Ini teh hangatnya Mas," seorang ibu ibu membawakan satu gelas besar teh manis hangat untuk Alkan dan Cia.


"Terimakasih Bu," sahut Alkan santun.


Setelah ibu ibu itu pergi, Alkan meraih gelas itu lalu menumpahkan teh keatas piring kecil yang menjadi tatakannya. Dengan perlahan Alkan meniup air tehnya agar tidak terlalu panas, Cia yang melihat itu hanya menatap.

__ADS_1


Kenapa Alkan tidak meniupnya langsung dari gelasnya? kenapa harus di tumpahkan terlebih dahulu ke piring kecil.


"Kok di tumpahin di piring Mas? kenapa gak tiup aja langsung dari gelasnya." tanya Cia heran.


Sementara Alkan, pria berlesung pipi itu hanya tersenyum tipis lalu memberikan air teh itu pada Cia.


"Ayo minum," Alkan memberikan piring kecil itu pada Cia.


Tentu saja Cia menerimanya dengan senang hati, dengan perlahan dia menyeruput tehnya.


"Meniup air panas dari gelasnya langsung itu tidak boleh, jadi harus di tumpahkan terlebih dahulu pada piring kecil seperti ini. Kamu pasti sudah sering lihatkan orang menyuguhkan cangkir kopi atau teh, langsung dengan piring kecil sebagai tatakannya?" tutur pelan Alkan, dan hanya di angguki pelan oleh sang istri.


"Nah itulah fungsi utama piring kecil itu, sekarang kamu paham?" lanjutnya lagi, sembari kembali menuangkan air teh di piring kecil yang Cia pegang.



**OTHOR PAHAM MAS, PAHAM BENER DAH. NYOK MAU LANJUT DIMANAπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ , KABOORR PARA READERS DAN MELOTOT


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**


__ADS_2