
"Abang gak mau mampir dulu?" tanya Cia.
Kini mereka berempat sudah sampai di kediaman Alkan, Galaska terlihat menatap kearah rumah sederhana adik iparnya.
"Lain kali ya, Abang mau ke bengkel. Banyak mobil yang harus Abang benerin, pemiliknya minta cepat. Emang gak ada otak tuh orang, di kira bongkar mesin mobil segampang bongkar perawan." ucap Galaska tanpa filter.
Bahkan Alkan yang tengah menurunkan koper, hampir tersedak salivanya sendiri kala mendengar ucapan terakhir Galaska.
"Memangnya Abang pernah bongkar perawan siapa?" tanya Cia sewot.
Walaupun Cia yakin kalau sang Abang tidak mungkin sebajingan itu, namun dia tetap saja kesal kala mendengar ucapan Galaska.
"Kagak ada! ya elah serius amat. Masih suci nih, belum bernoda apa lagi berdosa. Udah lah keburu siang nih, ngajak ngomong mulu." oceh Gala.
Kedua mata Cia memicing tajam pada Abangnya, wanita itu terlihat memberikan tatapan peringatan level 1.
"Awas ya kalau Abang macam macam sama anak perawan orang, sebelum Abang nikah. Cia bakalan seret Abang, terus Mas Al bakalan nikahkan Abang saat itu juga!" ancam Cia.
"Iya bawel, dasar unyil." ledek Galaska pada sang adik.
Bahkan Galaska segera tancap gas, kala melihat Cia sudah melotot dan mengeluarkan taringnya.
"Sudah jangan teriak, nanti tetangga kita terkejut." ucap Alkan cepat, kala melihat sang istri akan membuka mulutnya.
Wanita berambut sepunggung itu mengerucutkan bibirnya, dengan cepat dia meraih lengan Bunda Marwah, dan segera membawa ibu mertuanya masuk ke area rumah.
Bunda Marwah bahkan terlihat melirik pada Alkan, tapi sang putra hanya memberikan senyuman tipis padanya. Alkan mengikuti langkah kedua wanita, yang sangat berarti didalam hidupnya.
π
π
π
Karena izin cuti Alkan di perpanjang satu hari lagi, jadi seharian ini si Bapak Penghulu akan ada di rumah selama 24 jam.
Dan kini Alkan tengah membantu Cia membereskan semua barang, yang Cia bawa ke rumah sederhana ini. Alkan terlihat menata beberapa perlengkapan mandi si Cimutnya, suasana kamar mandi yang tadinya sepi, kini sudah ramai dengan penghuni baru.
__ADS_1
Yang tadinya hanya ada pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, shampo serta alat cukur, kini penuh dengan scrub mandi, body wash, lulur bahkan masih banyak lagi.
Alkan sampai bingung harus meletakan semua barang Cia dimana, rak di dalam kamar mandinya sudah penuh dengan semua alat tempur sang istri.
Pantas saja kulit istrinya itu putih mulus tanpa noda, ternyata semua ini yang sudah merawatnya. Bahkan Alkan sampai tidak berkedip kala melihat tubuh Cia, tubuh yang sudah menjadi hak miliknya, akan selalu Alkan rawat serta jaga, selamanya.
"Mas?"
panggilan kencang Cia membuat Alkan segera tersadar kembali, pria berlesung pipi itu mengusap kasar wajahnya. Setelah memastikan semuanya beres, Alkan segera keluar dari kamar mandi.
"Iya, ada apa?" sahut Alkan lembut.
Si Bapak Penghulu berjalan mendekat pada Cia, yang tengah membongkar koper. Wanita itu masih duduk anteng, di depan lemari pakaian suaminya.
"Mas, ini di tarok dimana?" tanya Cia.
Wanita itu mengangkat sebuah gaun malam sexy, di hadapan Alkan. Bahkan tanpa malu, Cia membongkar seluruh jeroan pribadi miliknya, di hadapan Alkan. Cia terlihat santai dan biasa saja, dia tidak malu pada Alkan. Untuk apa pula Cia malu, bukannya Alkan sudah melihat isinya semalam.
Sementara Alkan, pria berlesung pipi itu terlihat memalingkan wajahnya kearah lain, kala melihat Cia memegang br*a serta underwear tepat di depan matanya.
"Mas?" panggil Cia lagi.
"Mas Al, kenapa sih?" tanya Cia.
Wanita itu bangkit, dan segera mendekat pada Alkan yang masih terlihat salah tingkah. Napas Alkan semakin tercekat, kala melihat Cia tersenyum genit padanya.
"M-Mas mau ke dap...," ucapan Alkan terhenti kala Cia melompat, menabrakkan tubuh padanya.
Alhasil, kini Cia sudah berada di dalam pelukannya. Cia bahkan sudah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Alkan, kedua tangan nakal Cia sudah merambat kearah pundak dan wajah suaminya.
Cup
Satu kecupan Cia berikan pada bibir Alkan, dia harus sedikit agresif serta aktif, karena Alkan masih terkesan pasif.
"Kenapa malu gitu sih? kan tadi malam Mas Al, udah lihat isinya. Masa cuma lihat cassingnya doang udah tremor. Apa- Mas Al mau lihat isinya lagi?" ucap jahil Cia.
Wanita bermata abu abu bening itu terlihat menikmati wajah gugup suaminya, terlihat begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Cici juga pingin lihat si singkong Thailand lagi, rasanya kenyal kenyal ngangenin." lanjut Cia lagi semakin tidak terkendali.
"Ci-Cimut, M-Mas mau ke dap...," ucapan Alkan terhenti kala Cia mencium bibirnya gemas.
Bahkan sang istri sudah mengalungkan erat kedua tangan di leher kokohnya. Alkan yang belum siap pun, hanya menikmati ciuman lembut Cia. Bahkan secara sadar, Alkan membalasnya, walau terlihat amatiran. Cia tersenyum di sela sela ciumannya, wanita cantik itu semakin menekan leher belakang Alkan.
Keduanya semakin terbuai, semakin panas, semakin terbakar, bahkan kecupan Cia sudah beralih pada leher Alkan, mengigit kecil di jakun jantan suaminya. Yang selalu membuat Cia panas dingin kala melihatnya.
Hingga...
Tok
Tok
Tok
"Cici?! bantu Bunda ngambil ubi!" seruan sang Bunda, membuat Alkan dan Cia melepaskan tautan bibir keduanya.
Cia terkekeh pelan kala melihat wajah tidak ikhlas suaminya, kedua tangannya menangkub wajah Alkan, lalu memberikan beberapa kecupan ringan di bibir bengkak sang suami.
"Turunin, Bunda manggil Cici." titah Cia.
Dengan tidak ikhlas Alkan menurunkan tubuh sang istri, kedua matanya menatap lembut pada wanitanya.
"Cici bantuin Bunda dulu nyabut ubi, tadi Bunda bilang mau bikin combro sama, apa ya? Cici lupa, oh iya kalau Mas Al gak sanggup lihat jeroan punya Cici, jangan di deketin apa lagi di beresin." ucap Cia tergesa.
Cia meninggalkan Alkan yang masih mematung di tempat, yang tengah menatap tak berkedip pada benda pribadi milik Grecia.
**SENYUMIN AJA LAH SI SINGKONG THAILAND
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
MAAF YA KARENA GAK BISA BALES KOMENAN KALIAN SATU PERSATUππ
BERHUBUNG HARI INI OTHOR SIBUK, JADI 4 PART AJA YA
__ADS_1
DOAIN BISA UP NANTI SIANG, KALAU GAK YA MAKLUMI SAJA
OKE SEE YOU BABAAYYYY MUUUAAACCHH**