Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Persiapan


__ADS_3

Kediaman Cia terlihat ramai, ramai oleh keluarganya. Setelah Cia mengabari kalau Alkan akan datang bersama Bundanya, Lovyna segera mengabari Mami serta Papanya, tidak lupa dengan keluarga yang lain, termasuk Berliana dan Yasmine.


Lihat saja, saat ini Berliana tengah sibuk memakan beberapa buah pisang dengan lahap. Sedangkan Yasmine lebih memilih untuk mengganggu Tiur sang Mami, yang tengah membuat lemper isi daging.


Berliana, si ibu menyusui itu terlihat tenang, dia tengah menikmati buah kesayangannya. Berliana membiarkan Prince Aryan di ambil alih oleh Agatha, bahkan Lora pun sudah menjadi mainan bagi Gavyn dan Davyn saat ini.


Sedangkan para pria tengah sibuk menata sedemikian rupa, ruangan yang akan di jadikan tempat acara. Kecuali Galaska tentunya, si pria bermulut merecon itu tengah berada di rumah sakit saat ini, untuk menemani Crystal atas perintah si Nyonya Nagara.


"Kamu beneran mau di lamar, Ci?" tanya Mace Reina masih tidak percaya.


Nenek cantik lima cucu itu terlihat mengerutkan dahi, Mace Reina tidak percaya kalau cucu cantiknya ini akan di lamar orang.


"Kenapa Mace ngomong kayak gitu sih, kedengarannya gak percaya banget. Cici merasa gak laku tau, kalau Mace tanyanya kayak gitu " protes Cia.


Gadis bermata abu abu bening itu mengerucutkan bibir sedih, membuat Mace Reina terbahak dan segera memeluknya sayang.


"Aduh jadi bener? wah Mace makin tua dong ya, udah punya cucu lima, ditambah lagi cicit dari kamu sama Gala nanti. Kasihan banget Pace kamu Ci, mukanya awet muda tapi udah jadi buyut." ucap Mace Reina penuh ejekan.

__ADS_1


Mengejek pada dirinya sendiri dan sang suami, bukan mengejek orang lain.


Cia tergelak, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Mace Reina. Si gadis cantik berambut panjang itu, menyunggingkan senyuman tipis.


"Tapi dia cuma orang biasa Mace," ujar pelan Cia.


Gadis yang tengah memejamkan kedua mata itu, menipiskan senyuman. Walaupun Cia yakin, kalau itu bukan masalah bagi keluarganya, namun dia ingin seluruh keluarganya tahu, kalau pria yang akan menikahinya bukan pria kaya atau pun konglomerat.


Alkan hanya pria sederhana, lembut, baik, dan pastinya dia pria yang bertanggung jawab. Alkan tidak bergelimang harta, namun yang ada didalam dirinya lah, yang menjadi harta berharga untuk Cia.


"Memangnya kenapa kalau calon cucu mantu Mace orang biasa, yang penting kan dia baik, bertanggung jawab, sayang sama cucu Mace dan keluarganya. Bagi kami itu sudah cukup sayang, jangan pikirkan soal harta dan tahta, Tuhan pasti sudah mengaturnya nanti." ucap bijak Mace Reina, membuat Cia mengangguk pelan.


"Kak Ci, kata Oma Anin nanti malam Kak Cici pakai baju abaya aja kalau gak gamis, yang udah dibawain sama Mama Tata." ucap Yasmine.


Gadis remaja itu mengulurkan sebuah paper bag besar pada Cia, setelah Cia meraihnya Yasmine pun kembali berlalu, Dia harus memasang beberapa bunga mawar putih di vas.


"Udah cobain sana, Mace yakin nanti malam cucu cantik Mace ini, bakalan makin cantik. Ya mungkin aja si calon langsung ngajak ijab kobul nanti." goda Mace Reina.

__ADS_1


Cia tersenyum malu pada sang Oma, kedua tangannya mendekap erat paper bag. Senyuman lebarnya terus saja mengembang, Cia tidak sabar menantikan nanti malam.


Bahkan dengan tidak sabar Cia mengintip isi paper bag, kedua sudut bibirnya mengembang kala melihat kain putih bersih, yang akan dipakai olehnya nanti malam.


"Mas Al lagi ngapain ya?" monolognya.


Cia terus saja menaiki anak tangga dengan hati berbunga, walaupun seharian ini tidak ada kabar dari Alkam, namun Cia tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


Sedangkan di tempat lain, Alkan tengah bergulat dengan tepung dan bahan kue lainnnya. Di bantu oleh sang Bunda, Bu RT dan Umi Salwa istri Ustadz Mustofa, guru ngaji Alkan waktu kecil.


"Hachim!" si Bapak Penghulu ganteng itu, terus saja bersih di bawah meja sembari terduduk.


"Kayaknya ada yang kangen tuh," ujar Bu RT jahil.



CIE SALTING

__ADS_1



DUH APA MAS AL KUAT LIHATNYA


__ADS_2