Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Penyekat


__ADS_3

Galaska menaikan sebelah alis, kala mendengar suara si gadis asing yang semalam menabrak mobilnya. Pria berambut ikal itu berbalik, Galaska semakin mengikis jarak dengan si gadis, yang bernama Crystal.


"Jadi, kau sudah ingat nama mu? baguslah, mungkin sebentar lagi kau juga akan mengingat dimana habitat mu." ucapan tak berfilter Gala, membuat Crystal mendongak.


Kedua netra abu abu Gala, bersitubruk dengan kedua netra sebening kristal. Warna kedua iris Crystal sedikit biru, namun lebih bening dari warna lautan. Terlihat benar benar seperti kristal mahal, dan juga langka.


"A-aku, aku akan berusaha mengingatnya, terimakasih sudah menolongku malam itu." ucap pelan Crystal setelah dia mengakhiri tautan mata keduanya.


"Itu harus, karena semakin lama kau disini, akan semakin merepotkan!" sarkas Galaska.


Setelah berbicara seperti itu, Gala kembali berbalik meninggalkan Crystal, yang kembali menatap kosong ke arah kolam renang.


"Aku juga ingin pulang, tapi kemana? kenapa aku hanya ingat nama Crystal? apa benar namaku Crystal?" monolognya.


Entah apa yang sudah terjadi pada gadis itu, sebelum dia menabrakkan dirinya ke arah mobil Gala. Dia berusaha mengingat, namun tetap saja otaknya kosong. Tidak ada satu pun ingatan didalam otaknya, semuanya kosong, gelap tidak ada kenangan apa pun di sana.


Dokter bilang Crystal mengalami shock berat, namun kenapa Crystal sampai tidak mengingatnya sedikit pun, apa yang sudah terjadi padanya malam itu.

__ADS_1


๐Ÿ•Š


๐Ÿ•Š


๐Ÿ•Š


"B-Bu?" panggil Cia.


Saat ini Cia tengah berada di dapur, kedua tangannya tengah sibuk membersihkan tangkai cabai, sedangkan Bunda Marwah terlihat tengah menggoreng ikan.


"Apa?" sahut Bunda Marwah seadanya.


Gerakan tangan Bunda Marwah terhenti, wanita paruh baya itu terlihat meletakan serokan, serta spatula yang sedang dia pegang. Lalu berbalik, berjalan menuju pintu masuk antara ruang keluarga dan ruang tamu, melewati Cia begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Cia mengernyitkan dahi kala melihat si Calon Ibu Mertua melewatinya begitu saja. Apa calon Ibu Mertuanya itu marah? atau tersinggung dengan ucapannya.


Entahlah, Cia belum mengetahui sifat asli calon ibu mertuanya, jujur Cia takut kalau Bunda Marwah bertambah tidak suka padanya.

__ADS_1


Cia menghela napas kasar, kedua tangannya terus saja sibuk memetik tangkai cabai, yang Bunda Marwah beli di pasar tadi pagi.


Salah satu sudut matanya, melirik pada jam dinding yang ada di dapur. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Alkan pun masih belum pulang dari kantor KUA, karena setelah pulang makan siang tadi, Alkan kembali ke sana.


"Kalau mau pulang, tunggu Alkan dulu. Saya gak bisa ngantar kamu soalnya, jangan naik taksi apa lagi angkot. Biar Alkan yang ngantar kamu pulang nanti," ujar Bunda Marwah tiba tiba, membuat Cia sedikit tersentak.


Pasalnya tadi Bunda Marwah keluar dari area dapur bukan? lalu sejak kapan wanita yang tengah menyandang calon Ibu MertuaNya ini, sudah berada di dapur? batin Cia.


"Ti-tidak usah Bu, Cici bisa pulang sendiri, masih siang kok. Lagian Mas Al gak mungkin mau berdekatan sama Cici nanti, kan Mas Al ngantarnya pakai motor. Sudah pasti Cici sama Mas Al, bakalan bersentuhan walaupun gak secara langsung. Tapi Mas Al pasti bakalan gak mau bersen...," ocehan Cia terpotong.


"Nanti biar di sekat sama boneka! biar gak bisa nempel, udah tunggu saja Alkan, jangan membantah!" ucap Bunda Marwah memotong ucapan si gadisย  yang katanya calon menantunya, dan terdengar tidak mau dibantah.



**YUHUUUUUU HOLLAAA SELAMAT PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**


__ADS_2