Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Suami Siaga


__ADS_3

Suasana ruang rawat Cia begitu ramai, ramai oleh suara Galaska yang terus saja menggoda Arshaka Aryathama Syarief, atau akan lebih di kenal dengan panggilan Syaka. Putra pertama Alkan dan Cia.


Sedangkan Nagara, si Granpa dingin serta irit bicara itu lebih anteng saat dia menggendong Alzaska Alithama Syarief, atau akan lebih di kenal dengan panggilan Aska, putra kedua dari Alkan dan Cia.


Sementara Bunda Marwah dan Mami Lovyna tengah melihat cucu perempuan mereka, Bunda Marwah dan Mami Lovyna menangis tersedu kala melihat bayi perempuan Alkan dan Cia di bawa oleh perawat, ke ruang rawat bayi.


Bayi perempuan yang di beri nama Aisya Kanzhania Syarief, atau akan lebih akrab di panggil AIS, putri kita dan menjadi tuan putri keluarga kecil Alkan dan Cia.


Cia dan Alkan menatap penuh bahagia melihat interaksi keluarganya, walaupun baby Ais belum bisa berkumpul dengan mereka, setidaknya kedua putranya bisa menjadi pelipur untuk sementara waktu.


"Mas?" panggil Cia.


Alkan yang tengah menyiapkan asi untuk baby Ais mendongak, tanpa risih atau pun canggung Alkan membantu Cia memompa asinya. Walaupun ke tiga buah cinta mereka harus di bantu susu formula, Cia tetap memberikan asi pada ke tiga bayinya. Cia akan memberikan asi terlebih dahulu, lalu memberikan susu formula saat Tripel A belum kenyang menyusu padanya.


Bayangkan saja, Cia harus memberikan asi pada ketiga buah cintanya dengan Alkan. Sudah pasti Tripel A tidak akan merasa kenyang, maka dari itu mau tidak mau Cia dan Alkan harus memberikan susu tambahan. Walaupun sebenarnya Cia ingin sekali memberikan asi eksklusif, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan jadi dia tidak bisa memberikannya.


Itu juga yang terjadi pada Elira dan Raga, mereka berdua juga mengalami hal yang sama saat menangani, Segara, Regina dan Regatta.


"Apa Sayang," sahut Alkan lembut.

__ADS_1


Kedua mata Alkan masih fokus pada sumber asi Tripel A, karena Alkan sendiri yang memompa cairan putih itu agar keluar dari tubuh Cia.


"Cici mau ketemu sama Ais," ujar Cia penuh harap.


Kedua mata abu abunya menatap sendu pada sang suami, Alkan yang sedari tadi teramat fokus ke lokasi pengeboran asi, sedikit mengangkat wajahnya. Seolah belum rela mengalihkan pandangannya dari lokasi sakral itu.


"Besok ya, sekarang kamu istirahat. Biar besok pagi bisa lebih kuat, kamu tenang saja Ais di jaga sama Bunda dan Mami. Tidur ya,nanti asi Shaka Aska, sama Ais biar Mas pompain." tutur Alkan penuh bujukan, sembari merapihkan pakaian Cia.


Pria berlesung pipi itu menyelimuti tubuh Cia hingga dada, satu tangan Alkan mengusap lembut pucuk kepala Cia dan memberikan satu kecupan dalam disana.


Alkan bangkit, dia berjalan menuju lemari pendingin untuk menyimpan botol-botol asi untuk ketiga buah cintanya.


Sang Grandpa membawa tubuh kecil itu menuju ranjang kecil yang ada di dekat tempat tidur Cia, kedua sudut bibir Nagara terus saja tertarik ke atas. Rasa bahagia tengah menguasai hatinya, walaupun ada rasa sedih di dalamnya karena belum bisa melihat cucu cantiknya secara langsung.


"Aska juga sudah tidur, cepat sekali bocah ini tidurnya. Padahal tadi masih merengek," ucap gemas Galaska.


Pria bertato di tangan itu tidak henti-hentinya mengecupi pipi keponakannya. Membuat Crystal segera meraih Aska dari gendongan suaminya.


"Jangan di ganggu terus Abang, Aska lagi tidur. Kasihan Cici dia pasti capek, mau aku tidurin dulu." Crystal membawa baby Aska menuju ranjang kecil yang di tempati oleh Kakak kembarnya.

__ADS_1


Crystal menatap berbinar pada kedua bayi laki laki itu, satu tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi merah baby Shaka.


Kedua mata biru beningnya perlahan berembun, dia juga ingin segera memiliki keturunan. Tapi ternyata Tuhan belum mempercayakan semua itu pada dia dan Gslaska. Crystal tidak putus asa atau menyerah, dia yakin kalau sudah waktunya pasti bayi kecil akan hadir di dalam rahimnya.


Galaska pun tidak terlalu heboh meminta keturunan cepat, pria bertato itu bilang ' kalau Tuhan belum memberikan, kita bisa apa. Berarti Tuhan masih ingin kita berdua, tidak ada yang mengganggu.'


Crystal hanya tersenyum tipis kala mendengarnya, dia bersyukur karena kedua orang tua Galaska juga tidak mendesak mereka berdua.


"Udah, jangan di pegangin terus. Nanti kita bikin di rumah, Abang kasih sebanyak mungkin." bisik seduktif Galaska di telinga Crystal.



...**ADUH MAMAE KUMISNYA😍😍😍...


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**

__ADS_1


__ADS_2