Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Kepegang Sedikit


__ADS_3

Cia tersenyum manis pada Alkan, saat ini sepasang suami istri itu tengah bersiap untuk menghadiri sebuah acara pernikahan. Sesuai yang di ucapkan Alkan kemarin, hari ini dia akan menikahkan sepasang pengantin di sebuah kampung kecil.


Cia pun tidak membuang kesempatan untuk ikut, apa lagi saat sang suami mengajaknya, kesempatan tidak akan datang dua kali.


Bahkan Cia memilih risegn dari DIAMOND QUEEN beberapa hari yang lalu, demi menjadi istri yang baik. Cia ingin memberikan semua waktunya untuk Alkan dan merawat Bunda Marwah. Hidup sederhana seperti ini saja sudah cukup baginya, uang honor yang Alkan berikan akan Cia pergunakan sebaik mungkin, walaupun jumlahnya berkali kali lebih kecil dari honornya saat bekerja di DIAMOND QUEEN. Tapi itu tidak masalah, selama dia sehat, Alkan sehat, Ibu Mertuanya sehat, seluruh keluarganya baik baik saja, Cia sudah bersyukur. Bahkan setelah Cia tahu Alkan memiliki bisnis lain, wanita itu tidak mau tahu. Yang Cia tahu, pokoknya suami tampannya ini adalah seorang Bapak Penghulu, tidak lebih.


"Kamu cantik banget pakai kebaya ini," ujar Alkan tiba tiba.


Bahkan Cia yang tengah memasangkan kancing kemeja putih yang Alkan pakai, segera mengangkat wajahnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat, bahkan Cia terlihat menatap heran pada sang suami. Kenapa makin hari suami soleh dan lembutnya tiada tara ini, semakin pandai menggombalinya.


"Tapi kenapa bawahannya celana jeans? roknya kemana?" tanya Alkan lagi.


Kedua netra dark coklatnya menatap penampilan Cia dari atas hingga bawah. Sang istri begitu cantik memakai kebaya sederhana namun elegan berwarna peach, namun bawahan yang Cia pakai saat ini bukan rok kebaya, melainkan celana jeans.


"Kita kan mau pakai motor ke sananya, nanti kalau Cici pakai roknya dari rumah, duduknya gak bisa ngangkang, Kang Mas." ucap spontan Cia.


Wanita itu terus saja berbicara, namun kedua matanya masih fokus memasangkan gesper suaminya. Bahkan tanpa ragu Cia memasukan kemeja yang Alkan, kedalam celana bahan yang di pakai sang suami.


"Jangan dalam dalam ngerogohnya," protes Alkan, saat merasakan salah satu tangan Cia sudah salah jalan.

__ADS_1


"Kepegang dikit doang, tadi malam aja megangnya banyak gak apa apa." sahut Cia tidak terima.


Bahkan dengan sengaja Cia menyenggol si singkong Thailand, membuat si pemilik kebun lesu darah, lunglai berkepanjangan.


"Ayo berangkat!" ajak Cia cepat.


πŸ•Š


πŸ•Š


πŸ•Š


Ada bukit, lembah, sawah, perkebunan sayur, bahkan para petani dan pekebun yang tengah bekerja tidak luput dari pandangannya.


Karena waktu masih cukup pagi, udara pedesaan membuat paru paru Cia terasa segar. Wanita berkebaya peach itu menghirup dalam setiap udara yang masuk kedalam hidungnya.


"Masih jauh ya, Mas?" tanya Cia.


Cia meletakan dagunya di bahu Alkan, walaupun wajah suaminya terhalangi helm, tapi Cia tahu kalau saat ini Alkan tengah tersenyum padanya.

__ADS_1


"Sebentar lagi," seru Alkan sedikit keras.


Suara mereka terbawa angin, jadi pendengaran Cia dan Alkan sedikit terganggu. Salah satu tangan Alkan membelai lembut punggung tangan Cia, yang melingkar di perutnya.


Ini adalah pengalaman pertama Alkan selama dia menjadi Penghulu, membawa seorang wanita saat dia bertugas di lapangan, dan wanita itu adalah istrinya sendiri.


Setelah naik turun gunung, akhirnya Alkan dan Cia menghela napas lega saat melihat janur kuning melengkung, di sebuah tenda besar berwarna biru.


Tenda berwarna biru yang akan menjadi saksi bersatunya dua insan saling mencintai, bersatu dalam ikrar di hadapan Tuhan dan manusia. Menjadi pasangan Samawa Till Janah, dunia dan akhirat.


"Mas, Cici ganti rok dulu." ucap Cia.


Kedua mata abu abunya melirik ke sana kemari, guna mencari tempat untuk dia tumpangi.


"Ya sudah, ayo kita cari rumah warga yang ada pemiliknya." ajak Alkan.


Pria berlesung pipi itu segera menggandeng tangan Cia, dan membawanya kesalah satu rumah warga.


__ADS_1


SAYANG GAK ADA FOTO CICI PAKAI KEBAYA, MALES NGEDITNYA, NANTI AJA PAS RESEPSIπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜œπŸ˜œ


__ADS_2