
Keinginan sederhana Cia tidak main main, saat ini dia dan Alkan sudah berada di dalam kamar mandi. Sepasang pengantin baru itu tengah bermain busa dan air, lebih tepatnya Cia.
Karena Alkan lebih fokus memijat lembut kepala Cia dengan perlahan, wangi sampo membuat Alkan semakin di buat gila. Istrinya memang begitu ahli dalam merayunya, padahal tadi Alkan sudah berusaha menghindar, namun karena Cia terus saja merengek jadi Alkan tidak tega.
"Punggungnya juga?" tanya Alkan.
Si Bapak Penghulu sudah hapal apa yang di inginkan oleh si Cimut, perlahan kedua tangannya turun kearah pundak lalu berakhir di punggung putih mulus sang istri.
"Mas?" panggil Cia pelan.
Kedua tangannya masih bermain busa yang ada di spon mandi, Cia yang tengah duduk di kursi kecil, menoleh pada Alkan yang belum menyahuti panggilannya.
"Apa?" sahut Alkan pelan.
Kedua tangannya masih sibuk memberikan pijatan lembut di punggung Cia, bahkan si Bapak Penghulu berulang kali menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Cia tidak menjawab, wanita yang tidak memakai sehelai benang pun itu membalikan tubuhnya. Kini Cia dan Alkan sudah saling berhadapan, Alkan berada tepat di depan perut rata Cia, karena saat ini dia tengah berjongkok di lantai.
Salah satu tangan Cia terulur untuk mengusap wajah Alkan, yang terkena busa. Senyuman Cia mengembang, kala melihat Alkan tidak berkedip. Bahkan tangan besar yang sedari tadi memanjakannya itu, melayang di udara.
__ADS_1
"I love you," bisik pelan Cia, tepat di depan bibir sang suami.
Bahkan Cia harus menundukkan wajah, agar bisa mendekat. Hingga tubuh full nakednya ikut mendekat pada Alkan, senyuman Cia terus saja mengembang walaupun Alkan belum membalas pernyataan cintanya.
"I love you, Mas Al," bisik Cia lagi.
Bahkan saat ini kedua netra abu abu itu, sudah berembun. Entah kenapa, rasanya seluruh hidup Cia hanya tertuju dan bertumpu, pada pria berlesung pipi ini.
Walaupun ada rasa kecewa saat Alkan tidak kunjung membalas ucapannya, tapi bagi Cia tidak apa apa. Rasa cinta yang dia miliki sudah cukup banyak, bahkan meluber untuk mereka berdua.
"Cici mau bilas sa-," ucapan Cia terhenti, saat tubuhnya terhuyung kebelakang.
"Mas juga mencintai kamu, Humaira." gumam pelan Alkan.
Dengan sekali angkat, Alkan berhasil membawa tubuh Cia kedalam gendongannya. Tanpa ingin melepaskan dekapan tubuh mereka, bahkan dengan nakal Cia membuka pakaian atas Alkan saat dia sudah duduk di atas wastafel, seakan tidak ingin membuang moment ini.
Kedua tangan Alkan bertumpu di kedua sisi wastafel, tatapan lembutnya terus saja tertuju pada Cia, sepertinya Alkan sudah semakin terbiasa dengan keadaan Cia, yang selalu full naked kala bersamanya, saat mereka berada didalam kamar.
Salah satu tangan Alkan terulur untuk meraba perut rata Cia, namun kedua matanya terus saja menatap wajah cantik sang istri.
__ADS_1
"Mereka belum tumbuh?" tanya Alkan tiba tiba.
Tangan besar miliknya terus saja membelai lembut perut polos Cia, bahkan dengan perlahan Alkan menempelkan dahi mereka berdua. Salah satu tangannya terulur untuk meraih kedua tangan Cia, untuk Alkan letakan di pundaknya. Bahkan dengan sekali tarik, Alkan berhasil membawa tubuh Cia semakin merapat padanya.
"Baru enam hari, mereka masih lomba lari kayaknya." gumam pelan Cia.
Dalam keadaan seperti ini saja, Cia masih bisa menjawab. Padahal di dalam hatinya saat ini sedang dilanda konser rock.
Alkan tidak bersuara lagi, namun senyuman di kedua sudut bibirnya, sudah membuktikan kalau pria berlesung pipi ini bahagia. Tanpa Cia ketahui, satu tangan Alkan sudah terulur untuk meraih shower yang tidak jauh dari jangkauannya.
Byur
"Mas Al!" pekik Cia, saat air dingin menyentuh permukaan kulitnya.
"Ayo mandi sayang, nanti kamu masuk angin." Alkan tertawa kecil kala Cia semakin memeluknya, saat air dingin terus saja mengguyur tubuh mereka berdua.
SI NYONYA SENYUM MULU
__ADS_1