
Cia menatap sendu pada dinding kaca transparan di hadapannya, di dalam sana ada baby Ais. Bayi perempuannya yang belum sempat dia lihat atau pun Cia sentuh secara langsung.
"Baby Ais ada lesung pipinya ya Mas, kayak kamu." ucap Cia sedikit antusias.
Saat melihat lesung pipi putri kecilnya, lesung pipi warisan Alkan- Ayahnya. Walaupun belum terlihat sempurna, namun Cia dapat melihatnya saat Baby Ais mengecap mulutnya sendiri. Apa mungkin putrinya lapar? rasa khawatir menyelimuti hati Cia saat ini.
"Mas?" panggil Cia lagi.
"Ya," sahut Alkan.
"Baby Ais udah minum susu?"
Alkan tersenyum tipis, pria berlesung pipi itu mengangguk. Pagi ini Baby Ais memang sudah meminum asi Cia- Bundanya. Namun Baby Ais masih meminumnya sedikit, sesuai dengan anjuran perawat, hanya beberapa mili liter dan perlahan akan naik saat Baby Ais pulih nanti.
"Kamu mau masuk?" tanya Alkan.
Pria berlesung pipi itu tidak tega saat melihat Cia menatap penuh harap pada Putri mereka, Alkan yakin kalau Cia ingin sekali masuk kedalam.
__ADS_1
"Apa boleh?"
"Boleh, nanti Mas yang minta izin, ayo!" Alkan mendorong kursi roda Cia.
Keduanya mendekat ke arah pintu masuk, kedua mata Cia sudah berembun. Dia tidak sabar untuk menyentuh putri kecilnya secara langsung. Untung saja perawat yang tengah berjaga mengizinkan Cia dan Alkan masuk, walau hanya sebentar.
"Hallo princess Bunda," sapa Cia penuh haru.
Setelah dia mensterilkan kedua tangannya, Cia segera meraih salah tangan mungil nan merah dari lubang yang ada di sisi inkubator. Air mata Cia tidak dapat terbendung lagi kala melihat kondisi putri kecilnya, hidung serta mulutnya terpasang selang yang entah selang apa Cia juga tidak tahu.
"Cepat sehat ya sayang, biar kamu bisa cepat ketemu sama Abang Shaka sama Kakak Aska. Terus bisa main sama Kak Regina Regatta, Prince Aryan sama Lora juga. Mereka sudah nunggu kamu, cepat sehat princess Bunda." lirih Cia.
Salah satu jarinya tengah di genggam erat oleh Baby Ais, padahal kedua mata bayi merah yang berat lahirnya 2,4 kilogram itu masih terpejam erat.
Cukup besar, tapi masih lebih berat kedua kakaknya. Arshaka memiliki berat lahir 2,7 kilogram, sedangkan Alzaska berat lahirnya 2,8 kilogram. Bisa di bayangkan betapa berat serta besarnya perut Cia saat mengandung ketiganya.
Satu bayi saja bisa sebesar apa perut seorang calon ibu, apa lagi kembar tiga seperti Cia. Itulah namanya keajaiban Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin kalau Sang Maha Kuasa sudah berkehendak.
__ADS_1
"Maaf, jam besuk nya sudah habis." ucap sang perawat yang menjaga.
Cia menyeka air matanya dengan kasar, wanita beranak tiga itu menoleh pada sang perawat dan tersenyum ramah.
"Terimakasih sudah menjaga putri saya, Sus." ucap Cia tulus.
"Sama sama, itu memang sudah kewajiban kami Bu. Semoga Baby Aisya segera pulih, dan bisa berkumpul dengan kedua saudara kembarnya." doa tulus sang perawat.
Cia dan Alkan meng'aamiinkannya, mereka berdua juga berharap kalau Baby Ais bisa segera pulih. Cia masih sempat menyentuh wajah putrinya sebelum dia keluar dari ruang rawat bayinya.
Walaupun rasa tidak rela tengah bergelayut, namun Cia tidak bisa egois. Ini juga demi kesehatan serta kebaikan Baby Ais, tidak apa berpisah sementara karena setelah semuanya selesai, mereka semua akan berkumpul kembali.
Alkan mendorong kursi roda Cia secara perlahan, sesekali pria berlesung pipi itu mengecup dahi dan pucuk kepala Cia, saat sang istri mendongak dan tersenyum manis padanya.
BABY AIS
__ADS_1