
Cia tersenyum haru saat dia akhirnya bisa menggendong Baby Ais, hampir dua pekan Cia tidak bisa bertemu secara langsung dengan putri kecilnya. Hampir dua puluh hari lamanya Baby Ais di rawat, dan sekarang bayi cantik itu sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Dan kini Baby Ais terlihat begitu nyaman di gendongan sang Bunda. Sementara Baby Shaka dan Baby Aska tengah di ajak berjemur oleh Bunda Marwah dan Mami Lovyna.
Alkan sendiri sedang membuatkan susu untuk ketiga buah cintanya, karena ketiga bayi mungil itu terlihat belum kenyang setelah meminum asi Cia.
"Ais sudah tidur?" tanya Alkan yang baru saja datang.
Cia mengangguk pelan, kedua netra nya terus saja menatap pada Baby Ais yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Sini, biar Mas pindahkan ke tempat tidur," pinta Alkan.
Pria berlesung pipi itu segera meraih tubuh putri kecilnya dari gendongan Cia. Bahkan Alkan memberikan banyak kecupan di seluruh wajah Baby Ais, membuat bayi yang masih berusia beberapa puluh hari itu menggeliat.
"Mas, jangan di ganggu," ujar Cia mengingatkan.
Ibu muda itu menghela napas pelan, satu tangannya memegangi perut bagian bawah saat Cia hendak bangun. Bekas jahitan operasi cesar nya masih terasa sakit dan ngilu.
"Kamu sudah minum obat?" tanya Alkan.
Sang Bapak penghulu menghampiri istrinya setelah dia menidurkan Baby Ais di tempat tidur khusus untuknya. Perlahan Alkan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Cia. Pria berlesung pipi itu mengecupi pucuk kepala Cia yang tidak tertutup hijab, karena dia sedang berada di dalam kamar.
"Udah," sahut Cia.
Wanita berdaster merah itu menoleh, hingga membuat hidung kecil nan mancungnya menyentuh pipi suaminya.
"Cici sayang Mas Al," lanjut Cia.
Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar, satu tangan Cia membelai kepala Alkan lembut. Dengan sekali tarik Alkan membawa tubuh Cia kedalam dekapannya. Kini posisi mereka berdua saling berhadapan, sembari memeluk satu sama lain.
"Mas juga sayang kamu dan si kembar." gumam Alkan.
Pria berlesung pipi itu mengecup pelipis Cia dengan dalam dan lembut, kedua tangannya membingkai wajah sang istri. Perlahan Alkan mendekatkan wajahnya pada Cia, hingga dahi keduanya kini sudah bersentuhan tanpa penghalang.
__ADS_1
"I love you," ucap mereka bersamaan.
Keduanya saling melempar senyum, entah siapa yang memulai kedua bibir halal itu sudah menyatu, menyalurkan rasa yang ada di dalam dada. Bahkan kedua tangan Cia sudah meremas lembut kepala belakang Alkan- suaminya.
Mereka berdua paham dan tahu, kalau saat ini hanya kegiatan sederhana yang bisa mereka lakukan sekarang, tidak bisa lebih dari itu karena Cia masih dalam masa pemulihan.
🕊
🕊
🕊
Crystal menghela napas pelan saat melihat hasil pemeriksaan testpacknya. Hasilnya masih sama- negatif. Kedua mata Crystal terpejam, tangannya menggenggam erat benda kecil itu.
Kecewa?
Tentu saja, bahkan Crystal merasa kecewa pada dirinya sendiri karena belum mampu memberikan seorang anak untuk Galaska. Walaupun suaminya itu selalu menanggapi santai setiap pertanyaan orang, tapi Crystal yakin kalau Galaska tidak sabar lagi untuk memiliki seorang anak.
"Sampai kapan?" lirihnya.
Tapi kenapa sampai sekarang belum berhasil, apakah Tuhan belum mengizinkan mereka untuk memiliki momongan.
Tok
Tok
Tok
"Sayang?"
Crystal segera menyeka air matanya kasar, bahkan wanita itu membasuh wajah agar jejak air matanya hilang tersapu air.
"Iya Bang, sebentar aku belum selesai." sahut Crystal.
__ADS_1
Wanita itu segera meletakan testpack di dekat sabun mandi, dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Crystal mengembangkan senyum kala melihat Galaska sudah rapi, hari ini rencananya mereka akan menuju kediaman Alkan untuk menjenguk Baby Ais dan kedua kakak kembarnya.
"Kamu ngapain di dalam? lama banget." protes Galaska.
Pria bertato di lengan itu menatap datar pada istrinya, persis seperti anak laki laki yang ditinggalkan oleh ibunya ke kamar mandi.
"Pipis, mukanya kenapa kayak gitu sih. Bikin aku pingin cium tau gak," goda Crystal.
Dan itu berhasil membuat Galaska mengeluarkan semburat merah di kedua pipinya, pria berwajah judes itu segera memeluk tubuh Crystal dan memberikan banyak kecupan di pucuk kepala istrinya.
"Ya udah ayo cium! mau cium yang mana terserah kamu, Abang pasrah." ucap jahil Galaska.
Crystal terkikik geli mendengarnya, satu tangannya mendorong dahi Galaska saat pria itu ingin kembali mengecupi seluruh permukaan wajahnya.
"Udah ih, ayo nanti kesiangan!" protes Crystal.
Sang Nyonya Galaska melepaskan pelukan suaminya dengan paksa, Crystal melangkah meninggalkan Galaska yang terlihat tidak rela saat kegiatan mereka berakhir.
"Yanggg!" rengek Galaska.
Crystal tidak peduli dengan rengekan prianya, dia segera meraih paper bag dan keluar dari kamar.
**HOT PAPA BANGET DAH
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAAACCHH**