
Pagi ini kediaman keluarga Nagara terlihat ramai, dengan bertambahnya dua orang anggota keluarga baru. Ditambah lagi saat ini Mace Reina tengah melalukan panggilan video, dengan Raga dan Elira. Mace Reina ingin mengabari kalau Cia sudah menikah, dan ternyata Cia di nikahi oleh penghulu yang dulu menikahkan Raga juga Radja.
"Mami tunggu aja, nanti kalau si kembar tiga usianya udah 3 bulan, Raga sama Lira pulang." ucap Raga di seberang telepon sana.
"Mami tunggu loh, kalian juga harus bawa oleh oleh buat hadiah pernikahan Cici sama Alkan." pinta Mace Reina sedikit memaksa.
"Iya Mami sayang, ya udah Elang tutup dulu ya, love you Mam." ucap Raga, mengakhiri panggilan videonya.
Mace Reina terlihat menghela napas pelan, nenek dari 5 orang cucu itu, kembali meletakan ponsel di atas meja.
Kedua mata Mace yang tadinya menyendu, kini berubah berbinar kala melihat Cia dan Alkan turun, sembari membawa sebuah koper besar.
Untung saja, disalah satu kotak hantaran yang di bawa oleh sang Bunda tadi malam, ternyata menyimpan sepasang pakaian untuk Alkan dan jeroannya. Jadi setelah Alkan selesai mandi, pria berlesung pipi itu tidak kebingungan mencari pakaian ganti.
"Loh, jadi pagi ini kalian pulangnya?" tanya Mace Reina.
Wanita berusia setengah abad lebih itu segera menghampiri Cia dan Alkan, yang baru saja turun dari kamarnya.
"Iya, pagi ini Cici ikut pulang sama Mas Al. Kan Cici udah nikah, jadi harus ikut suami Cici kemana pun. Itu kan, yang pernah Mace sama Mami bilang ke Cici." celoteh Cia.
__ADS_1
Bahkan tanpa malu atau canggung, Cia terus saja bergelayut manja di lengan kekar suaminya. Sementara, Mace Reina hanya tersenyum tipis melihat binar bahagia sang cucu. Jadi, teringat masa lalu kembali, saat pertama kali dia menikah dengan Ilham, suaminya.
"Ya udah, ayo kita sarapan dulu. Yang lain pada nungguin tuh." ajak Mace Reina.
Nenek dari lima orang cucu itu mendahului sepasang pengantin baru, yang terlihat masih panas panasnya.
🕊
🕊
🕊
Wanita itu mendekat pada Galaska yang sedari tadi mendiaminya, bahkan Galaska yang biasanya banyak bicara, kini terdengar tak bersuara.
"Abang marah ya sama Cici? maaf, Cici gak tau kalau Pace sama Papi langsung nikahin kita berdua. Mas Al juga sama sekali gak nyangka, kalau tadi malam kita berdua nikah." ucap lirih Cia.
Wanita cantik itu terlihat menautkan jari jemarinya, Cia terlihat gugup saat Galaska masih mendiaminya.
"Maaf kan kami Mas Gala, keputusan ini pasti membuat Mas Gala marah pada kami semua. Ini di luar rencana saya, tapi ternyata Opa Ilham sama Papi Gara menyetujui keinginan Bunda saya. Saat beliau mengatakan agar saya langsung menikahi Cici malam tadi, supaya tidak ada fitnah di luar sana." ucap pelan dan tenang Alkan.
__ADS_1
Di dalam situasi seperti ini yang waras harus mengalah, agar masalah bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Tanpa harus ada adu urat leher, apa lagi kalau sampai adu otot.
Galaska yang sedari tadi terdiam, kini sedikit menoleh pada adik serta adik iparnya. Kedua mata abu abunya menatap secara bergantian, sepasang pengantin baru dadakan itu.
"Aku memang marah pada kalian semua, tapi itu gak akan berguna juga. Kalian sudah menikah, biar pun aku mengamuk itu gak bakalan bisa merubah semuanya. Sudahlah, yang terpenting sekarang, tolong jaga adikku dengan baik. Jangan sampai dia terluka, apa lagi kalau sampai kau menyakitinya. Ingat! aku akan menyeretnya jauh dari mu, kalau itu semua sampai terjadi. Seringlah main kesini, biar Abang punya teman ribut. Kalau enggak, buatin Abang keponakan yang banyak, buat teman ribut di sini." celoteh Galaska.
Pria berambut ikal itu, menatap secara bergantian Cia dan Alkan, yang tengah menatapnya tidak percaya.
"Enak aja anak aku mau di ajak ribut, makanya nikah sana, cepat! biar bisa bikin anak sendiri, terus ajak ribut tiap hari." ucap kesal Cia.
Wanita itu segera pergi meninggalkan Galaska dan Alkan, Cia bahkan tidak peduli saat Galaska terus saja memanggil namanya.
Sementara, para orang tua hanya menonton adegan ketiganya, semua orang menghela napas lega, kala melihat si petasan renteng sudah berbunyi kembali, seperti sedia kala.
Lovy dan Mace Reina, bahkan lebih memilih Galaska yang bermulut pedas, ceplas ceplos tanpa filter, dari pada Galaska yang pendiam bagai patung hidup, itu sungguh mengerikan untuk mereka.
GANTENG BA'ED DAH
__ADS_1