Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Meminang


__ADS_3

Alkan terlihat sudah siap, si Bapak Penghulu berlesung pipi itu terlihat semakin tampan, dengan balutan kemeja abu abu terang, di padu padankan dengan jas abu abu gelap, dan celana bahan panjang, senada dengan warna jas yang Alkan pakai.


Pria berlesung pipi itu tersenyum tipis, kala melihat kotak beludru hitam didalam genggamannya.


"Sudah siap?" tanya Bunda Marwah.


Wanita paruh baya bergamis abu abu itu mengintip Alkan dari balik pintu, kedua matanya berbinar kala melihat penampilan sang putra.


"Anak Bunda ganteng banget sih, kayak mau ijab aja." goda Bunda Marwah.


Alkan tersenyum kecil menanggapinya, pria berlesung pipi itu melangkah mendekat pada Sang Bunda.


"Alkan sudah siap, Bunda." ucap Alkan yakin.


Bunda Marwah tersenyum, satu tangannya terulur untuk menepuk pundak kokoh sang putra.


"Ayo! Pak RT sama Pak Ustadz sudah nunggu," ujar pelan Bunda Marwah.


Alkan mengangguk, dia segera menggandeng lengan sang Bunda. Benar saja, di ruang tamu sudah banyak orang. Ada Pak RT dan istri, Pak Ustadz Mustofa serta istri, dan beberapa tetangga yang ikut. Karena Ayah serta Bunda Marwah tidak memiliki saudara di sini, jadi para tetangga dekat yang mengantar.

__ADS_1


Setelah Pak Ustadz melantunkan doa keselamatan, mereka semua segera bergegas menuju mobil, yang sudah di sewa oleh Alkan sebelumnya.


πŸ•Š


πŸ•Š


πŸ•Š


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 30 menit, akhirnya Alkan dan rombongan sampai di kediaman keluarga Cia.


Kedua mata mereka terbelalak, kala melihat bangunan mewah tiga lantai, yang ada di hadapan mereka saat ini.


sekitar ada 10 orang, yang ikut mengantar si Bapak Penghulu saat ini. Semua orang itu menatap kagum, bahkan menatap ngeri pada bangunan bergaya eropa modern, yang menjulang di hadapan mereka.


"Ayo semuanya!" ajak Alkan.


Si Bapak Penghulu terlihat menggandeng lengan sang Bunda, di ikuti oleh Pak Ustadz Mustofa dan rombongan.


Kedua mata mereka semakin membulat, kala melihat ada beberapa pria berpakaian hitam, menundukkan kepala saat mereka melewatinya.

__ADS_1


Setelah sampai di teras, Pak RT segera mengambil tugasnya. Dia menjadi pembicara sekaligus pembicara nanti, kedatangan Alkan serta rombongan, di sambut baik dan hangat oleh keluarga Cia. Kebetulan yang menyambut di depan pintu masuk adalah Pace Ilham, Pace Damar, serta Barata dan Radja.


Sedangkan para wanitanya, hanya Mace Reina dan Agatha. Para wanita lainnya tengah sibuk didalam, selain sibuk dengan Cia, mereka juga ikut sibuk mempersiapkan segalanya.


"Assalamualaikum," sapaan salam dari Pak RT dan yang lain.


"Waalaikumsallam, selamat datang di kediaman kami, dan mari silahkan masuk." sahut sopan nan santun Pace Ilham.


Pria berkepala enam itu terlihat masih berkarisma, di usianya yang tidak muda lagi. Namun bagi Mace Reina, si mantan Alpha itu masih hotz seperti dulu.


Alkan dan rombongan segera mengikuti langkah tuan rumah, semua mata orang yang mengantar si Bapak Penghulu semakin membulat, kala melihat suasana di dalam rumah.


"Anak sultan ini mah, beruntung banget dah pak penghulu kita." bisik salah satu tetangga, pada orang di sebelahnya.


"Saya ngeri lihat rumahnya, kalau ngepel sama nyapu apa selesai dalam sehari?" celetuk salah satu dari mereka lagi.


Sementara Alkan, si Bapak Penghulu itu berkali kali menghela napas pelan. Di kala semua orang mengagumi keadaan tempat yang mereka pijak saat ini, termasuk Sang Bunda. Alkan justru terus saja berzikir dalam hati, agar acara intinya nanti akan berjalan lancar, sesuai dengan rencana.


__ADS_1


MAS AL, MUNDUR DIKIT NAPA😭😭😭


__ADS_2