
Alkan menatap ramah pada si calon pengantin pria yang terlihat gugup, salah satu sudut bibirnya terangkat, Alkan bahkan teringat kembali pada kejadian beberapa minggu yang lalu, saat dia menikahi Cia secara dadakan.
Wajar saja kalau calon pengantin pria yang ada di hadapannya ini gugup, dia sendiri saja di serang tremor parah saat menikahi Grecia. Padahal Alkan tidak asing dengan suasana dan kondisi seperti ini, namun entah kenapa saat dia menikahi Grecia, gugupnya bertambah 10 kali lipat dibandingkan dia menikahkan.
"Calon pengantin laki lakinya sudah siap?" tanya Alkan tenang.
Kedua mata dark coklat si Bapak Penghulu menatap tajam pada si calon suami, sedangkan pria yang akan menyandang sebagai suami itu hanya mengangguk pelan, bahkan dia tidak berani menatap kedua mata si Bapak Penghulu.
"Balas tatapan mata Penghulunya, jangan biarkan kamu di intimidasi, nanti gugup kamu tambah parah." bisik seorang pria paruh baya, pada si calon pengantin pria.
Alkan yang masih mendengar bisik bisik tetangga mereka berdua hanya tersenyum tipis, bila kau tidak ingin gugup saat ijab kobul, balas tatapan tajam sang Penghulu yang akan menikahkan mu wahai para calon suami. Jangan biarkan si Bapak Penghulu meruntuhkan mental mu sebelum berperang.
"Baik, karena calon pengantin laki lakinya sudah siap, calon pengantin perempuan juga sudah tiba disini. Jadi marilah kita mulai saja acara intinya, Audzhubillahimina syaitonnirojim bismillahirrahmanirrahim-,"
Alkan terus saja merapalkan doa sebelum acara inti, doa keselamatan, doa kebahagian dunia dan akhirat untuk kedua calon suami istri itu.
Disaat Alkan menjalankan tugasnya dengan baik, dari arah meja tamu undangan sang istri terus saja menatap kagum pada Alkan.
Cia bahkan sampai menopang dagu, saat melihat betapa mempesonanya seorang Alkan Arthama Syarief saat ini. Walaupun di acara ini bukan hanya dia yang menatap Alkan penuh puja, masih banyak para mata gatal menatap suaminya begitu berminat, namun Cia masih bersabar.
Walaupun ingin rasanya Cia melemparkan sepatu flatt yang dia pakai kearah mata mata gatal itu, namun Cia menahannya sekuat tenaga. Bahkan Cia bisa mendengar bisik bisik tetangga para wanita muda dari depan dan belakang tubuhnya.
Ucapan mereka terdengar panas di kedua telinga Cia, bagaimana tidak panas, para wanita itu selain menatap penuh puja pada suaminya, mereka juga terang terangan berucap akan berlomba mendapatkan si Bapak Penghulu berlesung pipi, yang sudah menjadi hak patennya.
__ADS_1
"Lama lama ku sumpal sepatu juga tuh mulut." desis pelan Cia.
Dengan gemas Cia memakan lemper yang ada di hadapannya, perutnya sudah lapar tapi acara masih belum selesai. Bahkan Cia bisa melihat kalau Alkan sedari tadi terus saja melirik padanya lewat sudut mata.
"Hai! sendirian aja?" suara seorang pria, membuat Cia menoleh.
Wanita berkebaya peach yang tengah menikmati lemper itu terlihat menatap kesana kemari, Cia memastikan kalau orang ini berbicara padanya, bukan pada orang yang ada di sekitarnya.
"Kok diam sih? aku tanya loh." ucapnya lagi.
Bahkan pria itu dengan santai mendudukkan dirinya di sebelah kursi Cia, senyuman manisnya terus saja terpatri.
"Aku Arif, kamu siapa?" pria itu mengulurkan tangannya pada Cia.
"Grecia," ucap Cia singkat.
Bahkan wanita yang bergelar sebagai Nyonya Alkan itu, lebih memilih mengatupkan kedua tangannya di dada. Entah kenapa Cia tidak berminat untuk menerima uluran tangan si pria asing. Biarkan saja kalau pria ini menilainya munafik atau pun sebagainya, Cia tidak peduli.
Mungkin orang orang di sana juga berpikiran seperti itu padanya, karena tampilan dirinya saat ini belum sesempurna seperti para muslimah lainya, memakai hijab contohnya.
Cia memang memakai kebaya panjang, dengan rambut yang dia cepol sedemikian rupa. Dirinya belum berani memakai hijab secara permanen, Alkan juga bilang kalau memakai hijab itu harus tulus dari dalam hati dan itu karena Tuhan, bukan karena terpaksa.
Alkan tidak memaksanya, suaminya hanya berkata,
__ADS_1
'Mas memang ingin merubah kamu, tapi semua itu tergantung dari dalam hati kamu sendiri, kalau kamu sayang sama Mas, berhijab lah Sayang. Karena baik buruknya sifat kamu, mulai saat ini adalah tanggung jawabnya Mas di dunia dan akhirat nanti.'
"Sama siapa kamu kesini?" tanya si pria itu lagi, terdengar basa basi sekali.
Cia bahkan tersentak, wanita cantik itu kembali ke alam nyatanya. Cia menghela napas kasar, lalu menjawab apa adanya.
"Sama suami, tuh lagi nikahin calon pengantin." ucap polos Cia.
Namun terdengar seperti guntur dan petir di kedua telinga pria asing itu. Kedua matanya mengerjab cepat, si pria memutar kepalanya ke arah si Bapak Penghulu, hingga kedua pandangan mereka bertemu pada satu titik.
Alkan terlihat menatap pria asing itu datar, seolah mengatakan, 'menjauhlah dari Cimut ku'
Sementara Cia, dia belum menyadari kalau saat ini Alkan dan pria yang bernama Arif, tengah berperang batin lewat tatapan mata. Cia lebih memilih menggeser posisi duduknya agak menjauh, sembari kembali menikmati si lemper, isi abon sapi dan ayam.
**SENYUMIN AJA DULU
YUHUUUU JANGAN LUPA BUAT DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYYY MUUUUAAACCHHH**
__ADS_1