
"Silahkan di nikmati, Dok." ucap Cia basa basi.
Cia menyodorkan satu piring combro buatan dia dan Alkan tadi, walaupun Alkan yang banyak bergerak, Cia hanya diam dan menikmati. (Kenapa ambigu giniðŸ˜ðŸ˜)
Sementara Alkan, si Bapak Penghulu berlesung pipi hanya duduk tenang di sisi Cia. Salah satu tangannya, berada di belakang tubuh sang istri, kalau di lihat dari arah depan, dia seolah memeluk wanita yang tengah menikmati combro buatannya.
"Combronya enak, kalau Cici beli di pinggir jalan gak enak. Buatan Mas Al enak, besok buatin lagi ya." ucap Cia, wanita itu terlihat begitu antusias.
Cia memakannya dengan lahap, tidak peduli dengan tatapan si Bu Dokter yang ada dihadapan mereka saat ini.
Bahkan Alkan terlihat menyunggingkan senyuman tipis, sembari mengacak rambut Cia dengan gemas. Salah satu tangan Alkan terulur, untuk membersihkan noda combro di ujung bibir sang istri.
Tindakan Alkan itu membuat Cia mendongak, kedua mata abu abu bening itu mengerejab cepat. Bahkan kedua sudut bibir Cia sudah terangkat, membentuk senyuman lebar.
Cia sedikit terkejut dengan perlakuan si Bapak Penghulu tercintanya, tapi sepertinya bukan hanya Cia yang terkejut di sini, Elina pun terlihat membatu di tempat, kala melihat Alkan menyeka lembut bibir wanita di hadapannya.
__ADS_1
Alkan yang dia kenal anti menyentuh seorang wanita, kini tanpa beban sedikit pun memberi perlakuan manis pada seorang wanita. Perlakuan yang selama ini menjadi angan angan bahkan mimpinya.
Jadi, apa dirinya sudah terlambat, pria pujaan yang dia inginkan selama ini, sudah berstatus sebagai suami orang. Apa ada kesempatan dia, untuk mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alkan.
Elina terdengar berdehem pelan, wanita berambut panjang itu, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Jadi ini buatan Mas Alkan? aku kira buatan istri Mas. Tapi gak aneh sih, Mas Alkan terbiasa membantu Bunda di dapur, jadi masakannya pasti enak." sindir halus Elina.
Secara tidak langsung Elina memojokkan Cia, mencap si Nyonya Alkan tidak bisa bergulat di dapur. Elina tidak tahu saja, jangankan cuma di dapur, bergulat di kamar saja Cia sudah lihai.
Si Bapak Penghulu lebih asik, memainkan rambut panjang berwarna coklat asli milik sang istri. Rambut Cia memang aslinya berwarna coklat, tidak hitam seperti orang kebanyakan. Mungkin karena faktor keturunan dari gen sang Papi, yang berdarah luar.
"Saya memang tidak bisa memasak Dok," ujar jujur Cia.
Cia memang tidak terlalu pandai memasak berbagai macam makanan, hanya beberapa saja. Untuk makanan yang berbumbu rempah komplit, Cia menyerah.
__ADS_1
"Sayang ya, padahal Mas Alkan suka sekali makan di rumah, dari pada makan di luar." sindir Elina lagi.
Elina menyunggingkan senyuman remeh pada Cia, walaupun samar tapi Cia masih bisa melihatnya. Dengan tenang, si Nyonya Alkan malah menyandarkan kepala di pundak Sang suami, bahkan Cia terdengar bergumam pelan.
"Cici gak bisa masak, Mas Al marah gak?" tanya pelan Cia.
Bahkan wanita berkulit putih itu, menampilkan wajah tak berdaya. Salah satu tangan Cia memainkan kancing kemeja, yang tengah di pakai oleh Alkan.
Alkan tersenyum tipis mendengar gumaman Cia, istrinya terlalu pandai bersandiwara di depan Elina. Cia bahkan mencari kesempatan untuk membakar sesuatu yang ada di dalam diri Elina.
"Tidak apa apa Cimut, Mas kan mencari istri bukan koki. Kalau kamu tidak bisa memasak untuk Mas, Mas yang akan memasak untuk kamu." ucap lembut Alkan, tanpa beban sedikit pun.
Ucapan lembut yang menjadi hantaman keras untuk seorang wanita, yang tengah menatap tak berkedip pada Alkan.
__ADS_1
ADUH MAMAE SUAMI ORANG, MAKIN BIKIN KETAR KETIRðŸ˜ðŸ˜