
"Hari ini, Mas tugas kemana?" tanya Cia.
Kedua tangan Cia sibuk memasangkan satu persatu kancing kemeja, yang saat ini tengah di pakai oleh Alkan.
"Sepertinya hari ini Mas gak ada tugas lapangan, Mas akan seharian di kantor KUA." jawab pelan Alkan.
Salah satu sudut bibirnya terangkat, kala melihat sang istri sudah selesai mengancingkan kemejanya.
"Terimakasih Cimut," ujar lembut Alkan.
Salah satu tangan Bapak Penghulu berlesung pipi itu mengusap lembut pucuk kepala Cia.
"Gak ada upah?" ucap Cia berharap.
Kedua mata abu abu beningnya, mengerejab lucu pada Alkan. Bahkan Cia mati matian menahan senyuman, kala melihat wajah bingung sang suami.
"Kiss nya mana?" pinta Cia lagi penuh harap.
Alkan tidak kuat lagi untuk menarik kedua sudut bibirnya, pria berlesung pipi itu mengangguk paham. Satu tangannya menarik kepala belakang Cia.
Cuppp
__ADS_1
Satu kecupan dalam dan cukup lama, Alkan berikan di dahi sang istri. Bahkan pria berlesung pipi itu sampai memejamkan kedua mata, kala menghirup dalam wangi sampo yang menguar dari rambut Cia.
Sementara Cia, si Nyonya Alkan terlihat tersenyum masam, kala apa yang dia bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal Cia berharap kalau Alkan akan mengecup bibirnya, lalu memberikan morning kiss yang begitu hot, sampai dia tidak ingin melepaskannya.
"Udah kan," ujar pelan Alkan, sembari menyudahi kecupannya di dahi sang istri.
Namun saat Alkan melihat wajah masam Cia, kedua alisnya bertautan. Si Bapak Penghulu menatap bingung pada Si Cimut, kenapa istrinya malah merengut? padahal dia kan sudah memberikan apa yang diinginkan oleh Cia.
"Kenapa cemberut, hm?" tanya Alkan lembut.
Satu tangan Alkan terulur untuk mengusap kerutan di sisi bibir Cia, bahkan sadar atau tidak, ibu jari Alkan perlahan mengusap bibir bawah Cia dengan lembut.
"Bukan kening." protes Cia.
"Kenapa kening, kan berharapnya bibir." gumam pelan Cia.
Bahkan wanita itu, terlihat menghela napas perlahan agar tenang, damai dan jangan emosi.
"Kata orang kalau suami mencium kening, itu adalah cara dia mengungkapkan rasa sayang dan cintanya, tanpa naf*su." ucap pelan Alkan.
Entah sejak kapan Alkan sudah berdiri dibelakang tubuh Cia, bahkan Cia pun tidak menyadari sama sekali. Wanita itu terlalu sibuk menggerutu pelan, dari pada fokus pada sekitar.
__ADS_1
"Jadi Mas cuma ingin kamu tahu, rasa sayang dan Cinta Mas sama kamu, bukan hanya karena naf*su. Tapi tulus dari dalam sini, kalau Mas mencium yang lain, apa kamu bisa menjamin itu bakalan selesai dalam waktu lima men-," ucapan Alkan terputus, kala bibirnya di bungkam oleh Cia, menggunakan bibir tipis semerah cherry nya.
Alkan masih terdiam, dia tidak melakukan apa pun. Alkan membiarkan Cia menggigit serta mengecap lembut bibirnya.
"Kalau ciuman kening tadi, sebagai tanda kasih sayang sama cinta seorang Alkan untuk Cimut, ciuman bibir yang Cimut kasih tadi juga sama, sebagai tanda sayang dan cintanya, yang tulus tanpa tapi, hanya untuk seorang Alkan Arthama Syarief, si Bapak Penghulu ganteng." balas Cia.
Bahkan dengan genit, wanita itu mengerling nakal pada Alkan. Cia bahkan dengan berani, menyeka bibir bawah Alkan yang basah karena ulahnya.
"Berkedip, Mas." ucap jahil Cia.
Alkan tersenyum, bahkan tergelak kecil melihat kejahilan sang istri. Dengan gemas Alkan segera mendekap Cia, bahkan si Bapak Penghulu memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Cia.
"Nanti siang, Mas ingin makan masakan buatan kamu," ujar lembut Alkan di sela sela kecupannya.
Cia mendongak mendengar ucapan Alkan, wanita itu mengangguk lalu tersenyum manis pada suaminya.
"Oke, nanti Cici antar makan siangnya ke kantor. Kantor KUA nya yang ada di sebelah kantor kecamatan kan?" tanya Cia.
"Iya, nanti kalau gak ketemu kamu telepon Mas saja, oke." sahut Alkan pelan.
Pelukan keduanya semakin erat, kala Cia menganggukkan kepalanya semangat. Sepasang pengantin baru itu, terlihat begitu menikmati hari hari indah mereka, semoga saja tidak akan ada hal yang mengejutkan kedepannya.
__ADS_1
INGIN KU KARUNGIN DIRIMU