
Perlahan kedua netra abu abu bening itu mengerejab, Cia mengerutkan dahi kala merasakan pening menyerang kepalanya.
Dahinya semakin berkerut kala melihat tubuhnya berbaring di sebuah tempat tidur. Kedua mata Cia mengedar liar menelisik ke setiap sudut ruangan, wanita itu mendes*ah lega saat menyadari kalau ini masih ruangan Alkan. Tapi kenapa dia berada di atas tempat tidur? kemana suaminya? dan kemana yang lain?
Cia segera bangun, dengan perlahan dia turun dari atas tempat tidur. Kedua matanya berkaca kaca, siap menumpahkan kristal bening yang sudah terkuras habis sejak tadi.
"Mas Al sama Bunda kemana? kenapa ninggalin Cici sendiri." pecah sudah tangisan Cia.
Pikiran buruk kini sedang menguasainya, pikiran buruk tentang Alkan. Kemana mereka membawa suaminya? kenapa mereka meninggalkan dia sendiri di sini?
Clek
Pintu kamar mandi terbuka, atensi Cia beralih. Wanita itu menyeka air matanya kasar, namun ternyata cairan bening tidak tahu diri itu terus saja mengalir.
"Cici, kamu udah bangun. Kenapa nangis lagi, nanti kalau Bang Gala tau dia bisa marah." ucap Crystal yang baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Sang Nyonya Galaska segera menghampiri adik iparnya, Crystal memeluk Cia erat. Wanita milik Galaska itu mencoba menenangkan Cia, agar berhenti menangis.
"Udah jangan nangis, nanti si kembar ikut nangis kalau Bundanya cengeng." ucap Crystal menenangkan.
"Mas Al kemana, Kak." lirih Cia.
Crystal belum menjawab, dia malah terlihat menghela napas pelan sembari mengusap lembut punggung Cia.
"Bang Gala bawa suami kamu ke dokter saraf, setelah dia sadar tadi." jelas Crystal.
Cia yang mendengar itu segera melepaskan dekapan kakak iparnya, dia menyeka air matanya berkali kali. Hatinya terus saja berucap penuh syukur pada Tuhan, karena sudah menyadarkan suaminya.
"Udah gak usah di pikirin, ada Abang sama ibu mertua kamu. Tadi Abang nyuruh aku buat nemenin kamu disini, ayo makan dulu tadi siang Abang beliin kamu sempol sama pecel lele. Susu nya jangan lupa kamu minum ya, ada di nakas. Ingat ada tiga nyawa di dalam sini, kasihan mereka kan kalau gak makan." tutur Crystal.
Crystal membawa Cia duduk di sofa, perlahan wanita milik Galaska itu membuka styrofoam berisikan nasi serta pecel lele untuk Cia.
__ADS_1
Walau berat hati, Cia tetap memakan semua itu demi ketiga buah cintanya. Jangankan menikmati, untuk menelan nasi saja rasanya susah sekali untuk Cia lakukan. Pikirannya saat ini terus saja tertuju pada Alkan- suaminya.
Kalau bukan karena mereka bertiga, Cia tidak akan mau menelannya. Namun karena dia tidak mau menjadi ibu yang egois, Cia memakan nasi pecel lele, sempol serta dua buah susu kotak khusus untuk ibu hamil yang di belikan oleh Crystal.
Hingga saat suapan terakhir, suara pintu terbuka membuat gerakan tangannya terhenti. Kedua netra abu abunya menatap sendu ke arah pintu masuk, air matanya kembali mengalir saat melihat Galaska tengah mendorong Alkan di atas bankar rumah sakit.
Cia melupakan makanannya, wanita itu segera bangkit menghampiri suaminya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Mas Al?" panggil Cia pelan.
Satu tangannya terulur untuk menyentuh pucuk kepala sang suami, perlahan kedua mata Alkan terbuka membuat senyuman sendu Cia terbit. Tangan Cia segera meraih tangan Alkan yang terasa mulai menghangat, dengan penuh rasa haru Cia mengecupi seluruh punggung serta telapak tangan Alkan.
"Kamu siapa?"
Kedua mata Cia yang tadinya terpejam seketika membulat, bahkan secara reflek dia memegangi perut bagian bawahnya yang tiba tiba berdenyut sakit.
__ADS_1
MAKAN YANG BANYAK CI