Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Tertangkap


__ADS_3

Alkan menatap serius pada Galaska, pria berlesung pipi itu memasang telinganya baik baik kala sang kakak ipar berbicara.


"Pelakunya sudah berada di kantor polisi sekarang," ujar Galaska santai.


Pria berambut ikal itu melirik pada Cia yang masih mendiamkannya, si calon ibu muda itu lebih menikmati potongan buah alpukat yang di berikan oleh ibu mertuanya. Sudah hampir dua hari ini Cia mengabaikan kedua pria itu, Cia tidak berbicara atau pun menyapa mereka berdua.


Si ibu hamil lebih banyak berinteraksi dengan Bunda Marwah dari pada Alkan, begitu pun saat Galaska- Abangnya menjenguk Alkan seperti sekarang, Cia akan mendiamkannya dan lebih banyak berbicara dengan Crystal.


"Cici masih marah?" bisik Galaska.


Jujur dia merasa tidak nyaman saat di di amkan oleh adik semata wayangnya, Cia yang biasanya banyak bicara kini diam seperti patung hidup.


Alkan menghela napas kasar, lalu mengangguk lemah. Semenjak kemarin dan semalaman Cia tidak ingin berbicara dengannya, Alkan benar benar kapok sudah menuruti rencana sesat Galaska, hingga membuatnya tersesat seperti ini.


"Bocah itu kalau sudah marah mulutnya langsung di kunci, ya sudah kita pulang dulu. Mungkin nanti malam kalau gak besok pagi Mami sama Papi pulang, ingat kalau udah sembuh cepat ke kantor polisi." ucap Galaska sembari menepuk pundak adik iparnya.


Setelah berpamitan pada Alkan dan Bunda Marwah, Galaska dan Crystal keluar dari ruang rawat Alkan. Bahkan saat pria bermulut syaiton itu mendekat bahkan berpamitan pada Cia, adiknya itu malah membuang muka.


Galaska hanya bisa tersenyum kecut, dia memaklumi kalau Cia marah padanya.


Dan kini setelah Galaska serta Crystal pergi, giliran Bunda Marwah yang pamit untuk pergi ke supermarket yang ada di dekat rumah sakit. Wanita paruh baya itu beralasan ingin membeli sesuatu, kalau dia tidak paham dengan keadaan ini, mungkin Alkan dan Cia akan terus diam seperti ini hingga besok.


"Cimut?" panggil lembut Alkan.


Pria yang masih memakai perban di kepalanya, terlihat mendekat pada Cia yang tengah duduk di atas kursi sembari menerawang ke arah luar jendela. Dengan cepat Alkan merengkuh tubuh sang istri erat, tidak ada perlawanan dari wanitanya membuat Alkan semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Alkan akan lebih suka kalau Cia marah atau mengomel padanya, dari pada diam seperti ini.


"Sayang, maafkan Mas yang sud-,"


"Mas Al, mau ninggalin Cici," lirih Cia.


Satu tangan Cia menyeka air matanya kasar, entah kenapa rasa sesak kembali menghampiri hatinya saat ini.


"Enggak! siapa yang mau meninggalkan kamu?" sahut Alkan cepat.


Pria berkaos putih itu memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan istrinya, Alkan bahkan berjongkok di hadapan Cia. Kedua tangan besarnya meraih kedua tangan Cia yang tengah menyeka lelehan air matanya.


"Tolong jangan menangis," pinta Alkan bersungguh sungguh.


"Mas Al, yang bikin Cici nangis," sahut Cia serak.


"Maafkan Mas ya, Mas harus apa biar kamu gak nangis lagi." bujuk Alkan.


Dengan penuh rasa sayang, Alkan menyeka air mata serta air hidung Cia menggunakan ibu jarinya tanpa risih sedikit pun.


"Kamu mau sempol? atau mau mie ayam, bilang aja Cimutnya Mas mau apa. Apa besok kalau Mas sudah pulang dari sini kita bakalan pergi ke persawahan sama perkebunan, sesuai janji Mas waktu itu." Alkan terus saja membujuk bidadarinya, agar berhenti menangis serta merajuk.


Namun apa yang Alkan dapatkan, pria berlesung pipi itu hanya mendapatkan gelengan kepala dari Cia, membuat Alkan kembali menghela napas frustasi.


"Terus kamu mau apa, hm?" tanya Alkan penuh kesabaran.

__ADS_1


"Cium," cicit Cia.


"Apa?" tanya Alkan pelan, bahkan pria itu harus mendekatkan telinganya pada Cia.


Wanita itu berdecak, lalu sedikit mendorong bahu suaminya agar menjauh.


"Tau ah, yang kebenturkan kepala bukan telinganya Mas Al, masa gak denger udah deket kayak gini juga. Udahlah Cici mau tidur, awas ih Mas Al tidur di ranjang sendiri." rajuk Cia.


Bukannya shock atau pun marah, Alkan malah terlihat mengembangkan senyum. Entah kenapa hatinya bahagia saat mendengar ocehan Cia sudah kembali lagi.


"Aaahhkk!" pekik Cia, kala tubuhnya di rengkuh erat oleh Alkan.


Bahkan suaminya itu membubuhkan banyak kecupan ringan nan basah di seluruh permukaan wajahnya, tanpa terlewat satu pun. Bahkan Alkan memberikan kecupan dalam serta lama di bibir tipis Cia, yang mulai normal tidak sepucat kemarin.


"Tidur yuk Sayang, Mas bakalan menemani kamu." ujar Alkan lembut, sembari mengecup gemas pelipis serta rahang istrinya.



**SENYUM MU MAS AL


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART MUUAAACCHH**


__ADS_2