
Alkan memarkirkan sepeda motornya di teras, si Bapak Penghulu terlihat meraih jaket yang terlampir di stang motor. Jaket yang di pakai oleh Cia tadi, sedangkan boneka? benda imut itu Alkan biarkan bersama Cia.
Kedua sudut bibirnya terus saja terangkat, bahkan saat dia sudah memasuki rumahnya. Bunda Marwah yang sedari tadi menunggunya pun, tidak Alkan lirik.
Si Bapak Penghulu tengah larut didalam dunianya sendiri, entah kenapa senyuman di kedua sudut bibirnya tidak juga surut, kala mengingat gadisnya.
"Ekhem!" suara deheman keras Bunda Marwah, membuat Alkan sedikit tersentak.
"B-Bunda? Bunda ada di sini?" tanya Alkan kikuk.
Ternyata Si Bapak Penghulu bisa gugup juga, apa mungkin saat dia menikahkan para calon pengantin, Alkan juga gugup? atau bahkan biasa saja.
"Bunda sudah di sini dari tadi, waktu kamu senyum senyum sendiri Bunda sudah di sini." sahut Bunda Marwah sedikit kesal.
Kesal karena sang Putra ternyata benar benar, tidak menyadarinya sedari tadi. Wanita berciput hitam itu bangkit dari duduk, kedua mata Bunda Marwah masih memindai Alkan penuh selidik.
"Kalau sudah tidak tahan, nikahi saja! bukan cuma bisanya menikahkan." ucap santai Bunda Marwah.
Wanita paruh baya itu berlalu pergi, meninggalkan Alkan yang masih termenung. Alkan terlihat masih mencerna ucapan sang Bunda.
__ADS_1
'Nikahi saja'
Kedua mata Alkan mengerejab cepat, kala otak cerdasnya sudah mampu menangkap maksud atau arti dari ucapan Sang Bunda.
"Bun? maksud Bunda apa? Bun jangan tidur dulu, Bunda?" Alkan terus saja memanggil sang Bunda.
Bahkan saat melihat Bunda Marwah ke dapur pun, Alkan terus saja membuntuti layaknya anak ayam.
"Kamu itu S2 loh, masa gak paham." cibir Sang Bunda.
Alkan menghentikan langkahnya, kedua sudut bibirnya terangkat. Bahkan si Bapak Penghulu segera memeluk tubuh sang Bunda.
"Jadi, Bunda sudah merestui kami?" tanya Alkan pelan.
"Kamu benar Nak, tidak semua yang terbuka itu kotor. Bahkan sepertinya dia lebih bersih dari yang kita kira, maaf Bunda sudah egois sama kamu." ucap Bunda Marwah penuh sesal.
"Jadi Bunda mau menerima Cici?" tanya Alkan lagi.
"Iya! Bunda sudah merestui hubungan kalian, dan Bunda harap kalau kalian bisa segera menikah. Bunda tidak mau ada fitnah tentang kamu dan Cici, apa lagi para tetangga dan orang yang kenal sama kamu, sudah tahu kalau si Pak Penghulu jomblo ini, sudah punya pawangnya." lanjut Bunda Marwah lagi, bahkan sekarang wanita paruh baya itu sedikit menggoda sang putra.
__ADS_1
Alkan segera meraih kedua tangan sang Bunda, dan mengecupinya lembut. Alkan tidak tahu harus apa lagi saat ini, hatinya terlalu bahagia. Ternyata Tuhan bisa secepat ini mengabulkan doa doanya, Alkan meminta pada Tuhan agar bisa melunakkan hati sang Bunda.
"Ternyata calon menantu Bunda itu, bisa memelintir tangan orang." ucap Bunda Marwah lagi.
Wanita paruh baya itu kembali teringat, dengan kejadian di pasar tadi pagi. Bahkan Bunda Marwah melupakan sakit yang dia derita selama ini demi mengejar Cia, yang tadi mengejar pencopet sendirian.
"Bunda bahkan lupa kalau lagi sakit, padahal kata Dokter Eli, Bunda kan gak boleh capek. Tapi Bunda kuat waktu ngejar Cici, sambil gandeng ibu hamil yang kecopetan." Bunda Marwah terus saja menceritakan semua kegiatan dia dan Cia hari ini.
Dari mulai Cia yang selalu di lirik oleh para mata pria lain, sampai adegan pencopetan itu.
Bunda Marwah terlihat sedikit kesal, kala menceritakan saat Cia banyak di lirik pria dan ibu ibu yang memiliki anak bujang. Mereka terlihat begitu menginginkan gadis itu tadi, menginginkan Cia untuk menjadi milik mereka. Sedangkan Alkan, si Bapak Penghulu lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik saat ini. Alkan bahkan menopang dagu, sembari tersenyum tipis mendengar cerita sang Bunda.
'Akhirnya.' lirih hati Alkan.
**KALO OTHOR DI TATAP TIAP PAGI KAYAK GINI SAMA ALKAN, KAGAK BISA BANGUN DAH SERET LAGIðŸ˜ðŸ˜
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYY MUUAAACCHH**