Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Pulang


__ADS_3

Cia terus saja menatap pagar rumah Alkan, Bunda Marwah melarang dia pulang sendiri. Wanita berhijab itu menyuruh Cia untuk menunggu Alkan, entah kenapa Cia merasa kalau si Calon Ibu Mertuanya itu terkesan posesif padanya.


Cia terus saja mengotak atik ponsel, hingga tidak lama sebuah motor trail masuk ke area rumah Alkan. Cia mengangkat wajahnya, bibir tipis semerah Cherry itu, mengembang kala melihat siapa yang datang.


Bahkan gadis itu segera bangkit dari duduk, kala melihat orang yang sedari dia tunggu tengah berjalan kearahnya. Sudah terlihat seperti seorang istri, yang menyambut kepulangan suaminya belum? rasanya sudah, bahkan Cia tidak menyurutkan senyuman kala Alkan membuka helm full face nya.


"Mas Al ud...," ucapan Cia terpotong.


"Tunggu sebentar ya, saya mau mandi dulu, setelah itu kita pulang." ucap lembut Alkan memotong ucapan Cia cepat.


Dahi gadis cantik itu mengerut, kala mendengar ucapan si Bapak Penghulu gantengnya. Kenapa Alkan tahu, kalau dia ingin diantar pulang? apa mungkin di rumah ini ada alat penyadap suara dan gambar.


Cia menganggukkan kepala, gadis itu menatap punggung lebar Alkan yang terbalut kemeja hitam. Entah kenapa biarpun penampilan Alkan acak acakan, bahkan kemeja hitam yang dia pakai sudah lusuh, namun aura si Bapak Penghulu masih di atas rata rata.


"Sekali sekali minta di sikat kayaknya nih otak, kenapa melenceng terus sih." gumam Cia pelan.


🕊


🕊

__ADS_1


🕊


Cia menatap ragu pada motor yang akan di naiki nya, bukan karena malu naik motor. Tapi karena ukuran jok motor Alkan sedikit pendek, dia tidak yakin kalau nanti tubuhnya tidak menempel pada punggung lebar sadaranable, milik si Bapak penghulu ganteng.


"Pakai helm sama jaketnya!" ucap Alkan.


Pria berlesung pipi itu memberikan sebuah jaket pada Cia, dan memasangkan helm full face yang biasa dia pakai. Karena di kediaman Alkan tidak ada helm lagi, jadi si Bapak Penghulu lebih mementingkan keselamatan si Cimutnya, sesuai dengan janji dia pada si calon bapak mertua.


"Mas Al gak pakai helm?" tanya Cia kala melihat Alkan, memasangkan helm full face itu di kepalanya.


Helm yang cukup kebesaran serta berat itu, membuat Cia harus menyeimbangkan kepalanya agar tidak oleng. Kini yang terlihat hanya kedua mata indah Cia, bahkan Alkan terkekeh kecil melihat penampilan si Cimutnya. Menggemaskan, terlihat seperti ikan teri pakai helm, pikir Alkan.


Wanita berkerudung hijau lumut itu, memberikan sebuah boneka beruang pada Alkan. Dahi Cia berkerut kala melihat boneka lucu itu, kenapa calon Ibu Mertuanya malah memberikan boneka pada Alkan.


"Boneka itu buat jadi satpam kalian, letakkan dia di punggung Alkan. Biar kalian gak bisa nempel, kalau cuma pegang pundak mah gak masalah. Udah sana, keburu sore!" lanjut Bunda Marwah lagi, terdengar seperti mengusir secara halus.


"Kita berangkat ya Bun, Assalamualaikum." ucap Alkan, sembari meraih tangan sang Bunda dan menciumnya takzim.


Begitu pula dengan Cia, dengan lembut dia meraih tangan kanan Bunda Marwah, lalu menciumnya takzim walaupun terhalang helm.

__ADS_1


"Cici pulang dulu ya, Bu." ucap Cia.


"Iya, hati hati! jangan kapok kalau saya bawa ke pasar lagi ya," ujar Bunda Marwah.


Cia yang mendengar ucapan calon Ibu Mertuanya hanya mengangguk, otaknya masih mencerna apa yang di ucapkan oleh Bunda Marwah.


'Jangan kapok', apa berarti di lain waktu, dia akan di ajak kesini lagi oleh Alkan? Cia diam diam mengulum senyum di balik helm full face, yang dia pakai saat ini.


Bahkan Cia dapat menghirup rakus, aroma pomade rambut yang biasa di pakai oleh Alkan, dari dalam helm.


Alkan menaiki motor terlebih dahulu, kemudian si boneka beruang dan yang terakhir adalah Cia. Gadis berambut panjang itu memegang ujung jaket, yang dipakai oleh Alkan.


Tin!


Suara klakson motor mengawali perjalanan mereka, Bunda Marwah pun berseru kembali untuk memperingati Alkan, agar hati hati.


"Waalaikumsallam, hati hati!" seru Bunda Marwah.


__ADS_1


MAS AL, LAGI OPO KOE MEGANGIN SANDAL JINJIT CICI


__ADS_2