Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Gak Perlu Tebal Dompet, Yang Penting Tebal Telinga


__ADS_3

"Ini udah semua?" tanya Bunda Marwah.


Wanita berhijab violet itu, terlihat kembali mengecek kotak nasi yang akan di bawa oleh Cia. Siang ini Bunda Marwah ikut bersama sang menantu mengantar makan siang sang putra. Walaupun Cia sudah melarang Ibu Mertuanya ikut, karena takut kelelahan, tapi Bunda Marwah tetap kekeuh pada pendiriannya . Cia sudah mengetahui penyakit yang di derita oleh sang Ibu Mertua dari Alkan, dan Cia akan lebih menjaga Bunda Marwah agar selalu stabil.


"Bunda yakin mau ikut Cici, di luar panas loh. Nanti kita juga harus jalan ke depan pemukiman buat nunggu angkot, Cici gak mau Bunda capek." bujuk Cia lembut.


Namun sepertinya tidak di hiraukan oleh sang Ibu mertua. Bunda Marwah lebih memilih untuk meraih tasnya, lalu berjalan mendahului Cia.


"Ayo berangkat, kamu pikir Bunda udah gak kuat jalan," ujar Bunda Marwah sedikit kesal.


Cia dan Alkan sama saja, mereka berdua terlalu protektif mengkhawatirkannya. Padahal Bunda Marwah merasa kalau akhir akhir ini dia selalu merasa sehat dan bugar. Apa lagi setelah Alkan dan Cia menikah, walaupun mereka belum menikah secara negara, tapi rasanya beban di dada hilang seketika.


Cia menghela napas kasar, dia tidak bisa berbuat apa apa lagi saat Ibu Mertuanya sudah keras kepala seperti ini.


πŸ•Š


πŸ•Š


πŸ•Š


Cia terus saja merangkul lengan Ibu Mertuanya, tanpa berniat melepaskannya sedetik pun. Senyuman ramah Cia terus saja mengembang, kala berpas pas'an dengan warga penghuni pemukiman tempat tinggalnya saat ini.


Bahkan Cia terus saja tersenyum, walaupun ada beberapa warga enggan membalas senyuman ramahnya, bahkan ada pula yang menatap sinis kearahnya, saat Cia tersenyum.


"Biarin aja, jangan di ambil hati. Jangan senyum terus, nanti anak Bunda cemburu kalau tau." ucap Bunda Marwah tiba tiba.

__ADS_1


Cia yang sedari tadi terus saja tersenyum, segera melunturkan senyumannya. Kedua tangannya semakin mengerat di lengan Ibu Mertuanya, persis seperti anak perempuan yang tengah berjalan bersama sang Ibu, bukan terlihat seperti anak menantu dan mertua.


"Wah Mak Mar, mau kemana siang siang gini? mana panas lagi. Kenapa gak pesan ojek aja atuh Mak, ingat Mak Mar kan gak boleh kecapean nanti drop lagi." seru seseorang dari arah sisi Cia dan Bunda Marwah.


Seorang wanita paruh baya yang tengah memukuli kasur dengan kejam, Cia bergidik ngeri kala melihat pukulan berbahan rotan itu, menghantam keras si kasur.


"Mau ke kantor KUA, sekali sekali gak apa apa Bu Santi, biar sehat." sahut tenang Bunda Marwah.


Bahkan Cia dan Bunda Marwah harus menghentikan langkahnya kembali, saat mendengar Ibu Ibu berkonde besar itu berbicara lagi.


"Aduh Mak Mar, menantu Mak Mar ini katanya anak sultan. Tapi kok kendaraan aja gak punya, minimal mobil gitu kayak punya Bu Sarah. Kan kasihan masa Ibu Mertuanya suruh jalan, mana jauh panas lagi." ucapan nyeleneh si Ibu berkonde besar.


Bahkan terlihat sekali kalau dia menatap remeh pada Cia, wanita bernama Santi itu belum percaya kalau istri si Bapak Penghulu adalah anak orang kaya, seperti gosip yang tengah beredar saat ini.


"Memangnya kalau menantu saya anak sultan?apa di larang berjalan? kan sudah saya bilang tadi Bu Santi, biar sehat jiwa sama raga saya." balas Bunda Marwah.


"Haduh bukan gitu Mak Mar, cuma saya pingin lihat sendiri apa benar, istri Mas Alkan itu gadis kaya. Lebih dari anaknya Bu Sarah, yang dokter itu. Kalau benar, ya pantas aja Mas Alkan lebih memilih dia dari pada, Dokter Elina." celetuk Bu Santi.


Dan kali ini tepat mengenai hati serta perasaan seorang ibu, Bunda Marwah terlihat mendekat, bahkan wanita bergamis hitam itu mendekat kearah pagar rumah.


"Maksud Bu Santi apa ya? jadi secara tidak langsung Bu Santi menilai buruk tentang anak saya, Bu Santi berpikir kalau Alkan lebih memilih menantu saya, hanya karena harta?" sentak pelan Bunda Marwah.


Wanita beranak satu itu benar benar tidak menerima, semua tuduhan serta ucapan tetangganya pada sang putra.


"Perlu Bu Santi dan yang lainnnya ketahui, putra saya memilih seorang gadis bukan karena harta, tahta atau pun rupa, tapi karena hati serta akhlaknya. Bu Santi benar, menantu saya memang anak orang berpunya, tapi bukan itu alasan Alkan memilih dia dari pada gadis lain. Tapi ada sesuatu yang tidak di miliki gadis lain ada didalam dirinya-," Bunda Marwah menjeda ucapannya.

__ADS_1


"-tapi keikhlasan hati, Cici bahkan rela meninggalkan semua kemewahannya, demi hidup sederhana bersama Alkan dan saya. Menantu saya bukannya tidak mampu, membelikan saya mobil atau pun kendaraan lain, tapi itu karena saya yang melarang. Kalau saya berucap sombongnya nih, mohon maaf sebelumnya ya Bu Santi, keluarga besan saya bisa membeli separuh perkampungan ini. Tapi karena keluarga besan saya bukan orang kaya nanggung, jadi ya tidak perlu berkoar kalau mereka kaya raya." lanjut Bunda Marwah dengan santai.


Bahkan Bunda Marwah kembali mendekat pada Cia, dan merangkul lengan menantunya. Bunda Marwah terlihat puas, saat melihat keterdiaman wanita serba ingin tahu itu.


"Kamu pahamkan sekarang, kenapa Bunda maksa ikut. Hidup di kampung gak perlu dompet tebal, yang penting telinga sama hati kita yang tebal." bisik pelan Bunda Marwah pada Cia.


Namun kedua mata Bunda Marwah, tetap tertuju pada Bu Santi yang kicep, setelah mendengar ucapan balasannya tadi.


"Ngeri ya Bun, tapi apa benar disini ada orang kaya tapi nanggung?" tanya Cia pelan.


"Ada, nanti Bunda tunjukkin rumahnya. Ayo tinggalin, biarkan dia meresapi ucapan Bunda tadi. Keburu dingin nasinya nanti." ajak Bunda Marwah, dan segera di angguki oleh Cia.


"Pukul kasurnya lagi aja, kalau masih kesel mah, Bu." gumam pelan Cia, namun masih terdengar oleh Ibu Mertuanya.



**MAK MAR NGUPI DULU BIAR ADEM KAGAK ESMOSI


YUHUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


HARI INI AKU USAHAIN UP WALAUPUN CUMA 3 BAB


BATUK INI MENGGANGGU, GAK TERLALU KONSEN PAS NGETIK😭😭😭😭 JADI HANYA MAMPU 3 SAJA


DOAIN CEPAT SEHAT YA GAES

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYY MUUUAACCHHH**


__ADS_2