
Mobil Jeep hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi, si pengendara tidak peduli dengan raut wajah takut, yang saat ini tengah di tunjukan oleh Crystal.
Gadis cantik berkulit putih mulus itu, menggenggam erat sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Napasnya sedikit sesak, akibat rasa khawatir yang begitu berlebihan.
Tidak lama, mobil Jeep itu berhenti di sebuah jalanan sepi. Jalanan yang menjadi tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya, kedua mata Crystal menatap cemas.
"Turun!" titah pria, yang saat ini tengah melepaskan sabuk pengamannya.
Kedua tangannya terulur, untuk melepas paksa sabuk pengaman yang membelit tubuh gadis itu.
"Kau ingin pergi kan? turunlah, pergi sejauh mungkin! sekarang kau bisa kemana pun kau mau, keluar!" ucap dingin si pria, membuat Crystal menoleh.
"Ini dimana? aku tidak tahu tempat ini." ucap lirih Crystal, membuat pria berambut ikal itu mendengus kesal.
"Tolong turunkan aku ditempat ramai saja," ujarnya lagi pelan.
Kedua mata biru bening itu berembun, rasa takut mulai merasuki hati Crystal. Gadis itu menatap memohon, pada pria yang tengah menatap tak acuh padanya.
"Aku tidak peduli, keluar!" ucap kasar sang pria.
"Ta-tapi...,"
__ADS_1
"AKU BILANG KELUAR! KAU TULI HUH!" sudah habis kesabarannya, pria itu berteriak keras tepat di depan wajah Crystal.
Kedua mata biru bening itu mengerejab, perlahan cairan bening menetes di kedua pipinya. Crystal secepat mungkin keluar dari mobil, kedua matanya semakin memanas, kala melihat pria itu pergi meninggalkannya dengan tega.
"Aku harus kemana? kenapa dia tidak mau menurunkan ku di tempat ramai, agar aku bisa bertanya pada orang lain." gumamnya lirih.
Kedua matanya mengedar, menatap jalanan sepi, rimbun dan sedikit gelap karena terlalu banyak pepohonan.
π
π
π
Pria berambut ikal itu membanting pintu mobilnya sedikit keras, kedua rahangnya kembali mengetat kala mengingat gadis yang sudah menyusahkannya.
"Gavy? mana Crystal?" tanya Lovy tanpa basa basi.
Si Nyonya Nagara itu menatap penuh selidik pada sang putra, kenapa Galaska pulang sendiri? dimana Crystal?
"Sudah Gala antar ketempat asalnya," ujar Galaska santai.
__ADS_1
Bahkan pria berambut ikal itu melewati Lovyna begitu saja, otaknya terlalu lelah memikirkan gadis yang baru saja dia buang di jalanan.
"Maksud kamu apa? kamu bawa kemana Crystal? astaga Gavy! kenapa kamu jadi kejam gini sama perempuan!" ucap tidak percaya Lovyna.
Dia tidak menyangka kalau sang putra sekejam ini pada Crystal, gadis malang yang bahkan tidak ingat apa pun di hidupnya.
"Bukannya dia yang mau pergi dari rumah ini? Gala cuma bantu dia Mam, lalu dimana salahnya. Sudahlah Gala capek, mau mandi dulu." ucap santai Galaska membuat Lovyna semakin speechless dibuatnya.
Galaska dengan santai melenggang meninggalkan sang Mami, yang masih mematung di tempat. Kedua mata abu abu bening Lovy menatap tidak percaya pada punggung lebar sang putra. Padahal Lovy berharap kalau Galaska bisa membawa Crystal kembali ke rumah ini.
Gadis itu masih labil, wajar saja kalau Crystal ingin pergi dari rumah ini. Gadis itu pasti ingin sekali mengetahui asal usulnya yang sebenarnya.
Tiba tiba saja kedua mata Lovy berembun, wanita cantik itu menangis dalam diam. Dia tengah memikirkan nasib Crystal saat ini.
"Kenapa hati kamu keras sekali, apa kamu tidak bisa melihat tatapan rapuh gadis malang itu? kenapa Gavy nya Mami berubah seperti ini." lirih Lovyna.
Kalau saja Nagara sampai tahu Lovyna menangis, sudah dapat di pastikan kalau semua orang di rumah ini, tidak akan ada yang selamat dari amukannya.
Nagara yang posesif, selama puluhan tahun hidup bersama Lovyna, dia tidak pernah membuat Lovy menangis, dan kini wanitanya menangis karena Sang Putra dan Crystal.
__ADS_1
TEGA LU BANGππ