
Semua mata tertuju pada keluarga besar Cia, apa lagi para pria anggota keluarganya, mereka semua menjadi buah bibir ibu ibu dan anak gadis.
Hampir seluruh keluarga Cia hadir di kediaman besannya, termasuk para bodyguard. Bahkan ternyata Luan pun ikut serta kali ini, karena Crishtian berkunjung ke Indonesia, demi cucu kesayangannya.
Para bodyguard berbaris di sepanjang pintu masuk, dan itu membuat para warga kampung menatap tak berkedip ke arah mereka, termasuk Bu Sarah dan Elina yang baru sampai.
Ternyata Bunda Marwah juga mengundang mereka, mau bagaimana pun mereka masih bertetangga.
"Grandpa?" panggil Cia.
Wanita bergamis baby blue itu berlari kecil, menuju pria paruh baya yang terlihat masih sangat segar bugar. Bahkan kedua tangan Grandpa Crish sudah terbentang siap untuk memeluk cucu kesayangannya.
"Holla, how are you, baby?" tanya Grandpa Crish.
"Cici sehat, gimana kabar Grandpa? Grandpa sehatkan? Cici kangen sama Grandpa, pasti Grandpa di paksa sama Papi ya? Om Luan mana? Grandpa tau gak, Cici mau jodohin Om Luan sama Melody." Cia terus saja berbicara, tanpa memberikan kesempatan sedikit pun sang Grandpa menyelanya.
"Ayo duduk, Grandpa lelah mendengar kamu terus berbicara." keluh Grandpa Crishtian, berbicara menggunakan bahasa Indonesia, namun masih kental dengan logat asingnya.
Cia tergelak mendengar ucapan pria paruh baya itu, wanita itu melepaskan pelukannya. Lalu beralih pada Pace Ilham yang sudah berpura pura menatap ke arah lain.
__ADS_1
"Pace, Cici kangen sama Pace." rengek Cia tanpa malu.
Bahkan wanita yang sudah berstatus sebagai Nyonya Alkan itu, segera memeluk tubuh Ilham dengan erat.
"Opa kira Cici lupa," ujar pelan Pace Ilham, namun terdengar seperti sindiran halus.
Cia mengulum senyum mendengarnya, Pace Ilham sedikit cemburu kalau dia lebih dekat dengan Crishtian dari pada dengannya.
"Udah tua masih cemburuan, Cici kan tetap cucu cantiknya Pace. Ya biarpun, Om Raga udah ngasih cucu cewek juga, tapi Cici yang paling cantik." ucap Cia penuh percaya diri.
"Sudah jangan bicara terus, Opa mau duduk." ucap Pace Ilham singkat.
Pria paruh baya itu segera menuju kursi yang sudah di sediakan, duduk tepat bersisian dengan sang besan, Crishtian.
"Cici kangen sama Abang," ujar pelan Cia.
Wanita itu memeluk Galaska dengan erat, mau bagaimana pun pria bermulut cabai syaiton ini tetap Abang kesayangannya, yang tampan rupawan tapi menyebalkan.
"Abang gak kangen," ucap cuek Galaska.
__ADS_1
Bahkan pria berbatik pendek itu segera berjalan menjauh dari sang adik, Cia menahan kedua kakinya agar tidak berbuat bar bar saat ini. Kalau saja bukan di area acara, mungkin punggung atau kepala belakang Galaska, sudah menjadi target jurus sandal melayang Cia.
"Kak Bell? aduh Pangeran kamu makin hari makin ganteng aja sih. Di kasih maka apa sama Mommy kamu, Lora cantik banget sih pakai kerudung." Cia terus saja berceloteh.
Wanita itu tidak peduli dengan semua mata yang menatap kearahnya, bahkan Elina yang sedari tadi memperhatikan interaksi Cia dan keluarganya, terlihat tidak melewatkannya sedikit pun.
Tatapan Elina beralih pada Bunda Marwah yang juga tengah menyambut keluarga besannya, wanita bergamis couple dengan menantunya itu, terlihat bahagia hari ini.
Bahkan ternyata Alkan pun memakai kemeja dengan warna yang sama, pria berlesung pipi itu tengah mengobrol bersama Papi mertua dan kedua Kakek mertuanya. Senyuman ramah Alkan terus mengembang, kala para sepupu sang istri ikut menyapanya.
'Aku benci senyuman kamu, Mas.' gumam hati Elina.
Baru kali ini dia membenci senyuman pria itu, padahal dulu Elina begitu menantinya, senyuman yang tidak pernah tertuju untuknya, walaupun hanya sedikit.
***HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI?
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH***