
Hari-hari berlalu, minggu berganti bulan, bulan berganti dengan tahun. Tidak terasa si kembar tiga sudah berusia 4 tahun. Ketiganya tumbuh menjadi balita sehat dan pintar, bahkan Aisya yang tubuh secantik sang Bunda.
Kedua jagoan keluarga Syarief pun tumbuh menjadi para pria kecil yang tampan dan mengemaskan.
Arshaka tumbuh menjadi balita laki laki yang cerewet, serba ingin tahu, mudah bergaul, dan terkadang suka malu malu'in diri sendiri. Sedangkan Alzaska, dia tumbuh menjadi pria kecil yang sedikit pendiam, bicara seperlunya, tidak banyak tingkah, lebih suka membaca dari pada bermain, dan sedikit penyendiri.
Kedua wajah saudara kembar itu bahkan sangat identik sekali, namun tidak dengan sifat mereka berdua.
Sedangkan sang Bidadari kecil Ayah Alkan, tumbuh menjadi balita perempuan yang cantik, ramah, murah senyum, memiliki banyak teman, periang dan rendah hati. Aisya menjadi kesayangan kedua kakaknya, walaupun usia ketiganya hanya berbeda menit, tapi Aisya dan Aska begitu menghormati Shaka yang lebih tua dari mereka berdua.
"Abang dangan talik lambutna, nanti lontok boneta na bica botat." pekik Ais kala si jahil Sakha kembali menjahilnya.
Sementara Aska hanya menatap malas pada kedua saudaranya, pria kecil itu tidak ingin ikut campur, Aska lebih memilih menopang dagu sembari memperhatikan interaksi Ais dan Shaka.
"Bonekanya udah jelek, nanti minta ganti sama Padre," ucap Shaka enteng.
Shaka dan Galaska memang begitu dekat, apa lagi sampai saat ini Galaska dan Crystal belum di karuniai momongan, ketiga keponakannya lah yang selalu ada untuk mereka. Terutama Shaka, yang memang sedari kecil sudah terbiasa bersama Galaska dan Crystal saat Cia dan Alkan kerepotan.
"Huuuaaaa pala boneta Ais botat gala gala Abang, Tata Asta boneta Ais botat." adu Ais pada kakak keduanya. Ucapan Ais yang masih belum jelas karena cadel dan enggan mengucapkan huruf K, membuat Aska menghela napas pelan. Dia merasa ternistakan saat sang adik memanggilnya Asta bukan Aska.
__ADS_1
Aska mendekat, balita empat tahun itu segera meletakan buku gambarnya. Kedua kaki kecilnya semakin mengikis jarak dengan Ais dan Shaka.
"Udah jangan nangis, nanti kita beli rambut palsu buat boneka Ais. Ayo, Kak Aska ajarin kamu baca sama gambar." bujuk Aska.
Satu tangannya meraih lengan kecil sang adik, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang akan dia perlihatkan hanya pada keluarga terdekatnya.
"Abang, ayo nanti Bunda marah kalau Abang belum hapal huruf hijaiyah nya." ajak Aska.
Dengan malas putra pertama Alkan dan Cia itu meraih uluran tangan Aisya, namun kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat senyuman Ais. Mereka berdua memang selalu begitu, saling jahil dan menjahili. Berbeda dengan Aska yang lebih banyak diam dari pada menjahili kedua saudara kembar tidak seirasnya.
🕊
🕊
🕊
Pria beranak tiga itu mendudukkan diri di dekat Shaka dan Aska yang tengah sibuk dengan alat tulis mereka, kedua pria kecil itu tersenyum pada sang Ayah.
"Waalaikumsallam, kita lagi buat tugas dari Umi Fatimah. Kata Umi kita harus ngasih warna digambar huruf hijaiyah- Ayah." sahut Shaka antusias.
__ADS_1
Sedangkan Aska, balita yang usianya hanya berbeda 5 menit dengan Shaka ikut menganggukkan kepala. Guru paud mereka memberikan tugas rumah, saat ini Shaka, Aska dan Ais sudah bersekolah di paud A karena masih berusia 4 tahun.
Kegiatan mereka hanya bernyanyi, bersholawat, menggambar, menulis huruf serta angka, belajar menghapal huruf hijaiyah dan lainnya.
"Adek mana?" tanya Alkan.
Kedua matanya bergulir ke sana kemari mencari putri kecilnya yang cerewet, persis seperti Cia.
"Tadi lagi e'ek," celetuk Aska.
Alkan menoleh pada putra pendiam nya, satu tangan Alkan terulur membelai kepala Aska dan Shaka secara bergantian, lalu membubuhkan kecupan singkat di pucuk kepala kedua putranya.
"Ayah masuk dulu ya, nanti kalau sudah adzan ashar kalian masuk, lalu sholat." Alkan mengingatkan.
"Iya Ayah," sahut mereka berdua patuh.
Kedua sudut bibir Alkan terangkat, pria berlesung pipi itu bangkit dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
GAMBARAN SHAKA DAN ASKA KELAK, MAAF SUSAH NYARI VISUALNYA PAS UMUR 4 TAHUN MAH