
Cia menatap penuh selera pada makanan yang ada di hadapannya saat ini. Makanan yang dia buat bersama calon Ibu mertuanya, setelah berkeringat ria akhirnya kini Cia bisa menikmatinya juga. Walaupun lebih banyak tangan Marwah yang bekerja, tapi tidak masalah, toh tadi yang menggiling cabai serta bumbu lainnya, adalah Cia sendiri. Ingat di giling pakai cobek, bukan pakai blender.
Cia dan Marwah hanya membuat ayam goreng cabai hijau, capcai, ikan asin goreng juga lalapan, bahkan Cia tadi harus menggoreng kerupuk. Karena kata Marwah tadi, Alkan tidak bisa makan kalau tidak ada kerupuk, kenapa bisa begitu ya? kalau Cia sendiri disaat dia tidak bisa makan, bukan karena tidak ada kerupuk, tapi karena tidak ada makanan, baru Cia tidak bisa makan.
Sepertinya semua jenis makanan Cia doyan, asal halal, matang dan tidak busuk, pasti Cia lahap. Si gadis sempol tidak suka makanan? bisa kiamat dunia persempolan. Apa dia harus membuat prabrik kerupuk nanti, demi Mas Al tersayangnya.
"Kenapa cuma di lihatin? tidak berselera ya, lihat makanannya?" Marwah kembali bersuara, kala melihat Cia masih terdiam. Padahal dia dan Alkan sudah mengambil makanan masing masing.
Cia sedikit tersentak, gadis itu kembali ke alam sadarnya. Kedua mata Cia mengerejab, kala melihat tatapan Marwah padanya. Saking gugupnya, Cia bahkan hanya bisa tersenyum serba salah.
"Kenapa kamu melamun, Cimut? ayo makan!" ajak Alkan, bahkan pria berlesung pipi itu terlihat mengembangkan senyuman tipis padanya.
Alkan perlahan melahap makanan yang dibuat oleh tangan Cia sendiri, bahkan dengan lahap pria itu memakan kerupuk yang Cia goreng tadi, walaupun sedikit bantat, karena saat menggoreng minyaknya belum terlalu panas.
Cia membalas senyuman tipis Alkan walau terlambat, salah satu tangannya terulur untuk meraih nasi, capcay, ayam goreng sambal hijau, lalu berakhir di ikan asin goreng dan lalapan.
"Kamu suka ikan asin?" tanya Marwah.
Wanita paruh baya itu terlihat mengernyitkan dahi, melihat Cia meraih dua ekor ikan asin goreng.
"I-iya Bu, soalnya kalau di rumah Mace- maksudnya Nenek saya, ikan ini tidak asing lagi. Bahkan ini makanan kesukaan Pace- eh maksudnya Kakek." ucap Cia tenang, namun masih terlihat gugup.
__ADS_1
"Saya kira orang kaya tidak suka makan ikan asin, karena kata orang mereka itu suka nya makan daging wahyu." ucap Marwah apa adanya.
Alkan dan Cia bahkan sampai tersedak mendengar ucapan Marwah. 'Daging Wahyu'? daging jenis apa itu? kenapa namanya seperti Pak RT? mengerikan sekali.
"Wagyu, Bun. Bukan wahyu," ujar Alkan membenarkan.
Marwah terdengar berdecak kecil, wanita paruh baya itu menyuapkan kembali makanannya dengan tenang.
"Sama saja, cuma beda kolkolahnya." sahut Marwah tidak mau kalah.
"Beda Bun, Wagyu itu daging setengah matang, tapi kalau Wahyu, Pak RT kita." balas Alkan tidak mau kalah.
Cia yang sedari tadi hanya menyimak, terlihat menyunggingkan senyuman tertahan.
Entah kenapa wanita paruh baya itu, semakin kesiniĀ makin banyak bicara, pikir Cia.
"Ya sebenarnya Pace- eh Kakek Ilham orangnya sederhana, beliau lebih suka makanan rumahan, contohnya ikan asin. Tapi masih banyak lagi makanan rumahan yang disukainya, kayak tempe, tahu, toge, ikan laut, sayur asem, sayur lodeh, bahkan Pa- Kakek Ilham lebih suka makan sayuran. Karena kata Ma- Nenek, dulu pas waktu tugas Kakek Ilham jarang makan ikan dan daging." ucap Cia panjang lebar, membuat Alkan dan Marwah menatap padanya.
"Memangnya dulu, Kakek kamu kerja apa?" tanya Marwah penasaran.
Cia terlihat meneguk air putih, sebelum dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh si calon ibu mertua.
__ADS_1
"Eem- Gegana." jawaban singkat yang diberikan Cia, sanggup membuat Marwah menoleh pada Alkan.
"Gegana? anggota Brimob yang suka menjinakkan bom?" tanya Marwah lagi, kali ini terlihat begitu penasaran.
Cia menatap kikuk pada Marwah yang saat ini tengah menatapnya intens, salah satu sudut mata Cia melirik pada Alkan yang ada dihadapannya.
"I-iya Bu, kebetulan Kakek Ilham yang jadi tukang jinakinnya, sekalian jinakin hati Ma- Nenek Reina juga." ucap Cia, bahkan gadis itu tersenyum namun terlihat serba salah, entah kenapa.
Apa mungkin ada yang salah dengan ucapannya? kenapa calon Ibu Mertuanya terus saja menatap tidak berkedip padanya.
"Besok temani saya ke pasar ya, jam 7 pagi kita berangkat. Biar bisa dapat sayuran segar sama murah, kalau ke pasar langsung." ucap Marwah, keluar dari jalur pembicaraan mereka tadi.
Cia terlihat berkedip cepat, perlahan dia menatap pada Alkan yang terlihat menyugar rambutnya kasar.
"I-iya Bu, besok saya antar Ibu ke pasar, jam 7 pagi, oke saya siap," ujar yakin Cia.
Dan itu membuat Alkan menghela napas kasar, saat ini Alkan berharap kalau Cia akan tahan dengan perintah sang Bunda, yang terdengar makin aneh.
'Bertahanlah, Cimut.' gumam Alkan dalam hati, sejujurnya dia tidak tega kala melihat wajah cantik itu, menatap bingung pada dia dan sang Bunda.
__ADS_1
MAS AL: SABAR YA CIMUT